Jakarta (SI ONLINE) – Rupanya masih ada di negeri ini pejabat yang berpikir sehat dan jernih. Wakil Ketua DPD RI, La Ode Ida contohnya. Legislator dari Sulawesi Tenggara ini merasa terusik akal pikirannya taktala beberapa hari terakhir ini membaca media massa yang habis-habisan menyudutkan Front Pembela Islam (FPI). Kamis (17/2/2012), bersama sejumlah rekannya di DPD ia mengundang DPP FPI ke kantornya. Ketua umum FPI Habib Rizieq Syihab, Ketua DPP FPI Munarman serta sejumlah pimpinan FPI lainnya, disertai oleh Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath hadir memenuhi undangan itu.

Seusai melakukan pertemuan dengan FPI, La Ode Ida menyampaikan dukungannya kepada ormas yang dipimpin Habib Rizieq itu. La Ode juga mengecam wacana pembubaran  FPI yang menggunakan alasan anarkisme.

“FPI ini, kan, diserang di bandara, mengapa justru dia yang harus dibubarkan. Ini yang membingungkan,” ungkap La Ode, Kamis (16/2/2012), di ruang kerjanya.

La Ode meminta agar peristiwa itu jangan diputarbalikkan. “Kesannya yang melakukan kekerasan adalah FPI. Saya kira peristiwa di Palangkaraya itu merendahkan budaya masyarakat sekitar. Kalau menghalalkan pemblokiran FPI dengan cara-cara kekerasan itu tidak boleh lagi terjadi,” kata pria kelahiran Tobea, 12 Maret 1961 itu.

Ia juga sepakat bahwa aksi penolakan sebagian kecil masyarakat di Palangkaraya merupakan wujud dari lemahnya instrumen negara dalam menyelesaikam persoalan. “Tidak boleh lagi ada wacana penghalangan terhadap FPI dengan alasan apa pun, kecuali FPI kelak menjadi organisasi terlarang,” papar La Ode yang telah dua kali menjadi anggota DPD RI.

Dikatakan La Ode, hasil pertemuan ini akan dibahas di Komite III DPD. Komite yang nantinya akan menentukan tindak lanjut pertemuan itu. “Dalam waktu dekat, kami juga akan mengundang pihak yang anti-FPI,” tuturnya.

Sebelumnya Habib Rizieq Syihab dalam pertemuan tersebut mengungkapkan kronologi Insiden Palangkaraya dan sikap DPP FPI atas kejadian yang berlangsung pada Sabtu lalu (11/2/2012). Habib Rizieq kembali menegaskan bahwa pelaku pengancaman pembunuhan terhadap empat orang pimpinan FPI pusat adalah preman yang mengatasnamakan masyarakat Dayak.

Salah satu oknum yang diduga bertindak sebagai provokator aksi, Lukas Tinkes, dikatakan Habib Rizieq adalah seorang terpidana kasus korupsi yang telah incraht putusannya di Mahkamah Agung. Sayangnya Kejaksaan setempat hingga kini tidak berani mengeksekusinya. Kepada La Ode Ida, Habib Rizieq menunjukkan bukti Putusan Mahkamah Agung atas terpidanan korupsi Lukas Tinkes bernomor 173/PK/Pid.Sus/2010 tertanggal 13 November 2010.

Sementara Munarman menyoroti peran dan persengkongkolan media massa untuk menyudutkan FPI.  Munarman menuding media massa sekuler telah memanfaatkan Insiden Palangkaraya untuk membentuk opini bahwa FPI harus dibubarkan. Anehnya opini media inilah yang dimakan oleh pemerintah, khususnya Menteri Dalam Negeri.

Shodiq Ramadhan | Jumat, 17 Februari 2012 | 03:24:10 WIB  suaraislam online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.484 kali, 1 untuk hari ini)