• Gunungan wayang sebagai simbol mitos kejawen (kebatinan Jawa): Sangkan Paraning Dumadi (dari mana dan mau ke mana kejadian manusia) yang berujung pada keyakinan Manunggaling Kawulo Gusti yang dalam istilah lain disebut Wihdatul Wujud.
  • Manunggaling Kawula Gusti diusung kelompok kebatinan Kejawen, sedang Wihdatul Wujud itu diusung kaum shufi yang belakangan berdekatan dengan kelompok / faham sesat yang telah diharamkan oleh MUI dalam fatwanya: FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA*
  • Sehingga label halal yang baru produk Kemenag pimpinan Yaqut berupa gunungan wayang itu tampak berjauhan dengan sifat halal bahkan menjauhkan dari Islam dan huruf Arab. Justru ada kesengajaan menyeret ke yang berseberangan dengan Islam yaitu kebatinan dan pendukungnya di antaranya sufi dan liberal. Padahal faham liberalisme, sekulerisme, dan pluralsme agama telah diharamkan oleh MUI tahun 2005, karena bertentangan dengan Islam.

Silakan simak ini.

***

Label Halal Trending di Twitter, Netizen: Yaqut Hapus yang Berbau Arab, Tapi Hadirkan yang Berbau Hindu

Kolase Menag Yaqut dan logo Halal. (Foto: Diolah dari Google).

JAKARTA, – Logo halal terbaru tengah ramai diperbincangkan usai diresmikan oleh Kementerian Keagamaan lewat Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Sebelumnya, logo halal memiliki corak yang didominasi warna putih dan hijau. Saat ini logo tersebut diubah dengan warna ungu dengan bentuk yang baru pula, yakni gunungan wayang dengan tulisan Arab ‘halal’, dan di bawahnya tertulis Halal Indonesia.

Selain masalah warna, banyak netizen di jagat Twitter yang menilai logo halal terbaru sangat Jawa sentris.

Akibatnya, logo tersebut menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat dan hingga kini kata ‘halal’ masih menjadi perbincangan di media sosial, salah satunya Twitter.

Berikut beberapa cuitan yang ditulis oleh warganet mengenai label halal terbaru.

“Logo HALAL saja mengadopsi “kearifan lokal”, akibatnya makna kaligrafinya jadi kabur, kurang jelas dibaca karena lebih memprioritaskan simbolnya. Padahal jika dipikir, apa sih korelasinya produk halal dengan gunungan wayang?” tanya @HisyamMoch***.

“Keberhasilan Kemenag menyingkirkan yang berbau Arab, muncul kearifan lokal Wayang Gunungan yang berbau Hindu. Padahal label Halal adalah kebutuhan perlindungankonsumen makanan yang beragama Islam saja,” balas @iman100***.

“Kalau sertifikasi halal langsung di bawah kementerian sih seharusnya biayanya jadi lebih murah dan prosesnya lebih simpel seharusnyaaa,” ungkap @prima_in****.

Baca Juga:

Polemik Logo Halal Baru, Sekjen MUI: yang Lama Boleh Dipakai Sampai Lima Tahun

“Logo HALAL universal milik umat Islam, bukan milik satu daerah. Katanya paling NKRI, la koq java centris??? Lagian Islam itu identik dg warna hijau bukan ungu,” tutur @wahyu_djan****.

POSKOTA.CO.ID, Senin, 14 Maret 2022 17:52 WIB

***

Logo gunungan wayang tidak ada hubungannya dengan sifat halal ataupun Islam

Orang Indonesia terutama selain suku Jawa memandang logo halal berupa gunungan wayang sebagai mementingkan kejawaan/ jawa sentris.

Orang kebatinan Jawa alias kejawen menganggp bahwa gunungan wayang itu simbol mitos kejawen: Sangkan Paraning Dumadi (dari mana dan mau ke mana kejadian manusia) yang ujungnya berupa manunggaling kawulo Gusti suatu keyakinan yang disebut Wihdatul Wujud, keyakinan yang bertentangan dengan Islam.

***

Mengenal Wihdatul Wujud

By

Ammi Nur Baits

20076

Ajaran Wihdatul Wujud

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Wihdatul wujud adalah keyakinan bahwa Allah ta’ala menyatu dengan alam semesta. Tidak terpisah antara makhluk dan Khaliq (Sang Pencipta). Karena itu, wujud alam semesta ini hakekatnya merupakan wujud Allah sendiri. Sehingga dzat makhluk adalah Dzat Allah itu sendiri. (Firaq Mu’ashirah, 3/994).

Mukadimah keyakinan ini adalah aqidah hulul, yaitu keyakinan ittihad jismain [arab:اتحاد جسمين], bersatunya dua benda. Dari kata halla-yahullu [arab: حَلَّ – يَحُل], yang artinya masuk atau menempati. Dalam aqidah hulul, diyakini bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya. Terutama makhluk-Nya yang khusus, yaitu para wali. (Firaq Mu’ashirah, 3/987)

Pencetus aqidah ini adalah seorang tokoh sufi, Husain bin Manshur, yang terkenal dengan sebutan al-Hallaj. Dia memiliki prinsip bahwa Allah ibarat ruh yang bertempat di setiap benda, dan tidak ada pemisah antara al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan Makhluk.

Dalam bait syairnya, al-Hallaj mengatakan,

أنا من أهوى ومن أهوى أنا … نحن روحان حللنا بدنا

فإذا أبصرتني أبصرته … وإذا أبصرته أبصرتني

Saya orang yang menggerakkan dan orang yang menggerakkan adalah saya

Kami dua ruh yang menetap di satu jasad

Jika Engkau melihatku, akupun melihat-Nya

Dan jika aku melihat-Nya, Engkau melihatku.

(Firaq Mu’ashirah, 3/988).

Pioneer Aqidah Wihdatul Wujud

Manusia yang paling berjasa dalam menyebarkan Wihdatul Wujud adalah Ibnu Arabi (mati 638 H). Nama lengkapnya Muhammad bin Ali al-Arabi, at-Tha’i, dari Andalusia. Salah satu tokoh besar sufi. Dulunya, Ibnu Arabi adalah tukang tulis para pejabat. Di usia 30 tahun, dia berpindah ke Tunisia, kemudian melakukan perjalanan lagi ke Kairo dan Mekah. Di tahun 598 H, dia mulai menulis buku tebalnya, al-Futuhat al-Makiyah.

Kemudian dia berpindah ke Damaskus Suriah. Di kota ini, dia mendapatkan fasilitas dari keluarga Ibnu az-Zakki dan beberapa anggota keluarga Daulah Ayubiyah – Daulah Salahudin Al-Ayubi –. Di sinilah, Ibnu Arabi mulai menulis kitabnya Fushus al-Hikam serta menyempurnakan kitabnya, al-Futuhat al-makiyah.

Dua buku ini, selanjutnya menjadi pijakan dasar bagi aqidah wihdatul wujud.

Menurut adz Dzahabi, Ibnu ‘Arabi merupakan kiblat bagi para penganut paham aqidah wihdatul wujud.

Dampak Keyakinan Wihdatul Wujud

Keyakinan ini melahirkan doktrin yang sangat aneh dan jelas bertentangan dengan akal dan naluri. Membaca komentar mereka akan membuat kita terheran-heran, sampai seperti itukah setan menyesatkan mereka. Berikut beberapa komentar mereka tentang Tuhan,

1. al-Hallaj mengatakan dirinya bersatu dengan Tuhan,

مُزجت روحي في روحك كما — تُمزجُ الخمرة بالماء الزلال

فـإذا مسّــك شـــيءٌ مسّـني — فإذا أنت أنا في كلّ حال

Ruhku bercampur dengan ruh-Mu … sebagaimana khamr bercampur dengan air bening

Jika ada sesuatu yang menyentuh-Mu, diapun menyentuhku … ternyata aku dan Kamu selalu bersama (Diwan al-Hallaj, hlm. 82).

Imam Ad-Dzahabi menjelaskan tentang keadaan al-Hallaj:

الحلاج المقتول على الزندقة ، ما روى ولله الحمد شيئا من العلم ، وكانت له بداية جيدة وتأله وتصوف، ثم انسلخ من الدين ، وتعلم السحر ، وأراهم المخاريق . أباح العلماء دمه ، فقتل

Al-Hallaj yang dihukum mati karena kemunafikannya, tidak menyampaikan ilmu sedikitpun – alhamdulillah –. Dulunya dia orang baik-baik, beribadah kemudian menjadi sufi, kemudian dia menyimpang dari agama, mempelajari sihir dan beberapa kesaktian. Para ulama menilai halal darahnya, hingga dia dibunuh. (Mizan al-I’tidal, 2/71).

2. Beberapa Pernyataan Ibnu Arabi

Pernyataan 1:

إن الرجل حينما يضاجع زوجته إنما يضاجع الحق

“Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah – Jamil Zainu).

Pernyataan 2:

الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ …. يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ

إِنْ قُلْتَ عَبْدٌ فَذَاكَ رَبٌّ … أَو قُلْتَ رَبٌّ فَأَنّى يُكَلَّفُ

“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba.

Duhai, siapakah yang diberi kewajiban beramal?

Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb.

Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?”

(Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, 3/892).

Pernyataan 3:

فَيحمدُني وأحمدُه ويعبدُني وأعبدُه

“Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Pernyataan 4:

وما الكلب والخنزير إلا إلهنا ..وما الله إلا راهب بكنيسة

Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami….

Dan bukanlah Allah, kecuali seorang pendeta di gereja!

Wihdatul Adyan

Diantara pengaruh besar aqidah Wihdatul Wujud adalah keyakinan wihdatul adyan, kesatuan agama, dan semua agama itu sama. Karena semua yang beragama berarti menyembah Tuhan dan semua Tuhan itu sama.

Ibnu Arabi pernah mengatakan,

وقد كنت قبل اليوم أنكر صاحبي *** إذا لم يكن ديني إلى دينه داني

فأصبح قلبي قابلاً كل حالة *** فمرعىً لغزلان، ودير لرُهبان

وبيتٌ لأوثانٍ وكعبةِ طائف *** وألواح توراةٍ ومُصحف قرآن

“Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku.

Kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta…

Tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.”

(Al-Futuhat Al-Makkiyyah).

Ibnu Arabi juga mengatakan,

عقد الخلائق في الإله عقائدا وأنا اعتقدت جميع ما اعتقدوه

Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan. Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 2/98)

Pernyataan semisal juga pernah disampaikan Jalaluddin Rumi – tokoh besar sufi dan penyair dari Iran –,

مسلم أنا ولكني نصراني، وبرهامي، وزادشتي، ليس لي سوى معبد واحد

مسجد، أو كنيسة، أو بيت أصنام

Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. (Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah – Jamil Zainu).

Wihdatul Wujud di Indonesia

Wihdatul wujud bukan organisasi atau kelompok aliran. Karena itu, tidak kita jumpai ada organisasi wihdatul wujud. Wihdatul wujud lebih tepatnya merupakan sebuah pemikiran dan keyakinan. Di Indonesia, ideologi wihdatul wujud banyak dikembangkan oleh para penghasung sufi dan liberal. Yang menunjukkan betapa dekatnya tasawuf dengan liberal.

Anda mungkin pernah mendengar berita ada mahasiswa UIN yang meneriakkan anjing-hu akbar. Ini bagian dari ideologi itu. Anda bisa perhatikan bagaimana upaya orang JIL (liberal) membela ungkapan semacam ini.

Termasuk juga aqidah pluralisme, yang menanamkan prinsip bahwa semua agama adalah sama. Hingga terlahir pondok pesantren multi-theisme dan fikih lintas agama (FLA). Itu bagian dari doktrin wihdatul wujud.

Termasuk juga keyakinan, dari pada mengaku muslim tapi tidak baik, lebih baik ngaku kafir yang juga sama-sama tidak baik. Karena bagi mereka muslim maupun kafir adalah sama.

Di negeri kita, ada satu group pengajian qasidah, nada dan dakwah, dipimpin tokoh sufi sangat terkenal kelas Indonesia. Dalam banyak kajiannya, menunjukkan bahwa dia penghasung Wihdatul Wujud.

Realita ini menunjukkan agar kita semakin rajin belajar, mengkaji islam sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama penganut mereka (pengikut sahabat). Dengan itu, kita bisa memahami Islam yang benar, dan dalam waktu yang sama, kita juga memahami aliran yang menyimpang.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman. serta jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang mendapatkan bimbingan. (HR. Ahmad 18325 dan Nasai 1305).

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

————-

*) FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005

Tentang

PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional

MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M :

Memperhatikan : Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada

Munas VII MUI 2005.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT,

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PLURALISME,

LIBERALISME, DAN SEKULARISME

AGAMA

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :

1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan

bahwa semua agama adalah sama dan

karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif;

oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh

mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar

sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama

juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan

masuk dan hidup berdampingan di surga.

2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di

negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk

agama yang hidup secara berdampingan.

3. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash

agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan

akal pikiran yangg bebas; dan hanya menerima

doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran

semata.

4. Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia

dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur

hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan

sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan

kesepakatan sosial.

Kedua : Ketentuan Hukum

1. Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama

sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah

paham yang bertentangan dengan ajaran agama

Islam.

2. Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme,

sekularisme dan liberalisme agama.

3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam

wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram

mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam

dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk

agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial

yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat

Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan

pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang

tidak saling merugikan.

Ditetapkan : Jakarta, 21 Jumadil Akhir 1426 H

28 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua

ttd

K.H. Ma’ruf Amin

Sekretaris

ttd

Drs. Hasanuddin, M.Ag

Selengkapnya ada di sini:

http://www.mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/12.-Pluralisme-Liberalisme-dan-Sekularisme-Agama.pdf?

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy/photos/a.107957398152215/289340486680571/

 

(nahimunkar.org)