ilustrasi: Sitok Sunarto alias Sitok Srengenge berperan sebagai Rahwana/ djarumfoundation.org

 

Sitok  Srengenge penyair liberal dilaporkan ke polisi karena melakukan perbuatan tidak menyenangkan berupa intimidasi kepada Ami (mahasiswi UI), agar Sitok dapat menyetubuhi Ami sehingga saat ini Ami hamil tujuh bulan.  Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berinisial RW atau Ami (22) yang kini tengah hamil tujuh bulan itu mengalami depresi.

Sitok Srengenge bukan hanya sebagai penyair yang menerbitkan bukunya berjudul antologi puisi Persetubuhan Liar, tetapi polah tingkah bejatnya pun mengundang kecaman dari berbagai pihak, terutama BEM FIB UI.

Puisi Sitok yang berjudul Anak Jadah rupanya dia praktekkan pula dengan “mencetak” anak jadah yang sedang dalam kandungan wanita yang dia perdaya hingga melapor ke polisi itu.

Inilah beritanya

***

Dituduh Hamili Mahasiswi, Kurator Salihara Sitok Srengenge Dilaporkan ke Polisi

Jumat, 29/11/2013 20:49:06 | Shodiq Ramadhan

Jakarta (SI Online) – Seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berinisial RW (22) melaporkan penyair Sitok Srengenge ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) pada Jumat (29/11) dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

“Pelapor sekaligus korban melaporkan Sitok Sunarto alias Sitok Srengenge ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya pada Jumat pukul 14.15 WIB,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Pol) Rikwanto seperti dikutip ANTARA.

Rikwanto mengatakan, dalam laporannya RW mengaku bertemu dengan Sitok pada acara Festival Kreatif di FIB UI. Saat itu korban menjadi panitia acara dan terlapor menjadi salah satu juri.

Pada Maret 2013, terlapor menghubungi RW untuk bertemu di Komplek Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan. Namun, terlapor meminta korban untuk datang ke rumah indekosnya terlebih dahulu.

“Setelah itu, terlapor memaksa pelapor masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Di dalam kamar, menurut pengakuan pelapor, terlapor meraba, mencium kemudian menyetubuhi pelapor yang mengakibatkan dia hamil tujuh bulan,” jelas Rikwanto.

Rikwanto mengatakan, setelah korban hamil, terlapor tidak mau bertanggung jawab. Saat ditemui, terlapor selalu membentak-bentak dan hanya berjanji akan bertanggung jawab.

Di website resmi Salihara, salihara.org, Sitok Srengenge tercantum sebagai salah satu anggota kurator, selain kurator yang lain seperti Goenawan Mohammad, Guntur Romli dan Ayu Utami. Komunitas Salihara adalah kumpulan budayawan Liberal yang berkiprah sejak 08 Agustus 2008. Sebagian personel Salihara adalah mereka yang pernah terlibat dalam Komunitas Utan Kayu (JIL).

Mengenai Sitok, dalam situs tersebut ditulis, “Menulis puisi, prosa, esai, dan kritik seni pertunjukan. Bukunya yang telah terbit antara lain antologi puisi Persetubuhan Liar, Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, Nonsens, On Nothing, dan novel Menggarami Burung Terbang. Di Komunitas Salihara, Sitok menjadi kurator bidang teater. Ia juga pendiri dan pengelola Penerbit KataKita.”

red: shodiq ramadhan
sumber: ANTARA/Salihara.org

***

BEM FIB UI Kecam Tindakan Asusila Penyair Liberal Sitok Srengenge

Sabtu, 30/11/2013 23:22:58 | Shodiq Ramadhan

Depok (SI Online) – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (BEM FIB UI) mengecam tindakan penyair liberal Sitok Srengenge (SS). Sitok diketahui melakukan perbuatan pidana asusila serta sikap tidak bertanggungjawab terhadap RW (22), salah satu mahasiswi FIB UI.

BEM FIB UI mendukung RW yang berposisi sebagai korban yang masih menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa FIB UI.

“Itu adalah perlakuan  tidak pantas dan patut diduga sebagai perbuatan pidana asusila serta sikap tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh Sitok karena melukai moral, hak perempuan, masyarakat seni budaya, dan integritas pelaku sebagai seorang ‘seniman’ yang sejatinya menjadi teladan dan paham akan budaya Indonesia,” kata Ketua BEM FIB UI, Saifulloh Ramdani di kampus FIB UI, Depok, Sabtu(30/11/2013).
Saifulloh mengatakan, seluruh elemen mahasiswa yang diwakili oleh BEM FIB UI mendukung segala bentuk perlawanan yang dilakukan oleh korban. Menurutnya perlawanan tersebut adalah bentuk gerakan moral penyadaraan agar tidak ada lagi korban dari kasus serupa di kemudian hari. Selain korban RW, menurutnya, tidak menutup kemungkinan juga ada beberapa orang lain yang didekati oleh Sitok dengan modus yang sama. Di luar sana, terangnya, tentu timbul pertanyaan mengenai korban Sitok dan orang-orang yang berperilaku serupa.
“Semuanya harus bersuara, korban-korban (Sitok) yang lain harus bersuara untuk membuat argumen kuat bahwa tindakan Sitok Srengenge ini tidak benar. Buktinya akan lebih kuat dengan penyampaian mantan-mantan korban (Sitok) itu. Dan yang dilakukan dia ini adalah kejahatan, menurut saya penting jika korban-korban lain untuk ikut bersuara,”paparnya.
Korban Alami Trauma
Menjawab pertanyaan beberapa pihak yang menanyakan laporan setelah 7 bulan, menurutnya, ada beberapa hal yang harus kembali untuk ditekankan. Pertama, terangnya, korban mengalami trauma yang sangat dalam dan hampir tidak dapat berkomunikasi dengan baik karena keadaan psikologis yang sudah lemah sejak awal. Korban diakui Saifulloh baru dapat bercerita setelah mendapatkan dorongan untuk bersuara selama tiga bulan dari teman, keluarga dan para dosen.
“Sitok begitu hebat dan sadisnya  mampu membungkam korban hingga trauma,”tegasnya.
Kedua, lanjutnya, secara tegas ini adalah perbuatan asusila, bukan sekadar perbuatan tidak menyenangkan. Undang-undang di negeri ini belum cukup kuat untuk melindungi hak perempuan yang terlukai.
Ketiga, secara norma, perbuatan ini telah melampaui batas, seorang ‘seniman’ yang telah berusia dan layak disebut bapak malah melakukan pemerkosaan dengan kekerasan mental kepada perempuan yang nyatanya adalah adik kelas dari anaknya.
Keempat, perbuatan tersebut melanggar batas norma adat ketimuran.
“Terakhir, kami ingin mengajak seluruh mahasiswa untuk mendukung korban yang masih merupakan bagian dari keluarga di kampus dan menuntut Sitok Srengenge untuk bertanggungjawab,” terangnya.
Lebih jauh Saifulloh menjelaskan bahwa fokus dari BEM FIB UI bukanlah pada identitas korban, tetapi pada kejahatan pelaku. Menurutnya hal ini adalah gerakan moral untuk menyadarkan pelaku dan beberapa budayawan lain yang mempunyai perilaku serupa.
“Ini juga merupakan gerakan untuk menghindari perilaku kekerasan terhadap kaum perempuan yang masih sering terjadi di negeri ini. Ini adalah gerakan untuk melawan tindakan yang berlawanan dengan intektualitas kita. Ini adalah saat kita untuk bicara kebenaran,” pungkasnya.

red: shodiq ramadhan

***

Sitok Srenge Hamili Mahasiswi UI, Putri Kandungnya Kirim Surat Terbuka

JAKARTA (voa-islam.com) Tak hanya Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menilai kasus ‘sastrawan’ Sitok Srengenge yang aktif di Komunitas Liberal Salihara ini melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan membuat kecewa banyak pihak sehingga diadukan ke kantor polisi atas sangkaan perbuatan tak menyenangkan pada mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berinisial RW (22) yang kini tengah hamil tujuh bulan.

Banyak pihak menyerang Sitok yang berhaluan liberal tulen ini, bahkan putri kandungnya pun mengecamnya melalui surat terbuka. Adalah Laire Siwi Mentari menulis surat terbuka melalui blog pribadinya beralamat di www.lairesiwi.wordpress.com dan menyebarluaskannya melalui media sosial Twitter.

Laire Siwi Mentari mengaku kecewa berat dengan ulah ayahnya. Berikut ini isi suratnya.

Surat Terbuka

Menanggapi kabar buruk yang sedang terjadi saat ini, saya berusaha untuk berbesar hati. Ini berat sekali. Rasanya hancur melihat reaksi beberapa teman saya sendiri nyinyir menanggapi masalah ini. Padahal tidak semua berita yang mereka baca di media itu benar. Banyak yang diplintir dan dibesar-besarkan.

Tuduhan bahwa ayah saya, Sitok Srengenge, memperkosa dan menghindar dari tanggung jawab itu tidak benar. Bahwa ayah saya berhubungan dengan RW memang benar, tapi sama sekali tak ada unsur paksaan. Berkali-kali ayah saya berniat untuk bertemu keluarga RW dan mempertanggunjawabkan perbuatannya. Tapi usahanya itu tidak ditanggapi oleh pendamping RW. Seolah-olah akses justru ditutup. Selama beberapa bulan ini justru ayah saya menunggu kabar dari mediator tersebut. Sampai akhirnya kemarin berita beredar. Ayah saya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan tidak ada tanggung jawab.

Saya sangat kecewa kepada ayah saya. Tapi saya tidak akan membiarkan ayah saya menjadi seorang yang jahat. Saya akan dukung dia untuk terus berusaha bertanggung jawab kepada RW dan keluarganya. Dan sebisa mungkin saya akan selalu mendampingi ayah saya. Biar bagaimana pun, saya tetap bagian dari hidup ayah saya dan tak ada siapa pun yang ia miliki kecuali saya dan ibu saya.

Sekali lagi, ini tidak mudah untuk saya dan keluarga. Semua orang berhak kecewa bahkan marah kepada ayah saya. Bahkan saya, sebagai anak, berhak seribu kali lipat lebih marah dari siapa pun. Tapi kemarahan saya tidak akan mengubah kondisi menjadi lebih baik. Setelah marah, lalu apa? Perlu disadari bahwa ada anak berumur 22 tahun sedang depresi menghadapi hidup. Ada janin yang sebentar lagi lahir. Dan ini juga pada akhirnya harus menjadi tanggung jawab saya untuk menguatkan RW dan calon adik saya.

Saya mohon doa dari seluruh teman yang sebesar-besarnya supaya saya dan ibu saya kuat menghadapi ini. RW dan janinnya juga senantiasa diberi kesehatan. Semoga semua ini cepat selesai dan tak ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang memainkan masalah ini hingga bertambah rumit.

Dan, jika berkenan, mohon untuk tidak menggunakan kata-kata kasar untuk menanggapi masalah ini. Tidak untuk membela siapa pun, tapi setidaknya untuk menjaga perasaan kedua keluarga. Terima kasih sebesar-besarnya kepada para sahabat dan keluarga. Baik buruknya perlakuan kalian kepada kami, justru semakin menguatkan cinta keluarga kami.

Salam hangat,
Laire Siwi Mentari

———-

Apa sih Salihara?

Komunitas Salihara berlokasi di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini adalah sebuah kantong budaya yang berkiprah sejak 08 Agustus 2008, dan pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia.

Sitok Srengenge dikenal sebagai salah satu anggota kurator komunitas Salihara, di antara kurator lainnya seperti Goenawan Mohammad dan dan selingkuhannya Ayu Utami, Guntur Romli, Hasif Amini, Nirwan Derwanto,Asik Asikin, Tony Prabowo, Eko Endarmoko.

Haluan pikirnya dekat dengan Jaringan Islam Liberal dan konon di biayai oleh ‘Centeng’ Majalah Tempo Gunawan Muhamad. Komunitas Salihara dibentuk oleh sejumlah sastrawan, seniman, jurnalis, dan peminat seni.

Visi Komunitas Salihara adalah memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual.

Di sinilah Sitok bercokol dengan ‘mindset liberalnya’ dan penyair ini dibesarkan namanya bukan pada karya melainkan pada kasus menghamili RW mahasiswa FIB UI. Super Liberal!

Tindakan pelecehan seksual pemerkosaan dan menghamili RW (22) alias Ami, mahasiswi semester VII Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI).

Dugaan pelecehan seksual penyair liberal dari Salihara Sitok Srengenge sudah diketahui sejumlah dosen Universitas Indonesia. Tak kurang pengakuan dari Dosen Filsafat UI Sarasdewi bahwa dirinya menyimpan pesan pendek (SMS) yang dikirim Sitok Sunarto alias Sitok Srengenge kepada korban. Kepada Sarasdewi, Sitok pun mengakui melakukan pendekatan terhadap korban. Sitok mengakui kesalahannya lewat SMS.

“Saya juga akan menjadi saksi karena sejak awal, korban telah datang kepada saya dan bercerita tentang kasus ini. Jadi saya bawa kasus ini dengan dukungan penuh dari kampus,  Komnas (Perlindungan) Perempuan, dan kepolisian. Penyelidikan masih terus berjalan sampai selesai,” kata Sarasdewi di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/11).

Menurut Sarasdewi, perlakuan Sitok sangat merugikan mahasiswanya. Terlebih, korban hamil dan depresi akibat perlakuan Sitok.

Sarasdewi turut mendampingi RW selama proses pemeriksaan korban di Mapolda Metro Jaya dari pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB. Selain dirinya, hadir pula Lili Tjahjandari dan sejumlah mahasiswa UI. Sitok dilaporkan melakukan perbuatan tidak menyenangkan berupa intimidasi kepada Ami, agar dapat menyetubuhi Ami sehingga saat ini Ami hamil tujuh bulan. [dbs/kib/voa-islam.com] Senin, 28 Muharram 1435 H / 2 Desember 2013 10:49 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.143 kali, 1 untuk hari ini)