Lampung Tengah (VoA-Islam)  – Baru saja reda konflik antar warga di Lampung Selatan, kini giliran Lampung Tengah yang membara, Kamis (8/11), tepatnya di di Kampung Kusumadadi, Kecamatan Bekri.

Kali ini dipicu oleh pencurian tiga ekor sapi yang diduga dilakukan oleh Khairil dari Kampung Buyut, Kecamatan Sugi, Lampung Tengah. Ironisnya, Khairil tewas mengenaskan di areal kebun sawit dengan cara dibakar oleh warga Kampung Kusumadadi yang marah.

Sebelumnya, Lampung baru saja diwarnai bentrok berdarah. Bentrok terjadi antara warga asli Lampung di Desa Agom, Kecamatan Kalianda, dengan beberapa desa sekitarnya, serta warga keturunan Bali di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji.

Peristiwa itu mengakibatkan 12 orang tewas dan ratusan rumah dirusak dan dibakar. Belum lama ini tercipta perdamaian antardua suku tersebut. Kini muncul lagi bentrokan lainnya di Lampung Tengah.

 Terbunuhnya Khairil secara keji membuat warga kampungnya langsung menyerang ke Kampung Kusumadadi, sekitar pukul 15.00 WIB. Dalam peristiwa itu, terjadi pembakaran dan pengrusakan rumah di Kampung Kusumadadi.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Lampung AKBP Sulistyaningsih kepada wartawan membenarkan, bentrokan itu bermula dari pencurian sapi.  Khairil dibakar di TKP oleh masyarakat Kampung Kusumadadi.

Tim dari Polres dan Brimob Lampung Tengah telah dikerahkan ke lokasi. Polisi juga mengerahkan kendaraan water canon yang disiagakan di Kampung Kusumadadi.

Pelaku mencuri satu ekor sapi jantan dan dua betina milik  Suja’i (41), salah satu warga Dusun IV, Kampung Kesumadadi. Sekitar pukul 03.00 WIB, kakak Suja’i mengontrol kandang sapi miliknya yang berdampingan dengan kandang Suja’i. Ketika itu, ia terkejut saat tiga ekor sapi milik adiknya tidak ada di tempat.

Mengetahui hal ini, sang kakak korban melapor kepada ketua RT setempat. Kemudian diumumkan melalui pengeras suara masjid. Tak pelak, massa berbondong-bondong keluar rumah menuju kediaman Suja’i. Nah, ketika itulah massa melihat ada orang yang berlari di sawah yang terletak di belakang rumah pemilik sapi. Massa mengejar dan berhasil menangkap. Kemudian massa membakar pelaku di kebun sawit.

Serangan Balasan

Sebagai bentuk serangan balasan, ratusan massa asal Kampung Buyut, Kecamatan Gunung Sugih – kampung  sang pencuri —  mendatangi Kampung Kusumadadi, Kecamatan Bekri sejak pukul 16.00, kemarin (8/11). Massa saat itu menggunakan ratusan kendaraan roda  dua dan tiga unit truck meluncur ke kampung Kesumadadi sekitar pukul 15.00, usai memakamkan Khairil Anwar (29) warga Buyut Udik.

Berbekal berbagai senjata tajam seperti tombak, pedang, celurit, bom molotov dan senjata lainnya. Namun gelombang massa ini berhasil diblokade aparat gabungan dari Polres Lampung Tengah. Kodim 0411, Satbrimobda Polda Lampung di perempatan Wates, Kecamatan Bekri.

Minimnya jumlah aparat membuat blokade aparat jebol. Massa berhasil masuk ke Desa Kesumadadi. Hanya dalam hitungan menit, massa sudah terbakar emosi mulai merusak rumah-rumah dan membakarnya.

Tercatat 13 rumah ludes terbakar dan 70 rumah rumah rusak lantaran amuk masa. Bahkan, sejumlah warung kelontongan ikut menjadi sasaran penjarahan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Sebab, sejak isu penyerangan muncul pada Selasa (6/11), aparat desa, pemerintah daerah sudah meminta ratusan warga Kesumadadi mengungsi. Dilaporkan, Warga Kampung Kusumadadi yang rumahnya dibakar saat ini, diungsikan ke sebuah pondok pesantren.

Saat penyerangan terjadi Kapolres Lampung Tengah AKBP Hery Setyawan, Wakil Bupati Lamteng Ir . Mustafa dan Dandim 0411/LT Letkol Onf M. Ridwan yang ada di tengah-tengah kampung tak kuasa menahan amuk massa.

Namun setelah bantuan dari Polres Metro dan Satbrimob Polda Lampung tepat pukul 17.30, massa berhasil dipukul mundur hingga ke perbatasan desa Kusumadadi dan membuat blokade berlapis. Selain memukul mundur, polisi juga mengamankan dua orang yang dianggap sebagai provokator.

Tim gabungan TNI-Polri bersiaga di Lampung Tengah, Lampung, Kamis (8/11) sore. Mereka diturunkan untuk mengamankan kericuhan antarwarga di Kampung Kusumadadi dan Kampung Buyut.

Polda Lampung menurunkan satu batalyon berkekuatan 900 personel gabungan TNI-Polri, yang didukung mobil Antihuru hara, dan mobil water canon. Mereka bertugas melokalisir wilayah untuk menghindari aksi balas dendam warga.

Adakah konflik di daerah-daerah memang sebuah skenario yang ingin memciptakan kekacauan secara nasional? Desastian/JPNN/dsb

(nahimunkar.com)

(Dibaca 590 kali, 1 untuk hari ini)