Laskar FPI Ditembak ke Arah Jantung dari Jarak Dekat dan Ada Tanda-Tanda Diduga Bekas Penyiksaan

  • FPI mengingatkan, “Adalah hal yang sangat memalukan apabila di tengah momen hari HAM sedunia, justru di Indonesia pelanggaran HAM berat terus terjadi di NKRI mulai dari Sabang sampai Merauke.”
  • FPI menyebut jenazah enam laskarnya punya bekas luka tembak sama, ke arah jantung.


Laskar FPI yang meregang nyawa. (Viral)

 

Front Pembela Islam, dalam keterangan persnya, mengungkapkan kondisi enam jenazah laskarnya yang ditembak mati polisi.

FPI menyebut, keenam laskar itu memiliki titik bekas luka serupa, yakni sama-sama mengarah ke organ jantung.

Dalam rilis FPI itu, berisi enam poin. Pada poin ketiga, diungkapkan temuan dari tubuh para jenazah.

Poin tiga itu merinci, “Bahwa pada seluruh jenazah syuhada terdapat lebih dari satu lubang peluru. Tembakan terhadap para syuhada tersebut memiliki kesamaan sasaran, yaitu semua tembakan mengarah ke jantung para syuhada.” Demikian isi keterangan pers resmi FPI yang ditandatangani Ketua Umum FPI KH Ahmad Shabri Lubis dan Sekretaris Umum FPI Munarman, pada Rabu 9 Desember 2020.

Ahmad Shabri Lubis menyatakan, berdasar keterangan ahli yang melihat bekas tembakan saat jenazah dimandikan, diketahui tembakan dilepaskan dari jarak dekat. Selain itu, tembakan dilepaskan dari bagian depan dan bagian belakang badan para laskar.

Keterangan resmi FPI. (Rilis)

“Menurut ahli yang hadir dalam pemandian jenazah, tembakan ke arah jantung para syuhada tersebut ada yang dilakukan dari depan, bagian dada dan ada yang dilakukan dari belakang,” ungkap Shabri.

FPI juga mengungkapkan, di tubuh para laskar pengawal Habib Rizieq Shihab ada pula tanda-tanda yang diduga bekas penyiksaan.

Seluruh jenazah telah dimakamkan. Lima di antaranya di Markas FPI Megamendung, Bogor. Satu jenazah dimakamkan pihak keluarga di Duri Kosambi, Jakarta Barat.

Keterangan resmi FPI. (Rilis)

Pihak FPI menilai tindakan polisi yang menembak mati enam laskarnya sebagai pembunuhan di luar proses hukum atau extrajudicial killing. Untuk itu FPI meminta Komnas HAM memperluas keterlibatan publik dalam proses investigasi.

“Kami mendorong pihak Komnas HAM memperluas keterlibatan badan partisipasi publik dengan merekrut komisioner ad hoc dari kalangan masyarakat sipil yang profesional dan independen serta berintegritas untuk menjadi anggota tim pencari fakta dalam peristiwa extra judicial killing ini,” demikian bunyi keterangan resmi dari FPI, yang dijelaskan dalam poin lima.

FPI juga menyebut frasa extrajudicial killing saat memohon doa dan dukungan dari masyarakat. “Apalagi pembunuhan di luar proses hukum atau extra judicial killing ini terjadi bertepatan di momen hari HAM sedunia pada 10 Desember,” papar Shabri.

Di poin akhir, FPI mengingatkan, “Adalah hal yang sangat memalukan apabila di tengah momen hari HAM sedunia, justru di Indonesia pelanggaran HAM berat terus terjadi di NKRI mulai dari Sabang sampai Merauke.”

 

Report: Ryan I Editor: Abi K

TIMUR MEDIA – December 10, 2020

(nahimunkar.org)

(Dibaca 507 kali, 1 untuk hari ini)