LDKI menilai, langkah Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dengan memberikan Kata Pengantar dalam buku “Syiah Menurut Syiah” telah melukai perasaan umat Islam.

Inilah berita dan pernyataan LDKI selengkapnya.

*** 

LDKI : Perkokoh Akidah Ahlussunah wal Jamaah, Jaga NKRI dari Bahaya Syiah

Senin, 23/03/2015 22:10:34 | Dibaca : 40

 

Pernyataan Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam
“Memperkokoh Akidah Ahlussunah wal Jamaah, Menjaga NKRI dari Bahaya Syiah”

Indonesia adalah bumi Ahlussunah wal Jamaah. Kehidupan antara umat Islam Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia berlangsung rukun dan damai. Perbedaan Mazhab tidak membuat kaum muslimin bertindak anarkis. Karena, pada intinya, perbedaan antara kaum muslimin hanyalah berada pada wilayah furu’ yang ditolerir oleh para ulama.

Namun, sejak Pemerintah Iran melakukan ekspor ideologi Syiah ke Indonesia sejak tahun 1979, kehidupan damai Ahlussunah mulai terancam. Syiah secara konfrontatif menonjolkan perbedaan mereka secara ushul dengan Ahlussunah. Para sahabat dan istri nabi yang diagungkan dalam Islam tiba-tiba dicela. Amalan ibadah kaum muslimin seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji dianggap tidak sah karena tak mengikuti imamah. Keimanan kaum muslimin divonis kafir karena tidak mau melampirkan baiat dengan imam-imam Syiah.

Sontak, ketegangan berlangsung di mana-mana. Bentrokan antara kaum muslimin dengan Syiah pecah di berbagai daerah. Seperti di Sampang, Jember, Bangil, Bondowoso, Bandung, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Malang, Balikpapan, Pekanbaru, Medan, Padang dan kota-kota lainnya.

Darah kaum muslimin tertumpah, kehormatannya dihancurkan. Semuanya itu dilakukan Syiah atas nama Revolusi Imamah. Demi mengikuti kehendak hawa nafsu Iran dengan memainkan agen-agen Syiah di Indonesia.

Sungguh fenomena ini menunjukkan bahwa Syiah sebenarnya gerakan takfiri yang diremote oleh imam-imam Syiah di Iran untuk merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keberadaan syiah tidak menjadi masalah selama ada toleransi, tidak saling mencaci dan menghina sosok-sosok yang dimuliakan oleh Ahlus Sunnah. Sayangnya, slogan akhlak yang mereka kumandangkan justru berlawanan dengan kenyataan yang ada. Cacian dan hinaan tetap mereka taburkan. Akibatnya, bentrok antara kaum muslimin dan Syiah tak terelakkan.

Terakhir yang teranyar adalah penyerangan kelompok Syiah Jamaah Hubbul Islah pimpinan Ida Bagus Handoko ke Pemukiman Muslim Bukit Az-Zikra. Dengan mengorbankan semangat kebencian dan takfiri, kelompok Syiah menganiaya jamaah Masjid Az-Zikra bernama Faisal Salim. Faisal dipukuli beramai-ramai, ditendang, dan dimasukkan paksa ke dalam mobil oleh 34 orang. Ironisnya, hal itu terjadi di depan anak Faisal yang berumur 9 tahun. Hingga kini, sang anak mengalami trauma hingga harus diungsikan ke luar kota.

Kejadian ini telah membuka dusta Syiah, khususnya tokoh Syiah Jalaluddin Rakhmat. Pertama-tama ketua Dewan Syuro IJABI itu membantah jika pelaku penyerangan adalah pengikut Syiah. Namun realita yang terjadi di lapangan menunjukkan data sebaliknya. Ke-34 tersangka penyerangan mengakui bahwa mereka pengikut Syiah yang telah dikader dan dididik melalui amalan-amalan Syiah.

Maka mencermati ini semua, Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:

1. Mendesak Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas melindungi hak-hak Ahlussunah. Hak untuk bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Hak untuk menjalankan kehidupan secara damai. Hak untuk memuliakan Sahabat dan Istri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tanpa dinodai dan dicaci maki. Hak untuk bersyahadat tanpa dikafirkan karena tak mau berbaiat dengan Khomeini. Hak untuk merasakan kemerdekaan yang lahir dari keringat rakyat Indonesia dan kini berupaya dirampas oleh agen-agen Syiah atas nama Revolusi Imam.

2. Meminta Kementerian Agama untuk tidak mengkhinati amanah rakyat dengan melakukan kerjasama keagamaan dengan Republik Iran. LDKI dengan tegas menolak langkah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, yang ikut menyosialisasikan agenda pemerintahan Iran bertajuk “International Competition on A World Free of Violence and Extrimism” kepada para pelajar Madrasah Indonesia.

Sayembara lomba dari Pemerintah Iran ini jelas menunjukkan wajah taqiyah Syiah yang menyuarakan anti ekstrimisme tapi realitasnya justru memasok persenjataan bagi pemberintah Syiah Houthi melakukan kudeta terhadap Presiden Yaman dan melancarkan pembunuhan terhadap warga Ahlussunah. Iran juga terlibat dalam menopang persenjataan kepada Presiden Suriah Bashar Assad untuk membunuh rakyatnya yang mayoritas Ahlussunah. Maka pertanyaannya adalah siapakah yang selama ini melakukan kekerasan dan ekstrimisme? Jika diamati, sayembara ini tidak ada sangkut pautnya dengan agenda kerja Kemenag. Sayembara ini 100% diinisiatori oleh Iran, tapi pertanyaannya kenapa Dirjen Pendis Islam mau bersusah payah ikut menyebarkannya ke Madrasah? Langkah ini tentu menimbulkan kesan bahwa Dirjen Pendi Islam telah menjadi “Jubir” Iran!

3. LDKI menilai, langkah Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dengan memberikan Kata Pengantar dalam buku “Syiah Menurut Syiah” telah melukai perasaan umat Islam. Buku tersebut jelas menyebarkan faham ideologi Imamah yang bertentangan dengan akidah Ahlussunah wal Jamaah dan membahayakan keutuhan bangsa. Juga turut mengkampanyekan praktek mut’ah yang merendahkan martabat perempuan di Indonesia. Hal ini sepatutnya memberikan pelajaran bagi Kementerian Agama untuk tidak melakukan kesalahan yang serupa di kemudian hari.

4. LDKI mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) baik Pusat maupun Daerah, khususnya wilayah Bogor untuk segera mengeluarkan fatwa sesat Syiah.  Pada tahun 1984 MUI  sudah meminta umat Islam meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah. Sudah sepatutnya, rekomendasi 31 tahun lalu itu ditingkatkan menjadi fatwa, mengingat ekskalasi kekerasan Syiah kepada Ahlussunah telah berulang kali terjadi.

5. LDKI mendesak agar pihak Polres Bogor terus melakukan proses hukum kepada 34 tersangka penyerangan Jamaah Masjid Az-Zikra agar keadilan dapat dirasakan kaum muslimin di Indonesia. Jika kasus ini mangkrak di tengah jalan, maka hal ini hanya akan menimbulkan masalah baru. Kami mengharapkan pihak Kejaksaan dapat menjaga amanah warga Bogor untuk memberikan hukum yang seadil-adilnya kepada para tersangka.

6. LDKI mengajak ormas-ormas Islam, Lembaga Dakwah, Majelis Ta’lim, dan lain sebagainya bersatu dalam rangka memperkokoh akidah Ahlussunah wal Jamaah dan menjaga Syiah dari bahaya NKRI. Upaya umat Islam untuk menjalankan ini sulit dilakukan selama shaf-shaf Ahlussunah tidak bersatu. Tinggalkanlah perdebatan ikhtilaf di antara Ahlussunah selama itu hanya masalah furu’ dan perkara  ushul. Karena, yakinlah, perpecahan di kalangan Ahlussunah hanya akan menguntungkan Syiah dan merugikan Ahlussunah. Celah inilah yang selama ini dimanfaatkan Syiah untuk mengadu domba Ahlussunah wal Jamaah dan membuat kita tak bersatu.

Jakarta, 22 Maret 2015
Ketua                                                       Sekretaris

Muhammad Ismed Fassah                Nurdin Hamdani

(si online/nahimunkar.com)

(Dibaca 2.171 kali, 1 untuk hari ini)