Lebih Baik dan Adem Tanpa BPIP

 

  • Yudian sebagai seorang yang menggawangi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sekaligus Rektor di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, tak pantas baginya mengeluarkan statement bahwa agama sebagai musuh terbesar Pancasila.
  • Selain sesat-menyesatkan, statement ini secara tidak langsung telah menempatkan agama Islam sebagai musuh bangsa dan sumber kekacauan di dalam negara.
  • … menyebut agama sebagai musuh, mengingatkan kita pada pernyataan kalangan sosialis-komunis dan ateis, yang menganggap agama sebagai candu. Sehingga agama, terutama Islam, harus disingkirkan dari kehidupan.

     

  • Sungguh, menghadap-hadapkan Islam dengan Pancasila atau melecehkan Islam di hadapan Pancasila, justru bisa kian menguatkan tuduhan bahwa rezim ini adalah rezim anti-Islam. Padahal kekuasaan mereka hari ini, diperoleh dari suara mayoritas umat Islam, meski dengan berbagai dugaan kecurangan.

     

    ***

 

Lebih Baik dan Adem Tanpa BPIP

 

Keberadaan dan fungsi Badan Pembinaan Ideologi dan Pancasila (BPIP) disorot. Pernyataan Kepala BPIP, Yudian Wahyudi soal ‘musuh terbesar Pancasila adalah agama’ jadi pemicunya.

 

Peran BPIP seharusya membuat era pemerintahan Jokowi di periode keduanya ini lebih baik dan tak gaduh. Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon menyebut dari persepsi banyak orang era pemerintahan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY lebih baik dan adem.

 

“Banyak orang mengatakan soal kerukunan ini lebih baik & adem era @SBYudhoyono. Krn ini soal “rasa” biarlah publik yg menilai,” demikian cuitan Jansen di akun Twitternya, @jansen_jsp yang dikutip pada, Jumat, 14 Februari 2020.

 

Dia menyoroti keberadaan BPIP sebagai lembaga yang harusnya mengayomi rakyat. Apalagi, pejabat BPIP dari pimpinan serta dewan pengarah memiliki gaji besar.

 

“Tapi harusnya, dgn adanya BPIP yg dewan pengarahnya saja bejibun dan gajinya tambun, kita bisa lebih rukun lagi dibanding era SBY yg tanpa BPIP, KSP dll,” tambah Jansen.

 

Kemudian, Jansen menyinggung kondisi sekarang yang realitas kerukunannya semakin turun. Kini, ditambah kisruh pernyataan Kepala BPIP soal pancasila agama. Ia meminta agar lingkungan Istana pemerintahan Jokowi bisa instropeksi.

 

“Yg standard, soal keakraban antar warganegara saja terus semakin turun, ini ditambahi lagi kisruh baru Pancasila Agama. Di era ini tambah parah saja kita terbelah dlm perbedaan. Istana dan sekitarnya instropeksilah diri hati² bernarasi. Sudah lampu kuning ini sebentar lagi merah!,” demikian Jansen dalam cuitannya.

 

Pernyataan Yudian selaku Kepala BPIP menjadi polemik. Baru 8 hari usai dilantik Jokowi, rektor UIN Sunan Kalijaga itu sudah memantik perhatian publik. Ucapannya dinilai membuat gaduh.

 

Meski dihujat dan dikritik, namun barisan Istana membela Yudian. Salah satunya disampaikan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko. Ia bilang pernyataan Yudian yang merupakan seorang akademisi mesti dilihat secara jernih.

 

Moeldoko bilang Yudian tak ada maksud menyudutkan agama menjadi musuh Pancasila. 

 

“Beliau itu intelektual dan agamanya juga tinggi. Jadi mesti kita lihat dengan jernih. Jangan dijustifikasi,” kata Moeldoko di komplek istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.(*)

 

Gelora News
14 Februari 2020

Ilustrasi/ foto mslmhnews

***


Saat Agama Dipandang sebagai Musuh

 


Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, FOKUS – Statement Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila, nampak sangat tendensius dan menyakiti hati umat Islam. (m.detik.com/news/berita/d-4895595/kepala-bpip-sebut-agama-jadi-musuh-terbesar-pancasila)

Betapa tidak? Statement ini terkait dengan kritiknya terhadap realitas di era reformasi yang meniscayakan ormas-ormas memilih Islam sebagai asas organisasi. Padahal menurutnya, Pancasilalah yang harus menjadi asas, bukan Islam. Karena menjadikan Islam sebagai asas, sama halnya dengan membunuh Pancasila secara administratif.

Yudian juga merasa prihatin bahwa belakangan ini ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya adalah kelompok yang membuat ijtima’ ulama.

Mereka disebutnya sebagai kelompok minoritas yang mengaku-ngaku mayoritas yang ingin melawan Pancasila. Dan ini menurutnya berbahaya.

Sebagai seorang yang menggawangi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sekaligus Rektor di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, tak pantas baginya mengeluarkan statement demikian.

Selain sesat-menyesatkan, statement ini secara tidak langsung telah menempatkan agama Islam sebagai musuh bangsa dan sumber kekacauan di dalam negara.

Di luar itu, menyebut agama sebagai musuh, mengingatkan kita pada pernyataan kalangan sosialis-komunis dan ateis, yang menganggap agama sebagai candu. Sehingga agama, terutama Islam, harus disingkirkan dari kehidupan.

Padahal sejatinya, Islam adalah agama politik spiritual. Yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mengajarkan konsep-konsep keimanan, sekaligus menuntun manusia dalam menjalani kehidupan sesuai fitrah penciptaan.

Karenanya, Islam tak bisa ditempatkan vis a vis dengan Pancasila sebagai sebuah falsafah yang mengajarkan nilai-nilai moral. Atau ditempatkan di bawah pancasila. Apalagi disingkirkan atas nama pembumian nilai-nilai Pancasila.

Islam dan Pancasila faktanya memang beda. Islam ada sebelum Pancasila. Bahkan ada sebelum negara Indonesia ini lahir. Kepiawaian Islam dalam mempersatukan kepelbagaian serta kemampuannya memberi solusi atas problem-problem kehidupan sudah teruji sepanjang sejarah peradaban manusia.

Siapa pun tak bisa memungkiri, saat Islam diterapkan secara murni dan konsekuen, dunia diliputi kedamaian, kesejahteraan, dan keamanan. Sebaliknya, saat Islam diabaikan, keadaan berubah menjadi penuh kekacauan, diliputi oleh keserakahan, kezaliman, dan kemaksiatan yang membunuh fitrah kemanusiaan. Penjajahan bahkan menjadi hal yang diniscayakan.

Sungguh, menghadap-hadapkan Islam dengan Pancasila atau melecehkan Islam di hadapan Pancasila, justru bisa kian menguatkan tuduhan bahwa rezim ini adalah rezim anti-Islam. Padahal kekuasaan mereka hari ini, diperoleh dari suara mayoritas umat Islam, meski dengan berbagai dugaan kecurangan.

Semoga para pejabat negara bisa cepat belajar, bahwa bermain-main dengan agama hanya akan mengundang keburukan. Setidaknya umat akan melihat, bahwa kepemimpinan yang tidak tegak atas dasar Islam, sama sekali tak bisa diharapkan bisa membawa kebaikan, apalagi keberkahan.

Yang terjadi justru agama dilecehkan, keragaman jadi sumber keterpecahbelahan, kemanusiaan diabaikan, dan bangsa ini kian terjauhkan dari identitas sebagai bangsa pemimpin yang berperadaban. [MNews]

muslimahnews.com  12 Februari 2020 

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 228 kali, 1 untuk hari ini)