Selama ini santer diberitakan adanya modus kristenisasi dan pemurtadan lewat rekayasa perkawinan. Gejala buruk itu ternyata dibalik itu secara misi didukung oleh lembaga-lembaga kafir pemurtad dan kristenisasi.
Di antara buktinya, dapat dibaca berita ini.
***

Sidang ke-5 Uji Materi UU Perkawinan : Walubi dan PGI Dukung Perkawinan Beda Agama, MUI dan PBNU Menolak

Rabu, 05/11/2014 18:50:33

Jakarta (SI Online) – Mahkamah Konstitusi kembali menggelar sidang uji materi UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam sidang kelima ini, pihak terkait yang dihadirkan diantaranya PGI, Walubi, PBNU dan MUI.

Dari empat ormas keagamaan itu, dua ormas yakni PGI dan Walubi menyetujui perkawinan beda agama. Sementara dari Islam, PBNU dan MUI terang-terangan menolak.

Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) menyatakan ajaran Budha mengupayakan agar pernikahan diusahakan seiman. Tetapi jika sampai terjadi pernikahan beda agama tetap diupayakan pernikahan tersebut berlangsung.

“Sebenarnya kita usahakan seiman, tetapi jika sampai terjadi ada yang beda ya kita upayakan agar pernikahan itu tetap berlangsung. Karena ini ada jodoh karma yang kuat dan dalam,” kata pengurus Walubi, Suhadi Sendjaja, saat memberikan keterangan dalam sidang perkara pengujian Pasal 2 Ayat 1 UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (05/11).

“Jodoh itu sudah ditentukan, tergantung dharma dan karma. Yang nikah kan orangnya, bukan agamanya,” kata Suhadi.

Karena itu, menurutnya permohonan peninjauan kembali Pasal 2 Ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 laik dipertimbangkan. Karena perkawinan bisa terjadi karena ada ikatan jodoh masa lampau yang kuat sehingga saat terjadi perbedaan keimanan, perkawinan tidak harus dihentikan.

Senada dengan Walubi, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) juga mendukung pengesahan perkawinan meski berbeda keyakinan. Pasal 2 Ayat 1 dinilai mengabaikan realitas warga negara Indonesia yang beraneka ragam latar belakang dan budaya. Serta melanggar hak asasi manusia.

“Karena itu pasal 2 ini telah megabaikan kenyataan mahwa manusia memiliki rasa cinta yang sifat universal tidak mengenal warna kulit, keturunan maupun agama. Meskipun beda agama bukanlah suatu yang ideal, tetapi perkawinan antara orang-orang yang beda suku ras dan agama bukanlah hal yang mustahil,” kata Kuasa Hukum PGI Nikson Lalu.

MUI da NU Menolak Perkawinan Beda Agama

Pandangan berbeda disampaikan oleh perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

MUI meminta pemohon pengujian kembali Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan agar banyak-banyak membaca literatur tentang sejarah lahirnya aturan tersebut. Gugatan pemohon dinilai diajukan tanpa referensi yang jelas dan terlalu membesar-besarkan persoalan.

“Para pemohon seharusnya banyak-banyak membaca buku literatur tentang sejarah perumusan Pasal 2 ayat 1 UU Nomor 1/1974. Pemohon sebagai kaum terpelajar saat mengajukan permohonan, harusnya tahu bahwa seluruh permohonannya sudah pernah dibahas panjang lebar sebelumnya,” kata Kuasa Hukum MUI, M Luthfie Hakim, dalam sidang perkara pengujian Pasal 2 Ayat 1 UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (05/11).

Luthfie menjelaskan, UU Perkawinan dirumuskan melalui proses yang panjang selama bertahun-tahun. Pasal 2 Ayat 1 tentang sahnya perkawinan menurut hukum masing-masing agama juga disepakati setelah melewati perdebatan yang sangat panjang.

Sementara itu, Pengurus PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, pernikahan tidak hanya dipertanggungjawabkan di depan manusia. Tetapi juga di depan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena itu, pernikahan menurutnya tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. Menurut dia, seluruh ulama menyepakati atas keharaman pernikahan antara orang Islam, baik pria maupun wanita, dengan orang-orang musyrik.

“Para ulama sepakat bahwa Muslimah tidak boleh dinikahkan dengan non Muslim baik dia musyrik maupun beragama Yahudi atau Nasrani,” kata Ahmad Ishomuddin.

Dia menegaskan bahwa norma Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sudah benar dan tidak perlu diubah lagi karena sudah sesuai dengan ajaran agama Islam.

red: shodiq ramadhan/dbs
***
Mereka ingin memurtadkan kaum Muslimin

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS Al-Baqarah: 109).

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢١٧﴾

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 217).

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ ﴿١٢٠﴾

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah: 120).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 922 kali, 1 untuk hari ini)