arswendo

Arswendo

Lembaga  Ulama dan Ormas Islam jangan sampai seperti dayyuts yakni orang yang membiarkan saja keluarganya berbuat zina dan semacamnya.

Baru-baru ini ada budayawan namun cengengesannya menunjukkan tak berbudaya karena berani terang-terangan lewat televise menyampaikan pendapatnya yang menjijikkan dan merusak tatanan masyarakat bahkan agama. Masa’ budayawan kok bernafsu banget untuk mengumumkan keburukan pikiran joroknya yakni setuju banget kumpul kebo alias hidup bersama lelaki perempuan tanpa nikah yang sah.

Ungkapan yang sangat membahayakan bagi kehidupan mayarakat Indonesia yang mayoritas Muslim itu disebarkan lewat TV One. (lihat nahimunkar.cm, Added on 1 April 2013 , Menjijikkan! Ternyata inilah manusia yang menghalalkan zina https://www.nahimunkar.org/menjijikkan-ternyata-inilah-manusia-yang-menghalalkan-zina/ ).

Itu perkara besar bagi umat Islam apalagi bagi para ulama. Namun kenapa sampai kini TV One dan Arswendo serta Thamrin Amal Tamagola belum terdengar adanya teguran dari lembaga keulamaan dan ormas-ormas Islam ? Belum terdengar pula semacam ancaman, atau pelaporan kepada yang berwenang. Ini apakah berarti para ulama dan tokoh ormas-ormas Islam mengamalkan “as-sukuut ‘alamatur ridho”, diam pertanda rela sebagaimana gadis yang dilamar? Na’udzubillahi min dzalik! Semoga saja tidak!

Apakah dianggapnya zina itu halal-halal saja sehingga manusia dan media yang mempropagandakan perusakan moral itu didiamkan saja?

Kalau sampai demikian, maka dikhawatirkan lembaga keulamaan dan ormas-ormas Islam itu kini sudah seperti dayyuts. Sedangkan dayyuts itu diancam haram surga baginya.  Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tegas:

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ (رواه أحمد)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka: pecandu khamer (minuman keras), anak yang durhaka (kepada kedua orang tua), dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian.” (HR Ahmad – 5839, lafal baginya, dan An-Nasaai, Al-Bazar, dan Al-Hakim, ia berkata sanadnya shahih. Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib nomor 2512 menilai, hasan lighairih).

Apabila lembaga keulamaan dan ormas-ormas Islam telah memperingatkan manusia-manusia dan media propagandis perusakan moral itu secara nyata, maka insya Allah walau mereka tetap cengengesan dan merusak moral Ummat Islam dengan sengaja, namun kalau toh diadzab maka cukup mereka, insya Allah. Bukan para ulama dan tokoh ormas-ormas Islam yang telah bereaksi secaa nyata. Namun bila para ulama dan tokoh ormas Islam diam saja, maka apakah tidak takut, bila kedudukannya seperti dayyuts yang sangat diancam itu?

Padahal, mungkin juga manusia yang cengengesan dalam menyebarkan perusakan moral itu masih bisa menyesal, sebagaimana dia pernah mengaku menyesal karena melukai hati Umat Islam seperti berita ini.

***

Arswendo Atmowiloto Menyesal Pernah Lukai Hati Umat Islam

Rabu, 10 Februari 2010 14:16 WIB

 Jakarta, (tvOne)

Budayawan Arswendo Atmowiloto mengaku menyesal pernah melakukan perbuatan yang dinilai melukai umat Islam dengan membuat sebuah “pooling” atau survey kontroversial di tabloid Monitor yang pernah dipimpinnya di masa lalu. “Saya menyesal karena saat itu membuat umat Islam terluka,” kata Arswendo dalam sidang uji materi UU Penodaan Agama No 1/PNPS/1965 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta, Rabu (10/2).

Arswendo mengemukakan hal itu ketika ditanya apakah terdapat rasa penyesalan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan yang hadir dalam persidangan tersebut sebagai pihak terkait. Sedangkan Arswendo dihadirkan oleh pihak pemohon uji materi sebagai salah seorang korban yang pernah dijerat hukum karena terkait dengan pasal-pasal tentang penodaan agama.

Perbuatan yang dinilai melukai umat Islam adalah saat tabloid Monitor pada 15 Oktober 1990 mengumumkan hasil survey mengenai siapa tokoh yang paling diidolakan oleh masyarakat Indonesia. Arswendo mengakui, metodologi yang dipakainya kurang kuat karena hanya mengandalkan kepada kartu pos dari para pembaca Monitor sehingga setiap warga dapat mengirimkan pendapat mereka masing-masing. “Bahkan ada pembaca yang menulis istrinya sendiri sebagai tokoh yang diidolakannya,” katanya.

Monitor saat itu, ujar dia, menerima hingga sebanyak 33.963 kartu pos dan terdapat sejumlah 667 nama yang diajukan para pembaca. Hasil dari survey itu adalah menempatkan antara lain Presiden kala itu, Soeharto, di urutan pertama, sedangkan Nabi Muhammad berada di urutan kesebelas.

Hasil tersebut memicu kontroversi dan sejumlah aksi sehingga Arswendo dijerat dengan pasal-pasal KUHP terkait penodaan agama dan divonis dengan hukuman lima tahun penjara. Sedangkan pada saat banding di Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, Arswendo akhirnya dijatuhi hukuman empat tahun enam bulan penjara.

Ia menegaskan, sama sekali tidak ada niat untuk menodai atau menistakan agama tertentu terkait dengan survey tersebut. Arswendo pada saat itu bahkan telah meminta maaf baik melalui media cetak dan media elektronik dan Monitor juga telah menuliskan permintaan maaf yang memenuhi halaman pertama dari tabloid tersebut.

Untuk saat ini, ia hanya ingin agar setidaknya terdapat penjelasan tentang perbuatan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai penodaan agama agar hal yang menimpanya tak terulang di masa mendatang. (Ant)

***

(nahimunkar.com)