Antyo / Salni Setyadi / Beritagar.id

PANAS | Geliat persaingan menuju Pemilihan Presiden 2019 kian terlihat dan meningkat. Degupnya pun makin terasa dan makin kencang. Dua kali pilpres langsung sebelum 2014 tak menegangkan. Usai pilpres ya sudah. Sebelum pilpres masyarakat tak sampai menjurus terbelah. Tapi pada Pilpres 2014 dan setelahnya, polarisasi pendukung kian terasa, dan sempat menggelayuti DPR. Pengutuban pula yang terjadi menjelang, selama, dan setelah Pilkada DKI 2017.

Kini sang inkumben didukung tim pembela. Bahkan tim itu sudah beraudiensi di istana, berjumpa Joko “Jokowi” Widodo pekan ini. Juru bicara tim , Dedy Mawardi, menyatakan akan membentuk tim serupa di setiap daerah. Tugas tim adalah menangkal ujaran kebencian, penghinaan, dan sejenisnya, terhadap Jokowi.

Akankah Pilpres 2019 mengulangi ketegangan bersuhu tinggi Pilpres 2014 yang dibumbui fitnah dan kampanye hitam, serta meniru Pilkada DKI 2017 yang diberi ramuan kental politik identitas dan sentimen primordial?

Sumber: beritagar.id / Antyo Rentjoko

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.375 kali, 1 untuk hari ini)