• Mursi dan Erdogan bertindak bijak dan cepat dalam menyikapi konflik yang bisa meluas ke seluruh dunia. Tetapi kita belum mendengar pernyataan dan tindakan dari Presiden SBY, sang Ksatria Salib Agung “yang mulia”. 
  • Padahal, spirit Pembukaan UUD 1945 jelas-jelas mengamanatkan agar negara Indonesia ikut aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Mencegah terjadinya penjajahan negara atas negara lain seperti yang kini terjadi pada Palestina yang dijajah Israel.
  • Presiden SBY dengan gelar mentereng yang diberi Ratu Inggris, Knight Grand Cross (Ksatria Salib Agung) semestinya berperan besar dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. Sebagai ksatria, SBY seharusnya memimpin bangsa Indonesia dan dunia dalam memberikan dukungan kemerdekaan Palestina dari penjajahan zionis Israel.

ADA kezaliman di bumi Palestina. Kezaliman berkelanjutan yang tak kunjung usai. Kemanusiaan dihinakan habis-habisan oleh teroris sebenarnya, Israel durjana. Sementara tangan-tangan besi kekuatan dunia di bawah komando Amerika Serikat justru membela sang durjana.

Presiden Mesir, Muhammad Mursi mengambil langkah cepat untuk membantu tetangga terdekatnya yang sedang diserang pasukan zionis Israel. Mursi mengirim Perdana Menteri, Menteri Kesehatan dan Kepala Intelijennya ke Jalur Gaza. Kunjungan PM Mesir membuat Israel menghentikan serangan beberapa jam. Di Kairo, Mursi memanggil Duta Besar Israel untuk Mesir dan menyampaikan protes keras kepada Tel Aviv.

Perdana Menteri Turki,Recep Tayip Erdogan tak kalah keras bersikap kepada Israel dan bekingnya, Amerika Serikat.”Negara besar di dunia sekarang membuat pertempuran dan rakyat Jalur Gaza membayar. Dan sebagai Republik Turki, kami bersama saudara kami di Jalur Gaza dan tujuan adil mereka,” tegasnya.

Pernyataan itu dilontarkan Erdogan setelah AS meminta Turki dan Mesir mendorong Hamas agar menghentikan serangan roket ke dalam wilayah Israel. Tapi Erdogan malah dengan tegas menyalahkan negara Yahudi itu sebagai pangkal krisis yang bertambah parah tersebut.

“Israel menembak rakyat yang tak berdosa ini di Jalur Gaza untuk alasan yang mereka buat-buat,” kata Erdogan

Mursi dan Erdogan bertindak bijak dan cepat dalam menyikapi konflik yang bisa meluas ke seluruh dunia. Tetapi kita belum mendengar pernyataan dan tindakan dari Presiden SBY, sang Ksatria Salib Agung “yang mulia”.

Padahal, spirit Pembukaan UUD 1945 jelas-jelas mengamanatkan agar negara Indonesia ikut aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Mencegah terjadinya penjajahan negara atas negara lain seperti yang kini terjadi pada Palestina yang dijajah Israel.

Presiden SBY dengan gelar mentereng yang diberi Ratu Inggris, Knight Grand Cross (Ksatria Salib Agung) semestinya berperan besar dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. Sebagai ksatria, SBY seharusnya memimpin bangsa Indonesia dan dunia dalam memberikan dukungan kemerdekaan Palestina dari penjajahan zionis Israel.

Sejarah mencatat, pada tahun 1962, Bung Karno tegas-tegas menyatakan keberpihakannya kepada kemerdekaan Palestina.

“…untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” tegas Bung Karno.

Bukan hanya di lidah. Bung Karno pun menolak kesertaan Israel dalam Asian Games 1962. Sikap Bung Karno ini kemudian diikuti oleh banyak negara sampai-sampai Israel tidak bisa diikutkan dalam zona Asia untuk sepakbola karena tak ada yang mau bertanding dengan Israel.

Dalam urusan yang satu ini, Bung Karno jelas lebih ksatria dibanding sang Ksatria Salib Agung “yang mulia”.

Sugih Hartanto, Berita99    17 November 2012 jam 02:26

berita99.com/editorial

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.566 kali, 1 untuk hari ini)