Dimulai sore, injakkan kaki di tanah sawah. Pemandangan indah luasan sawah selalu menjadi salah satu panorama paling disuka. Sore itu, terdengar mulai beberapa kodok berdzikir kepada Rabb mereka. Ada hal yang menarik pula, bahwa mereka ini dzikir sahut-sahutan. Kadang, tak terdengar ada suara kodok. Lalu ada satu kodok di kejauhan memulai dzikir. Kemudian disahut oleh lainnya. Akhirnya saling bersahutan.

Begitu pula dengan karakter tokek. Perlu ada yang memulainya. Kelak akan bersahutan antara penunggu sini dengan sana.

Sore itu, saya sempat susuri balong-balong penduduk dan sungai kecil. Sayup terdengar bacaan ngaji santri suatu pondok tradisional. Yang dibaca adalah Surat al-Waqi’ah. Khas bacaan santri tradisional. Tajwidnya kurang bagus. Tapi oke. Sayup di kejauhan juga terdengar suara komentator sepakbola. Oh, sepertinya ada pertandingan bola tarkam (antar kampung). Jadi teringat Salatiga.

Sore itu, saya menengadahkan kepala ke satu pohon yang tidak begitu rimbun. Tapi terdengar di sana teriakan-teriakan imut anak-anak burung. Ada sarang burung di atas sana. Mereka seperti baru kedatangan induk. Sore hari. Seperti kata Nabi. Burung itu bertawakkal pada al-Khaliq. Pagi hari induknya lapar. Sorenya kenyang dan asupi anak-anaknya dengan pencaharian siang.

Saya menulis ini pada jam 7 pagi ini di tengah sawah, 20 meter dari sungai yang alirannya cukup deras dan suara riakannya begitu berwibawa menantang. Demi Allah, setelah saya menulis fenomena kodok bersahutan, tetibanya ada satu kodok sekitar 2 atau 3 meter kiri saya mengeluarkan suara. Kemudian disambut kodok lainnya di sisi lain. Tetibanya, sekitar saya langsung ramai membahana. Ini takkan terjadi melainkan Allah lah yang mengaturnya.

Kini, sepi kembali. Mereka selesai berdzikir dan komunikasi.

Malam tadi, saya amati ikan-ikan di kegelapan. Dengan senter, saya lihat mereka. Juga udang-udang air tawar yang banyak berjalan mundur. Mereka saling berkomunikasi. Ada juga yuyu atau kepiting air tawar yang punya kesibukan. Belum lagi keong-keong yang sedang safar entah kemana dan entah kapan sampainya.

Di antara pagi yang terindah adalah jika setelah Shubuh, kita baca al-Qur’an atau mudzakarah tafsirnya. Pagi tadi setelah Shubuh, saya mendengar dari ketinggian mushalla, ribuan kodok berdzikir secara berjama’ah di luasnya sawah. Masya Allah. Saya tidak sempat ke sawah setelah Shubuh. Jika ke sana, pasti akan merasakan sensasinya. Bayangkan, ribuan kodok di segala penjuru.

Tapi, cukuplah mendengar dari mushalla yang posisinya di atas. Juga terdengar tokek masih bersahutan. Seolah itulah cara silaturahim mereka, sebagai syukur juga kepada Allah Ta’ala.

Kitab yang saya bawa ke desa ini, yang masih banyak hutannya, adalah kitab Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, atau disohorkan dengan nama Tafsir al-Baidhawy. Sempat membaca beberapa tafsirannya untuk Surat al-Isra’. Saya mendapatkan ini adalah di antara hal terindah yang terasa.

Kemudian fajar mulai pamit, berganti dengan sinar matahari perlahan. Saya melihat beberapa burung kecil beterbangan.

Sekarang, matahari sudah mulai naik. Sayup terdengar alunan vokal Sunda di kejauhan. Beberapa petani telah menceburkan diri di petak masing-masing sejak pagi.

Saya sedih tapinya. Isya semalam, saya ke masjid desa. Satu shaf panjangnya alhamdulillah. Tapi isinya orang tua semua. Tak ada pemuda. Di atas 40 tahun semua. Shubuh tadi saya ke mushalla. Ternyata cuma 3 makmum. Dan orang tua semua.

Saya sedih, jangankan untuk adakan pengajian tafsir klasik di sini. Untuk adakan shalat berjama’ah saja, perlu hati yang kuat untuk tidak segera menangis.

facebook Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 981 kali, 1 untuk hari ini)