DALAM acara pelatihan Sistem Jaminan Halal yang digelar LPPOM MUI, Selasa (16/09/2014) di Bogor, dijelaskan bahwa dalam penelitian tim Tenaga Ahli LPPOM MUI 2010, ditemukan hasil bahwa dalam filter rokok terkandung Hemoglobin atau zat darah berasal dari darah babi.

Saat itu, tim peneliti dipimpin oleh Dr. Anna P. Roswiem, staf pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan, secara kimiawi zat darah babi yang jelas haram ini lazim digunakan untuk menyaring toksin yang terdapat di dalam rokok dengan lebih baik.

Hemoglobin dari darah babi menyaring racun-racun tembakau sehingga racunnya menjadi dapat lebih diminimalisir.

Walau terindikasi menggunakan darah babi pada filternya, beberapa perusahaan rokok sempat mengajukan diri untuk mendapatkan sertifikasi halal dari LPPOM MUI.

Badan sertifikasi halal ini menduga bahwa ini adalah strategi perusahaan rokok untuk mendapat legitimasi keagamaan demi meraih cakupan pasar yang lebih luas.

LPPOM MUI sendiri menolak untuk melakukan sertifikasi halal untuk produk rokok. Alasannya, terdapat fatwa MUI yang mengharamkan rokok walau sifatnya tidak mutlak.

“Kalau suatu produk telah diindikasikan kuat mengarah kepada yang haram, maka produk itu tidak akan disertifikasi halal oleh LPPOM MUI,”ujar Wakil Direktur LPPOM MUI Ir. Muti Arintawati, M.Si. dalam kesempatan yang sama. [eza/Halal MUI/Islampos] Rabu 22 Zulkaedah 1435 / 17 September 2014 11:00

***

LPPOM MUI Tolak Sertifikasi Rokok

Rabu 22 Zulkaedah 1435 / 17 September 2014 09:30

ADA beberapa perusahaan rokok menanyakan dan mengajukan permohonan untuk proses sertifikasi halal, namun permohonan itu ditolak oleh LPPOM MUI.

Penolakan tersebut, karena ada Fatwa MUI yang mengharamkan rokok, walaupun pengharamannya tidak bersifat mutlak. Sebab beberapa ulama ada pula yang berpendapat lain, yakni memakruhkannya, tidak sampai mengharamkan secara total.

Demikian dikemukakan Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Ir. Muti Arintawati, M.Si.

Merokok telah menjadi kebiasaan yang sangat populer, sering dan bahkan selalu dilakukan sebagian warga masyarakat.

Untuk meraih cakupan pangsa yang lebih luas, dan memperoleh legalitas keagamaan, perusahaan rokok itu pun kemudian menanyakan dan mengajukan proses sertifikasi halal ke LPPOM MUI.

“Kalau suatu produk telah diindikasikan kuat mengarah kepada yang haram, maka produk itu tidak akan disertifikasi halal oleh LPPOM MUI,” tuturnya dalam kesempatan pembukaan Pelatihan Sistim Jaminan Halal (SJH), Selasa (16/09/2014) di Bogor.

Dalam fatwa yang ditetapkan dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia tahun 2009 tersebut, keharaman rokok terutama ditujukan bagi wanita hamil, anak-anak dan di tempat umum yang mengganggu orang banyak. [eza/Halal MUI/Islampos]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.899 kali, 1 untuk hari ini)