Lucu-lucuan Bersama Keraton Agung Sejagat dan ‘Penggembosan’ KPK

 


 

Raja dari Keraton Agung Sejagat adalah Totok Santosa Hadiningrat alias Sinuhun saat prosesi kirab Foto: Twitter/@aritsantoso

 

Ketika membaca berita soal Kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang mengklaim seluruh dunia sebagai bagian daerah kekuasaannya, ingatan saya melayang kepada kenangan bertahun-tahun silam. Dulu, saat masih bocah polos dan gampang kagum terhadap hal-hal menakjubkan, saya kerap dibikin terperangah oleh-oleh “fakta-fakta ajaib” karangan pegiat teori konspirasi. Saya pernah membeli buku konspirasi dan selepas membacanya sekonyong-konyong semua hal di sekitar terasa konspiratif.

Teori konspirasi sukses membuat prasangka saya berjalan mendahului akal sehat. Pikiran saya jadi terkondisikan untuk menyederhanakan segala persoalan dan menganggap semua bencana di dunia pasti akibat kelakuan petinggi Amerika atau makhluk dari planet lain. Soal Amerika, memang sih belakangan mereka bikin ulah yang membuat dunia geger, tapi ya bukan berarti teori konspirasi benar, melainkan pemimpinnya saja yang sedang menjelma anak-anak kurang mainan.

***

Demikianlah kenangan tersebut menyambar saya saat melihat deretan foto dan “fakta-fakta ajaib” terkait Keraton Agung Sejagat. Foto pria bernama Totok Santosa Hadiningrat dan Dyah Gitarja—yang tak lain istrinya—mengaku sebagai Sinuhun dan Kanjeng Ratu mendadak viral. Mereka berbusana ala raja dengan iring-iringan “polisi kerajaan” dan latar singgasana yang mewah dan artistik banget.

Dengan kepercayaan diri ala penganut teori konspirasi akut, mereka juga menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya. Dua hal itu mereka lakukan sebagai bentuk menyambut perwujudan janji 500 tahun silam soal kerajaan baru setelah keruntuhan Majapahit pada 1518.

 

Menariknya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menganggap serius soal klaim adanya sejarah keraton di Purworejo. “Sebaiknya bicara dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, agar bisa diketahui, syukur-syukur ada perguruan tinggi yang mendampingi, kalau ada seluruh dokumen (Keraton Agung Sejagat), lebih baik. Bisa untuk didiskusikan agar teruji,” ujar Ganjar dalam pernyataannya, Senin (13/1).

 

Ada beberapa jenis memang tanggapan orang-orang terhadap kehebohan Keraton Agung Sejagat. Pertama, yang menanggapinya dengan serius seperti Ganjar Pranowo dan pemerintah setempat. Kedua, yang menanggapinya dengan jengkel dan amarah, yaitu penduduk setempat yang merasa resah dengan keberadaan Keraton Agung Sejagat yang malam-malam suka mengadakan kegiatan yang berisik banget. Ketiga, yang menanggapinya dengan santai dan menganggap Keraton Agung Sejagat atau KAS tak lebih dari lelucon belaka. Keempat, yang menganggapnya sebagai aliran sesat.


Ilustrasi keraton Agung Sejagat. Foto: Dok: Maulana Saputra/kumparan.

 

Saya memilih berada di jajaran kelompok ketiga. Meskipun saya tidak menampik anggapan kelompok pertama dan kedua juga, sih. Sebab KAS menjadi bermasalah karena mereka mengaku posisinya lebih tinggi daripada NKRI Harga Mati (mereka merasa sebagai penguasa seluruh dunia, je). Bahkan “Raja” KAS Totok Santosa ketika ditanya oleh wartawan apakah KAS masih bagian dari NKRI atau tidak, memilih menjawab secara diplomatis, “Kita bagian dari semuanya.”

Sedangkan soal kedua, dengan pengikutnya yang hampir berjumlah 500, aktivitas KAS bikin warga sekitar resah dan terganggu. Tentu manusiawi saja kalau warga sekitar jengkel setengah mati kepada KAS dan tidak peduli KAS mengaku menguasai seluruh alam semesta pun. Mungkin mereka sewot begini dalam hati, “Bodo amatlah kalian ngaku rintisan Kerajaan Majapahit, berkuasa atas Pentagon, menganggap diri pusat dunia, atau omong kosong lainnya. Selama kalian mengganggu kami, kami tidak peduli sama cocot kalian, kami ingin kalian berhenti bikin kebisingan!”

 

Keraton Agung Sejagat alangkah baiknya kita anggap sebagai lucu-lucuan saja. Hitung-hitung, acara lawakan gratis, lah. Apalagi mereka kayak niat banget menyusun semuanya. Mulai dari interior bangunan kerajaan sampai tata busana Sinuhun dan Kanjeng Ratu. Untuk itu, kita perlu menghargai kerja keras mereka dalam upaya memberi penghiburan kepada kita. Kecuali kalau mereka semakin berulah dan bikin warga makin resah, barulah perlu diluruskan. Bercanda juga tidak boleh kebablasan, kan.

Kalau kita pandang dari sisi lain, Keraton Agung Sejagat juga berperan untuk mengalihkan perhatian kita dari “lucu-lucuan” lain, yaitu soal penggeledahan KPK atas kantor PDIP yang mesti ditunda karena undang-undang baru yang membuat kinerja anggota KPK menjadi terhambat. Adanya ketentuan bahwa penggeledahan baru boleh dilakukan kalau sudah ada persetujuan Dewan Pengawas KPK membuat penggeledahan, yang semestinya tiba-tiba dan tak diketahui siapa pun sebelumnya, menjadi tak ubahnya acara dagelan.

Pada titik ini, adanya Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-undang (Perppu) atas UU KPK yang baru semakin tampak diperlukan. Karena sudah mulai terlihat dampak buruk dari UU KPK. Mau mengadakan penggeledahan saja harus berbelit-belit. Keburu barang buktinya dibawa kabur, dong.

Berbeda dengan Keraton Agung Sejagat yang kadar kelucuannya masih memungkinkan kita untuk tertawa lepas dengan hati gembira, ‘penggembosan’ KPK menyuguhkan kelucuan dari jenis lain. Kelucuan yang—memang—masih membuat kita tertawa. Tapi, tertawa getir dengan hati terasa diiris-iris, karena menyadari semakin hari negeri ini semakin lucu saja. Lucu dan memprihatinkan. (*)


Erwin Setia

 

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.Laporkan tulisan

Tim Editor/ kumparan.com 15 Januari 2020 15:02

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 691 kali, 1 untuk hari ini)