Luhut cs Rapat soal Pembiayaan Ibu Kota Baru, Ini Hasilnya

 

  • Sebagai informasi, total kebutuhan pendanaan untuk proyek ibu kota baru sebesar Rp 466 triliun. Sekitar Rp 123,2 triliun akan didapatkan dari investor swasta dan BUMN, Rp 253,4 triliun lewat Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Rp 89,4 triliun melalui APBN.

     



Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan siang ini memanggil sejumlah pejabat lintas kementerian. Luhut dijadwalkan memimpin rapat koordinasi (rakor) tentang pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur (Kaltim).
Rapat dihadiri Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman, Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani, dan Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Rudy Prawiradinata.

Rudy menjelaskan pertemuan hari ini membahas mengenai strategi pembiayaan pemindahan ibu kota.

“Iya (bahas) ibu kota baru, untuk pembiayaan strateginya gimana, gitu lho,” kata dia ditemui usai rapat dengan Luhut, Senin (24/2/2020).

Terkait investasi swasta di proyek ibu kota baru, dia menjelaskan masih dianalisis. Pemerintah masih perlu memastikan strategi yang tepat. Mengenai pihak swasta yang sudah menyatakan minat, dia belum bisa menjelaskan.

“Kita sih yang kita siapkan mengenai kebutuhan pembiayaannya, mengenai nanti siapa yang masuk investornya, atau siapa itu nanti kita lihat saja perkembangannya, itu kan kebutuhannya bukan di sini, bukan di saya,” jelasnya.

Pemerintah masih memetakan proyek apa saja yang potensial untuk dikerjasamakan dengan swasta melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) di kawasan ibu kota baru.

“Kalau yang KPBU swasta itu kita lihat berdasarkan potensi-potensi yang ini bisa ditawarkan ke swasta. Swasta kan kalau nggak bagus, kalau nggak feasible (layak) mana mau. Jadi kita sudah lihat juga ‘oh ini feasible nih’,” tambahnya.

Sebagai informasi, total kebutuhan pendanaan untuk proyek ibu kota baru sebesar Rp 466 triliun. Sekitar Rp 123,2 triliun akan didapatkan dari investor swasta dan BUMN, Rp 253,4 triliun lewat Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Rp 89,4 triliun melalui APBN.(dtk)

Gelora News 
24 Februari 2020

***

Jokowi Beli Lukisan ‘Petruk Dadi Ratu’ Bikinan Mantan Seniman Lekra/PKI dengan Harga Miliaran

Inilah cuplikan beritanya.

***

Jokowi dan Petruk Dadi Ratu


 

Jokowi dan Petruk Dadi Ratu


Presiden Jokowi baru saja membeli sebuah lukisan menarik. Penuh simbol dan makna.

Lukisan karya mantan tahanan politik Joko Pekik itu berjudul “Petruk Dadi Ratu. Semar Kusirnya.”

Rencananya lukisan besar berukuran 5 X 2 meter itu akan di pasang di istana negara yang baru di Kalimantan Timur.

Dalam artikel di majalah Tempo Edisi 22 Februari 2020 dengan judul “Lukisan Petruk Untuk Istana Baru” Joko Pekik mengaku lukisan itu dibeli Jokowi dengan harga sangat mahal. Miliaran rupiah. Tapi tak dijelaskan berapa harga pastinya.

Dalam lukisan mantan seniman Lekra (organisasi seniman onderbouw PKI) yang pernah lama mendekam di penjara itu, Petruk sedang menyalami kerumunan rakyat jelata yang mengelu-elukannya. Ada petani dan ibu-ibu yang menggendong anaknya.

Di seberang mereka, dibatasi jalan yang membelah kerumunan, berdiri orang-orang berdasi dan berjas, juga deretan gedung yang menjulang. Di belakang Petruk, Semar terlihat mengemudikan kereta kencana.

Kisah “Petruk Dadi Ratu” adalah salah satu episode yang sangat terkenal dalam dunia pewayangan. Ceritanya berupa pasemon, sindiran sekaligus nasehat tentang mengelola sebuah negara.

Petruk adalah seorang raja yang memperoleh kekuasaannya secara tidak sah. Tidak diridhoi dan diberkahi para dewa. Akibatnya negara yang dipimpinnya kacau balau.

 

portal-islam.id, Senin, 24 Februari 2020  CATATANHersubeno Arief (dikutip di sini bagian awalnya saja).

https://www.nahimunkar.org/jokowi-beli-lukisan-petruk-dadi-ratu-bikinan-mantan-seniman-lekra-pki-dengan-harga-miliaran/

 

***

Kisah Penyerangan Sadis PKI ke Pondok Gontor Ponorogo


Posted on 28 September 2018

by Nahimunkar.comNASIONAL


Ngelmu.id – Penyerangan Sadis PKI bermula. “Pondok Bobrok, langgar bubar, santri mati,” inilah yel-yel penuh kebencian yang diteriakkan PKI Madiun pada tahun 1948. Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).

Melalui slogan itu, Penyerangan Sadis PKI dilakukan dengan merusak bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan dan santri dibantai diluar batas kemanusiaan. Lebih ngeri lagi, sebelum slogan itu dikumandangkan di berbadai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kyai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kyai dan santri disembelih secara masal. (Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016,Ayat-ayat yang disembelih, Jakarta : Jagat Publising. Hal. 109)

September 1948, Muso telah menguasai daerah karesidenan Madiun,meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi. Penyerangan Sadis PKI juga mengarah ke Pondok Modern Darussalam yang berada di Gontor Ponorogo juga tidak lepas dari ancaman PKI.

Hijrah atau Melawan PKI

Kyai Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi berembug sangat serius dengan santri senior. Setelah lama berembug, akhirnya ditetapkan bahwa melawan PKI yang lengkap dengan senjata sangatlah tidak mungkin. Akibatnya akan banyak santri yang menjadi korban dari Penyerangan Sadis PKI. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Ada sebuah kisah menarik siapa yang akan tinggal menunggu pondok. Kedua kyai ini benar-benar mengajarkan “Itsar“, bagaimana mereka tidak rela saudaranya menderita. Kyai Imam Zarkasyi berkata “Sudah, pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga pesantren, tidak akan dikenali saya ini.”.

Namun, mendengar kalimat itu Kyai Sahal malah gantian menyanggah, “Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu saja Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu.”.

Kedua Kyai itu berusaha meminta salah satu dari mereka untuk pergi mengungsi. Sungguh bukan nasib mereka yang dipikirkan, tetapi nasib saudaranya dan para santrinya. Akhirnya diputuskanlah para kyai berdua pergi mengungsi dengan para santri.

Penjagaan pesantren diberikan kepada KH. Rahmat Soekarto. Lurah Gontor sekaligus Imam Jumatan di Gontor. Belum sampai melakukan pengungsian, ternyata Pesantren Gontor sudah disambangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga Pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika meninggalkan tempat, akan terjadi bencana besar yang dibuat oleh para tentara PKI Muso.

Menerima surat itu, Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi. Namun, karena ajakan yang cukup kuat dari para santri untuk mengungsi, akhirnya kedua kyai tersebut berangkat mengunsi bersama para santri.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kyai Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta akibat Penyerangan Sadis PKI.

Saat itulah tercetuslah ucapan dari kyai sahal,“Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Pesantren Gontor Diacak-acak PKI

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pesantren gontor. Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Sejumlah letusan senjata, mewarnai ketegangan situasi itu dibeberapa tempat. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang didalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu kedalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda putih pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka. Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. “Pertama, kami datang untuk menemui pimpinan pondok. Kedua, kami mohon diizinkan untuk meriksa seluruh isi pondok” sergahnya kasar.

Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Surah menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri terbuat dari bambu dirusak. Kasur-kasur dibakar, buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sara peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.

Suasana begitu mencekam. PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk kerumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari. Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena sebuan itu. Mereka meninggalkan apa yang mereka bawa dan akhirnya membiarkan Gontor dalam keadaan porak poranda.

Kejahatan, kezaliman PKI itu bukan hanya isu semata. Tetapi fakta sejarah dinegeri ini. Bagaimana dengan kata-kata dan perbuatan mereka membuat berbagai kerusakan. Bahkan mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin dinegeri ini.

Generasi muda merupakan pelanjut estafet perjuangan ini. Sudah selayaknya untuk memahami sepak terjang kejahatan PKI. Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari kejadian dimasa lalu. Agar Jangan sampai terjerumus kedalam lubang yang sama.

Penulis: Ustad Anwar Ihsanuddin

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 130 September 2016 rubrik Jelajah.

Sumber: suaraumat.id/ ngelmu.id

https://www.nahimunkar.org/kisah-penyerangan-sadis-pki-ke-pondok-gontor-ponorogo/

(nahimunkar.org)

 

=========

Lekra Bagian dari PKI – oleh Ajip Rosidi

Ketika suara yang ramai saat ini cenderung ingin memisahkan Lékra dengan PKI, Ajip Rosidi justru menegaskan bahwa lembaga itu adalah bagian dari PKI. Sebagai salah seorang sastrawan yang hidup pada zaman itu, ia memiliki banyak argumen untuk meneguhkan sikap dan pendapatnya yang kukuh./ https://www.lazada.co.id/products/lekra-bagian-dari-pki-ajip-rosidi-i2691833-s3275483.html

 

(nahimunkar.org)