Luhut Tantang Pengkritik Utang Negara, Dosen Ekonomi UI Menyanggupi

  • Melalui akun Twitter pribadinya, Djamester Simarmata menyanggupi tantangan Luhut Binsar Pandjaitan.
    “Caranya gimana? Saya termasuk yang tidak setuju (utang). Tolong ditentukan waktunya, saya persiapkan bahan!” tegasnya, Kamis (4/6).
  • Apa artinya bila total utang telah lebih dari 60 persen PDB?

Inilah beritanya.

***

 

Tantangan Luhut Pandjaitan pada Pengkritik Utang Pemerintah Disanggupi Dosen Senior UI

 
 



Tantangan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan diterima dengan baik oleh dosen senior dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, DR. Djamester Simarmata.

Luhut Pandjaitan sebelumnya menantang setiap pengkritik kebijakan utang negara yang dilakukan pemerintah untuk bertatap muka dengannya.

Dengan bertatap muka, Luhut mengaku ingin berbincang terkait penambahan utang negara selama pandemi virus corona atau Covid-19.

“Jadi kalau ada yang mengkritik kami (pemerintah), sini saya juga pingin ketemu. Jadi jangan di media sosial saja. Nanti ketemu kami, ngomong. Enggak usah ngomong di TV-lah, ketemu saya sini ,” kata Luhut melalui diskusi virtual di Jakarta, Selasa (2/6).

Dengan jumawa, Luhut yang mengaku berlatar belakang ekonomi merasa yakin bisa menjawab setiap data yang disajikan para pengkritik.

“Saya bisalah jawab itu. Tapi, jangan rakyat dibohongin,” kata Luhut.

Bak gayung bersambut, tantangan Luhut diterima oleh dosen senior dari UI yang memang lantang pada kebijakan utang pemerintah.

Dia adalah DR. Djamester Simarmata yang berdasarkan situs http://staff.ui.ac.id, mengajar mata kuliah ekonomi sektor publik. Salah satu buku yang pernah diterbitkannya berjudul “Analisa Proyek Publik dan Pemerataan”, yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit FEUI pada tahun 1990.

Selain itu, Djamester Simarmata juga kerap membuat tulisan di sejumlah media. Salah satunya berjudul “Utang Luar Negeri Gerus Pertumbuhan Ekonomi”.

Melalui akun Twitter pribadinya, Djamester Simarmata menyanggupi tantangan Luhut Binsar Pandjaitan.

“Caranya gimana? Saya termasuk yang tidak setuju (utang). Tolong ditentukan waktunya, saya persiapkan bahan!” tegasnya, Kamis (4/6).

Djamester Simarmata mengaku sudah pernah menerbitkan tulisan mengenai utang pada tahun 2007 lalu. Kala itu tulisannya diterbitkan hingga 24 halaman dalam Jurnal Ekonomi.

“Tentang utang. Dalam Jurnal Ekonomi, no. 1 tahun 2007, paper saya dalam Kongres ISEI di Manado diterbitkan, hal 1-24. Di situ saya hitung, tingkat utang sustainable 29,2 persen PDB, total utang dalam  negeri dan luar negeri. Kemkeu anggap itu hanya ULN. Data 2019 total utang DN+LN telah > 60 persen,” urainya.

Singkatnya, dia memastikan setiap kritik yang disampaikan sudah berdasarkan data dan perhitungan matang. Djamester Simarmata juga memastikan dirinya bukan orang yang sekadar teriak tapi tanpa ada dasar yang jelas.

“Di luar ini saya sedang nulis buku kecil tentang perbankan, moneter, dan pembangunan. Tadinya saya harap jawaban datang dari Menkeu & Wamenkeu,” tuturnya.

“Apa artinya bila total utang telah lebih dari 60 persen PDB? Untuk ini sebelum saya lanjutkan, tolong di cari apa kata Stiglitz, sebab ini terkait dengan isu yang marak baru-baru ini tentang moneter: ada MMT yang dipopulerkan oleh Mardigu, dan saya amat dukung NCT, dekat ide Richard Werner,” demikian Djamester Simarmata. (*)

 

DEMOKRASI News

Kamis, Juni 04, 2020Ikuti

***

Tangani Corona, Utang Pemerintah Melonjak 14% jadi Rp 5.172 Triliun

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

 20/5/2020, 20.57 WIB

Utang pemerintah per akhir April 2020 naik 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 5.172,48 triliun.

ARIEF KAMALUDIN | KATADATA Ilustrasi. Rasio utang pemerintah per April tercatat 31,78% terhadap produk domestik bruto.

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per akhir April 2020 naik 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 5.172,48 triliun. Adapun rasio utang tercatat 31,78% terhadap produk domestik bruto.

Meski meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, posisi utang pemerintah turun dibandingkan bulan sebelumnya Rp5.192,56 triliun. Penurunan juga terjadi pada  rasio utang terhadap PDB yang pada Maret lalu mencapai 32,12%. Adapun hal ini terutama disebabkan oleh apresiasi pada nilai tukar rupiah. 

Mengutip buku APBN KiTa edisi Mei 2020, total utang pemerintah tersebut masih didominasi dalam bentuk Surat Berharga Negara yakni 83,9% atau mencapai Rp 4.338,44 triliun. Sementara utang pemerintah dalam bentuk pinjaman tercatat Rp 834,04 triliun atau 16,1%.

Adapun total SBN tersebut terdiri dari SBN domestik Rp 3.112,15 triliun dan SBN valas Rp 1.226,29 triliun. Lebih perinci, SBN domestik terdiri dari Surat Utang Negara Rp 2.579,4 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara Rp 532,75 triliun. Sementara itu, SBN valas terdiri dari SUN sebesar Rp 995,89 triliun dan SBSN Rp 230,39 triliun.

 (Baca: Penerimaan Pajak Terpukul Pandemi, Defisit APBN hingga April Rp 74,5 T)

Lebih lanjut, total pinjaman terdiri dari pinjaman dalam negeri Rp 9,92 triliun dan pinjaman luar negeri Rp 824,12 triliun. Adapun pinjaman luar negeri berbentuk kerja sama bilateral senilai Rp 333 triliun, multilateral Rp 448,45 triliun, dan dari bank komersial Rp 42,68 triliun.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut realisasi pembiayaan utang sejak awal tahun hingga April 2020 mencapai Rp 223,84 triliun. Ini terdiri dari realisasi SBN Rp 227,58 triliun dan pinjaman negatif Rp 7,78 triliun.

“Dengan demikian realisasi tersebut sebesar 22,2% dari target Perpres 54 tahun 2020,” kata Suahasil dalam konferensi video, Rabu (20/5).

(Baca: Risiko BUMN Gencar Mencari Utang Valas di Masa Pandemi Covid-19)

Dalam Perpres 54 tahun 2020, target pembiayaan utang pemerintah tercatat sebesar Rp 1.006,4 triliun, terdiri dari SBN neto Rp 999,4 triliun dan pinjaman neto Rp 7 triliun.

Realiasi pinjaman yang mencapai angka negatif menunjukkan bahwa realisasi pembayaran cicilan pokok pinjaman lebih besar daripada penarikan pinjaman. Realisasi pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri tercatat sebesar Rp 27,05 triliun dan penarikan pinjaman luar negeri sebesar Rp 19,21 triliun. Sedangkan, penarikan pinjaman dalam negeri tercatat sebesar Rp 500 miliar serta pembayaran cicilan pokok pinjaman dalam negeri belum terealisasi.

Selain itu, kondisi luar biasa yang diakibatkan oleh Covid-19 mendorong pemerintah untuk mengambil langkah luar biasa. Salah satunya dengan kebijakan yang memperbolehkan Bank Indonesia untuk membeli SBN tradable jangka panjang di pasar perdana sebagai last resort/backstop.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

 

katadata.co.id, 20/5/2020, 20.57 WIB

 

***

Haji 2020 Ditiadakan, Dana Rp8,7 triliun Akan Dipakai Perkuat Rupiah

Posted on 2 Juni 2020

by Nahimunkar.org


Ilustrasi kursi kekuasaan. Foto annjhnet

 

Haji 2020 Ditiadakan, Dana Rp8,7 triliun Akan Dipakai Perkuat Rupiah

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) memastikan, akan memanfaatkan dana simpanan yang dimiliki untuk membiayai penyelenggaraan ibadah haji 2020 untuk kepentingan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebab, pemerintah Indonesia resmi tidak mengirimkan jemaah haji pada 2020.

Kepala BPKH, Anggito Abimanyu mengatakan, saat ini BPKH memiliki simpanan dalam bentuk dolar Amerika Serikat sebanyak US$600 juta atau setara Rp8,7 triliun kurs Rp14.500 per dolar AS. Dengan begitu, dana itu akan dimanfaatkan untuk membantu Bank Indonesia dalam penguatan kurs rupiah.

Meski begitu, dia melanjutkan, BPKH bersama dengan Bank Indonesia masih mengkaji lebih lanjut mengenai mekanisme pemanfaatan dana tersebut. Itu ditujukan supaya pemanfaatan dana bisa tetap sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan dalan peraturan yang ada.

“InsyaAllah (akan digunakan karena pengiriman haji batal tahun ini). (Mekanismenya) sedang dalam pengkajian,” kata dia saat dikonfirmasi VIVAnews, Selasa, 2 Juni 2020.

Anggito sebelumnya juga menyampaikan, total dana haji yang dikelola BPKH saat ini telah mencapai Rp135 triliun. Sebagian besar dana itu digunakan untuk mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena sebagian besar dana itu diinvestasikan dalam Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

“Termasuk diantaranya untuk mendukung APBN kita yang membutuhkan dana guna mendukung penanganan covid-19,” ungkap dia pada akhir bulan lalu.

Sebagai informasi, Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan tidak mengirimkan jemaah haji pada 1441 Hijriah atau 2020 Masehi. Hal ini ditegaskan Menteri Agama Fachrul Razi dalam siaran pers via Zoom hari ini, Selasa 2 Juni 2020.

Fachrul Razi menyatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan beberapa hal, diantaranya, Pemerintah Arab Saudi hingga kini belum juga membuka akses penyelenggaraan ibadah haji kepada negara manapun, termasuk Indonesia.

“Akibatnya, pemerintah tidak cukup waktu dalam mempersiapkan pelayanan dan perlindungan jemaah. Berdasarkan hal itu, pemerintah memutuskan untuk tidak memberangkatkan jemaah haji pada tahun 1441 Hijriyah atau 2020 Masehi,” ungkap dia.

Sumber: vivanews

Idtoday.Co Juni 2, 2020

***

Para Pemimpin hendaknya memegang amanah sebaik-baiknya. Karena ada ancaman keras bagi pemimpin yang tidak pegang amanah sebagai berikut.

Ancaman bagi Pemimpin yang Tidak Amanah

Sampaikanlah peringatan ini kepada para pengkhianat amanah umat dan rakyat.

 

1.      Penderitaan dunia dan siksa akhirat.


أوَّلهَا مَلَامَة ؛ وَثَانِيهَا نَدَامَة ، وَثَالِثهَا عَذَاب يَوْمَ الْقِيَامَة ، إِلَّا مَنْ عَدَلَ


Awal (dari ambisi terhadap kekuasaan) adalah rasa sakit, lalu keduanya diikuti dengan penyesalan, setelah itu ketiga diikuti dengan siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang mampu berbuat adil.” (HR. Thbarani) 1“السلسلة الصحيحة” الحديث رقم (349)Silsilah shahihah no 349.


2.      Menyebabkan kehinaan.


وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا


  
 

“Kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat, ia akan menjadi hina dan penyesalan kecuali bagi yang mengambilnya dan menunaikannya dengan benar.” (HR. Muslim)


  
 

3.      Belenggu siksa.


مَا مِنْ أَمْيرٍ عَشَرَةٍ إِلَّا وَهُوَ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْلُولًا حَتَّى يَفُكَّهُ العَدْلُ أَوْ يُوْبِقَهُ الجورِ.


“Tidaklah seorang lelaki memimpin sepuluh orang, kecuali ia akan didatangkan dalam keadaan tangan yang terbelenggu pada hari Kiamat. Kebaikan yang ia lakukan akan melepaskannya dari ikatan, atau dosanya akan membuat dirinya celaka.” (HR. Baihaqi)2 – صحيح لغيره– shahih karena hadits lainnya


4.      Mendapatkan doa laknat dari Rasulullah.


اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ


“Ya Allah, bagi siapa yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka timpakanlah kesulitan kepadanya.” (HR. Muslim)


  
 

5.      Golongan yang paling dibenci Allah


وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ


 “Orang yang paling dibenci allah dan sangat jauh dari allah adalah seorang pemimpin yang zalim. (HR. Tirmidzi)3– hasan gharib, tapi menurut Al-Albani: dhaif.


  
 

6.      Divonis tidak beriman.


لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ


 “Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan padanya.” (HR. Ahmad)4 hadits hasan.


7.      Disiksa di dasar Neraka.


مَا مِنْ حَاكِمٍ يَحْكُمُ بَيْنَ النَّاسِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَلَكٌ آخِذٌ بِقَفَاهُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَإِنْ قَالَ أَلْقِهِ أَلْقَاهُ فِي مَهْوَاةٍ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا


“Setiap pemimpin yang memimpin rakyatnya, pada hari kiamat pasti akan didatangkan. Kemudian malaikat mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya sampai ke langit. Kalau ada perintah dari allah: lemparkanlah, maka malaikat akan melemparkannya ke bawah yang jauhnya adalah empat puluh tahun perjalanan.” (HR. Ibnu majah)5 dhaif menurut Al-Albani.


8.      Penghuni Neraka pertama.


أَوَّلَ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ سُلْطَانٌ مُتَسَلِّطٌ وَذُو ثَرْوَةٍ مِنْ مَالٍ لَا يُؤَدِّي حَقَّهُ وَفَقِيرٌ فَخُورٌ


“Tiga golongan yang pertama kali masuk neraka: pemimpin yang sewenang-wenang, orang kaya yang tidak menunaikan kewajibannya, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Ahmad)6 – sanadnya dhaif.


   
 

9.      Diharamkan baginya syurga.


مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ


“Tidaklah seseorang yang diberi amanah Allah untuk memimpin rakyatnya, sedangkan ia meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya masuk surga.” (HR, Muslim)


  
 

10.   Pemimpin dzalim tanda hari kiamat.


لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتُلُوا إِمَامَكُمْ وَتَجْتَلِدُوا بِأَسْيَافِكُمْ وَيَرِثُ دِيَارَكُمْ شِرَارُكُمْ


“Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian membunuh pemimpin kalian, pedang-pedang kalian banyak sekali meminum darah, dan agama kalian diwarisi (dikuasai) oleh orang-orang yang paling buruk di antara kalian.” (HR. Ahmad)7– sanadnya dhaif


  
 

Wallahu a’lam.


  
 

http://www.konsultasislam.com/

Diberi keterangan derajat haditsnya oleh nahimunkar.org, merujuk Maktaba shamela.


  
 

(nahimunkar.org)


===========


1 وذكر الشيخ الألباني هذا الحديث في “السلسلة الصحيحة” الحديث رقم (349) ، وقال: ((هذا إسناد شامي جيّد)) .


صحيح لغيره دون قوله: “ومن تعلم القرآن  إلخ” وهذا إسناد ضعيف، يزيد بن أبي زياد -وهو الهاشمي الكوفي- ضعيف، وعيسى -وهو ابن فائد- مجهول، وروايته عن الصحابة مرسلة. أبو عوانة: هو الوضاح اليشكري.


وانظر (22758) .


وَفِي البَابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى: حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ


__________


  
 

[حكم الألباني] : ضعيف


  
 

(1) حديث حسن


5 سنن ابن ماجه (2/ 775)


[حكم الألباني]


ضعيف


6 مسند أحمد ط الرسالة (16/ 157)


إسناده ضعيف لآجل عامر العقيلي: ومو ابن عقبة، وقيل: ابن عبد الله، سلف الكلام عليه عند الحديث (9492) .


وأخرجه ابن أبي شيبة 5/296 عن وكيع، بهذا الإسناد.


وأخرجه الترمذي (1642) من طريق عثمان بن عمر، عن علي بن المبارك، به. واقتصر على أول ثلاثة يدخلون الجنة.


  
 

  
 

7 مسند أحمد ط الرسالة (38/ 333)


إسناده ضعيف كسابقه


سنن الترمذي ت شاكر (4/ 468)


عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتُلُوا إِمَامَكُمْ، وَتَجْتَلِدُوا بِأَسْيَافِكُمْ، وَيَرِثَ دُنْيَاكُمْ شِرَارُكُمْ»: [ص:469] هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو


__________


[حكم الألباني] : ضعيف

 
 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 809 kali, 1 untuk hari ini)