foto ytb


Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

“Natal bukanlah sekedar mengenang kelahiran tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat. Ia datang membawa rahmat. Kata-katanya tak membawa kesumat tetapi mendatangkan selamat. Nasehatnya tidak meninabobokkan, tetapi memberi jalan keluar yang mencerahkan. Tegurannya bukan penghujatan tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal menyenangkan tetapi mengembalikan martabat kemanusiaan.”(Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Agama RI)

Isa dalam Pandangan Islam dan Nasrani

Kutipan di atas diambil dari pidato menteri agama dalam menyampaikan pesan Natal kepada kaum Nasrani, dan pidato demikian menjadi ritual tahunan menjelang perayaan Natal. Yang berbeda dari pidato Lukman Hakim ada sedikit nuansa dan penekanan. Momentum pidato seperti ini seringkali ditafsirkan dan membawa implikasi yang mendalam di masyarakat, khususnya kaum muslimin.

Apa yang disampaikan oleh Lukman Hakim dengan mengucapkan selamat Natal memiliki implikasi dan membahayakan akidah umat Islam, dimana keyakinan umat Islam dan Nasrani sungguh berbeda tentang Isa. Setidaknya ada beberapa perbedaan yang bisa dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, status antara hamba dan tuhan. Kalau umat Islam berkeyakinan bahwa Isa adalah hamba sebagaimana manusia-manusia yang lain. Dia adalah ciptaan Allah dari keturunan dan silsilah orang yang baik. Sementara kaum Nasrani meyakini bahwa Isa bukan sekedar manusia biasa tetapi manusia setengah tuhan. Keagungan Isa tidak lepas dari ibu yang melahirkannya, yang dikenal sebagai perempuan yang mulia karena menjaga kesucian dirinya.

Kedua, pembawa risalah kenabian. Dalam Islam diyakini bahwa Isa adalah seorang hamba sebagaimana manusia pada umumnya namun dia menerima amanah berupa wahyu yang harus disampaikan kepada umatnya. Dia memiliki keutamaan seperti bisa menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan penyakit, dan merubah gumpalan tanah menjadi burung. Semua keutamaan itu karena izin dan kekuasaan Allah. Semuanya merupakan mukjizat untuk memperkuat risalah kenabiannya. Sementara bagi kaum Nasrani, Isa adalah sosok suci yang dilahirkan dari rahim seorang Ibu dan dipercayai sebagai manusia anak tuhan. Berbagai kelebihan seperti menghidupkan orang yang sudah maati, menyembuhkan penyakit, serta mengubah tanah menjadi burung, dianggap sebagai bukti ketuhanannya.

Ketiga, perlakuan terhadap Isa. Dalam Islam, Nabi Isa diperlakukan sebagaimana nabi-nabi lainnya. Nabi Isa sebagai hamba Allah yang menyampaikan risalah tauhid dan mengagungkan Allah sebagai Maha Pencipta dan Pemelihara alam semesta, maka dia diakui sebagai seorang nabi yang layak dihormati kenabiannya. Sementara bagi kaum Nasrani, Isa dianggap derajatnya sederajat seperti tuhan, sehingga pengagungannya seperti mengagungan seperti mengagungkan  Tuhan.

Ucapan Selamat Natal dan Bahayanya Terhadap Akidah

Ucapan selamat Natal bagi kebanyakan orang dianggap sesuatu yang lumrah dan tidak memiliki dampak apa-apa. Pada dalam Islam, ucapan itu mengandung sejumlah keyakinan yang bahwa telah lahir anak Tuhan, dan hal ini merpakan kemungkaran yang merusak akidah umat Islam. Dalam Islam dosa besar, hingga langit pecah, bumi terbelah, dan gunung runtuh, karena ucapan itu. Keyakinan bahwa Tuhan memiliki anak bukan saja tidak mungkin, tetapi mustahil.

Sementara dalam keyakinan agama Nasrani, Natal merupakan peristiwa agung yang  memperingati kelahiran Isa (Yesus), yang diyakini sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Oleh karena itu, jika umat Islam mengucapkan selamat Natal berarti ikut andil dalam mengakui bahwa anak Tuhan telah lahir, meskipun secara tidak langsung. Keyakinan kaum Nasrani bahwa Yesus adalah Tuhan yang harus dihormati atau disembah karena memiliki sejumlah keutamaan, sebagaimana yang dijelaskan di atas (menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang, atau mengubah tanah menjadi burung).

Sementara dalam Islam, Isa adalah seorang hamba yang memiliki tugas sebagai nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu kepada manusia. Nabi Isa tidak pernah memerintahkan kepada manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya. Dia membantah keyakinan orang-orang (Nasrani) yang menyakini dirinya sebagai Tuhan dan harus disembah (QS. Al-Maidah : 116). Bahkan Nabi Isa menyatakan bahwa tugasnya, sebagaimana nabi-nabi terdahulu, adalah memerintahkan kepada manusia untuk menyembah dan mengagungkan Allah. Allah tidak lain adalah Tuhan sebenarnya, dan satu-satunya Dzat yang wajib disembah oleh seluruh umat manusia.

Kalau ada tokoh atau pemuka Islam yang menyatakan bahwa ucapan selamat Natal bersifat pengakuan dan tidak ada implikasi pada rusaknya akidah. Maka hal ini bukan hanya salah, tetapi mengesampingkan petunjuk Al-Qur’an dan pandangan para ulama yang melarang mengucapkan selamat Natal. Bahkan ketika seorang muslim tidak mengucapkan selamat Natal dianggap tidak memiliki toleransi terhadap agama lain.

Toleransi pada hakekatnya adalah tidak terlibat dalam mencampuri urusan agama lain. Tidak mencampuri urusan agama berwujud tidak ikut membenarkan agama orang lain dan ikut  merayakan nilai-nilai agama orang lain. Oleh karena, mengucapkan selamat Natal atau menghadiri acara atau ritual agama lain merupakan bentuk toleransi yang salah kaprah. Tidak mengganggu eksistensi agama atau membiarkan mereka melaksanakan agama mereka secara leluasa merupakan bentuk toleransi yang sebenarnya. Toleransi seperti ini sudah diterapkan sejak jaman Nabi dan para khalifah sesudahnya.

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 28 Desember 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.053 kali, 1 untuk hari ini)