Mohammad Natsir DDII Vs Harun Nasution IAIN Jkt, Munawir Sjadzali Menag, Gus Dur NU, Nurcholish Madjid Liberal./ foto dok net/ggl

 

Catatan dari Peluncuran Buku:

Biografi Mohammad Natsir Terbitan Pustaka al-Kautsar Jakarta/ 656 halaman, Rp 185.000

 

Sebenarnya saya minta waktu untuk sedikit bicara di acara peluncuran buku Bigrafi M Natsir di pameran buku IIBF di JCC Senayan Jakarta, Sabtu 07 September 2019, yang diselenggarakan Penerbit Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Mumpung ada Pak Akbar Tanjung menterinya Pak Harto yang sebelumnya adalah pemimpin redaksi Harian Pelita tempat saya kerja. Dan ada Gubernur Anies Baswedan dan tokoh-tokoh lainnya.

Qadarullah, waktu habis, dan bahkan tidak lama berselang sudah ada pengumuman agar gelas-gelas pun segera dibenahi karena akan segera ditempati untuk acara lain di Panggung Utama itu.

Apa yang akan saya kemukakan tapi gagal di acara itu, kini akan saya sajikan saja kepada pembaca di sini.

Menurut pandangan saya, Pak Natsir (Mohammad Natsir) tokoh Islam internasional, tokoh Masyumi, pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) telah mampu menundukkan Presiden Soeharto sejak 1985-an. Mari kita telusuri.

Ketua MUI perama adalah Buya Hamka, sejak didirikannya oleh Presiden Soeharto 1975. Berakhir dengan pengunduran diri Buya Hamka dari jabatan Ketua MUI. Beliau pilih mundur daripada mengikuti saran Menteri Agama Alamsah Ratuperwiranegara.

Buya Hamka pilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI ketimbang mencabut “Fatwa haramnya mengucapkan selamat Natal dan ikut merayakannya”.

Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut …. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Harian Pelita. (voa-islam.com)

Keteguhannya dalam memegang fatwa haramnya natal bersama inilah yang kemudian membuatnya mengundurkan diri dari Ketua Majelis Ulama Indonesia. Tak berapa lama setelah fatwa itu dikeluarkan (dikeluarkan pada 1 Jumaidil Awal 1401 atau 7 Maret 1981), kemudian pada 24 Juli 1981, Buya Hamka wafat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allahyarham Mohammad Natsir, teman karib seperjuangan yang menyaksikan detik-detik wafatnya Buya Hamka kemudian memanjatkan doa tulus bagi seorang pejuang dan pengawal akidah umat. https://www.nahimunkar.org/fatwa-tegas-dari-ulama-buya-hamka-2/

Kemudian MUI dipimpin oleh KH Syukri Ghazali, 1981-1984, ulama dari kalangan NU. Lalu digantikan KH Hasan Basri 1984-1985 (sementara) dan resmi 1985-1990 dan kemudian masih terpilih lagi.

Dijadikannya ketua umum MUI, Hasan Basri dari Masyumi yang dekat dengan M Natsir ini membuat banyak mata terbelalak. Bagaimana ini (sikap Presiden Soeharto), tokoh Masyumi kok diangkat jadi ketua umum MUI.

Lebih mengagetkan lagi, begitu resmi dingkat jadi ketua umum MUI langsung jadi Amirul Hajj Indonesia 1985. Bahkan tidak lama kemudian diundang dalam forum internasional yang bukan acara Islam. KH Hasan Basri menegaskan dalam forum internasional itu (saya lupa Namanya, tapi saya diceritai oleh KH Hasan Basri untuk dimuat di koran Harian Pelita tempat saya kerja.) Beliau tegaskan bahwa tema yang diangkat dalam pidato internasional itu adalah kokohnya suatu bangsa dan negara adalah bila umara’ (penguasa negara/ pemerintahan) Bersatu dengan ulama, maju Bersama.

Rupanya gaung dari pidato KH Hasan Basri, orang yang dekat dengan M Natsir ini, ada atsarnya (pengaruhnya). Bahkan Hasan Basri menggagas untuk menghindari masalah riba bank yang telah jadi pembicaraan masyarakat.

Selaku Ketua Umum MUI, Hasan Basri mendengarkan keluhan tersebut. Ia segera menindaklanjutinya dengan menggelar seminar bertajuk “Bank Tanpa Bunga” di Hotel Safari, Cisarua, pada Agustus 1989. Acara ini dihadiri oleh para pakar ekonomi, pejabat Bank Indonesia (BI), menteri terkait, serta kaum ulama.

Hasil seminar ini dibawa ke Musyawarah Nasional (Munas) MUI yang digelar di Jakarta, pada 22-25 Agustus 1990. Munas ini sekaligus memilih kembali Hasan Basri untuk terus memimpin MUI, salah satunya agar rencana pendirian bank Islam itu dapat terwujud (Nur Hidayat Sardini, 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah, dan Pemikiran, 2016: ix).

Diputuskan bahwa MUI akan memprakarsai bank tanpa bunga atau bank syariah. Namun, Presiden Soeharto masih sulit menerima usulan itu sehingga dilakukanlah pendekatan, termasuk melalui Menteri Riset dan Teknologi yang juga tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie.

Akhirnya, Soeharto setuju, bahkan turut menggalang dana untuk modal awal. Pada 1 November 1991, Bank Muamalat Indonesia (BMI) diresmikan dan menjadi bank syariah pertama di Indonesia. Hasan Basri ditunjuk menjabat sebagai Presiden Direktur BMI (Darul Aqsha, dkk., Islam in Indonesia: A Survey of Events and Developments from 1988 to March 1993, 1995: 187).

Selain aktif di MUI dan BMI, Hasan Basri juga menjadi anggota Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sejak 1993. Posisi ini masih diemban sang kiai hingga wafat pada 8 November 1998 pada usia 78 tahun. (lihat https://tirto.id/kh-hasan-basri-politikus-ketua-mui-penggagas-bank-muamalat-cRHT).

 

Di saat MUI masih di bawah kepemimpinan KH Hasan Basri itu Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di bawah pimpinan M Natsir gencar menyuarakan solidaritas dunia Islam lewat komite yang disebut KISDI (Komite untuk Solidaritas Dunia Islam) dipimpin Ahmad Sumargono, Husein Umar DDII dan lain-lain. Kemudian ketika Komunis runtuh, Uni Soviet bubar 1991, hingga Yugoslavia pun buyar, dunia Islam disebut sebagai satu-satunya musuh bagi raksasa dunia (Amerika), karena tadinya dua musuh yakni Komunis dan Islam, tinggal Islam saja. 70 tahun komunis bercokol di Uni Soviet, ternyata runtuh 26 Desember 1991.

 

Di Eropa, komunis Yugoslavia yang sedang gencar-gencarnya memusuhi Islam hingga nama-nama yang berbau Islam pun dikenai hukuman atau diganti, qadarullah ikut runtuh. Nah, Serbia sebagai yang cukup besar dibanding negeri lainnya akan mengembalikan diri sebagai Serbia Raya, maka diseranglah negeri Islam yakni Bosnia Herzegovina.

 

Begitu umat Islam Bosnia-Herzegovina diserang scara sangat sadis oleh Serbia komunis-kristen orthodox, maka Dewan Da’wah pimpinan M Natsir melalui KISDI-nya membentuk KSMB (Komite Solidaritas Muslim Bosnia). Tabligh2 akbar di gelar di mana-mana di berbagai kota. Tamu2 dari Bosnia-Herzegovina dan Kroatsia berdatangan ke Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pimpinan M Natsir di Jakarta, dan pangkalan centralnya sementara di Malaysia. Saya (Hartono Ahmad Jaiz, selaku wartawan) ikut terbang tamu yang berdatangan dari Eropa ke DDII itu di antaranya ke Jogjakarta untuk Tabligh Akbar soal nasib Muslim Bosnia yang diserang secara sadis mengerikan oleh Serbia. Tabligh akbar di Jogja itu diselenggarakan Dewan Da’wah Jogjakarta, dipimpin Pak Saefullah Mahyuddin dan juga Pak Amien Rais.

Umat Islam pun sangat bersemangat menyumbangkan apa saja untuk Muslim Bosnia yang diserang komunis-kristen Ortodox Serbia.

 

Anehnya, Menteri Agama Munawir Sjadzali tampaknya sangat gusar dengan maraknya Umat Islam digerakkan DDII menggalang dana solidaritas untuk Muslim Bosnia itu. Menag Munawir menyuara: Perang Bosnia bukan Perang Agama…! (teriak Menteri Agama Munawir Sjadazli yang sejak 1985-an tampak jelas berseberangan keras dengan DDII sambil merangkul NU dan kaum pembaharu Nurcholish Madjid, Gus Dur dan sebagainya yang kini dikenal sebagai tokoh liberal Pluralisme agama, alias kemusyrikan baru). Namun teriakan Munawir Sjadzali itu bagai tak digubris Umat Islam.

 

Yang mengagetkan, justru lewat Pak Probo Sutejo (adik Pak Harto), Presiden Soeharto itu mendekati MUI dan mendukung KSMB bikinan Dewan Da’wah itu menjadi tingkat nasional. Bahkan MUI dikirim pula untuk ke Bosnia, dan alhamdulillah saya ditugaskan oleh Dewan Da’wah dan Harian Pelita untuk bersam MUI itu ke Bosnia. Bahkan akhirnya Prsiden Soeharto mendirikan masjid di Bosnia dengan nama Masjid Mohammad Soeharto.

 

Jadi, menurut pandangan saya, Prsiden Soeharto diam-diam mengamini langkah-langkah Pak M Natsir ketua Dewan Da’wah yang memang tokoh Islam internasional. Bahkan pada awal pemerintahan Soeharto, menurut penuturan pihak Dewan Da’wah (waktu peluncuran buku di JCC Jakarta tersbut), dia katakan, Presiden Soeharto pernah minta tolong kepada M Natsir untuk berhubungan baik dengan Malaysia yang pernah konflik dengan Indonesia waktu pemerintahan Orde Lama.

 

Bukti selanjutnya, ketika Menag Munawir Sjadzali berakhir jabatannya tahun 1993, lalu Presiden Soeharto mengangkat Dr Tarmizi Taher sebagai Menteri agama.

Sekadar info, (saya sering diajak Pak Tarmizi Taher dalam perjalanan ke aerah-daerah) beliau mengatakan, dirinya adalah (orang Padang/ Minang sebagaimana M Natsir) murid tokoh Masyumi KH Ghofar Ismail ayahnya penyair terkenal Taufiq Ismail orang Dewan Da’wah. Bahkan seingat saya, Pak Menag Tarmizi Taher datang ke Surabaya (saya juga ikut) untuk meresmikan Masjid Dewan Da’wah yang dipimpin KH Misbach.

 

Saat Menag Tarmizi Taher jadi Menteri Agama, beliau tampaknya menurut pandangan saya, berdiri di dua kaki. Satu kaki ke Dewan Da’wah, dan satu kakinya lagi ke warisan binaan Menag Munawir Sjadzali yakni kaum liberal Nurcholish Madjid cs, hanya saja tidak sebegitunya ke Gus Dur NU.

 

Beda sekali dengan Munawir Sjadzali. Walau dia (Munawir) ‘pembantunya’ Presiden Soeharto, namun (entah kata orang bahwa dia itu orangnya Beni Moerdani yang diduga anti Islam itu benar atau tidak) kenyataannya sangat menentang langkah-langkah M Natsir dan kebanyakan Umat islam. Begitu KH Hasan Basri diangkat jadi ketua umum MUI, Kopassus mengadakan shalat jamaah tarawih dengan menghadirkan KH Hasan Basri (yang hal itu menunjukkan bahwa Pak Harto tampaknya mengarah ke Islam), Direktur Pertamina diganti dengan orang Aceh, pak Ramli, dengan mengadakan shalat tarawih di aula besar kantor Pertamina Pusat di Jakarta dengan menghadirkan KH Hasan Basri; maka menag Munawir Sjadzali bagai “kuda liar” (maaf).

 

Munawir Sjadzali menggerakkan dirinya sendiri, Nurcholish Madjid, dan Gus Dur untuk menyuara sejadi-jadinya tentang Islam.

Munawir Sjadzali: Hukum waris Islam tidak adil (karena anak laki-laki mendapat warisan dua bagian dibanding anak perempuan satu bagian, ditegaskan dalam Surat An-Nisaa’: 11).

 

Awalnya Munawir Mempengaruhi Ketua Komisi Fatwa MUI Prof KH Ibrahim Hosen LML untuk mempertanyakan (mempersoalkan) ayat 11 Surat An-Nisaa’ soal hukum waris Islam terebut dengan dipidatokan di kampus IIQ Jakarta, seberang IAIN/ UIN Jakarta.

 

Bulan berikutnya, awal Mei 1985, saya ‘labrak’ Prof Ibrahim Hosen itu, ketika sedang naik pesawat Hercules dari Jakarta ke Pontianak karena akan ada MTQ Nasional di Pontianak yang dibuka langsung oleh Presiden Soeharto, sedang Ibrahim Hosen termasuk dewan hakim. Di dalam pesawat itu saya berdiri di depan beliau (Ibrahim Hosen) yang juga sedang berdiri (mungkin mau ke kamar kecil), saya persoalkan tentang pidatonya bulan kemarin, saya tunjukkan majalah Suara Masjid (Tuliasn Pak HM Yunan Nasution) terbitan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang menghantam pidato ketua Komisi fatwa MUI yang mempersoalkan ayat tentang waris tersebut.

 

“Ah… saya hanya diminta oleh Menteri Agama Pak Munawir Sjadzali…” jawab Ketua Komisi Fatwa Prof Ibrahim Hosen (ayahnya Nadirsjah Hosen yang kini dikenal tokoh liberal NU di Australia) itu dengan gemetaran, tampak ketakutan.

 

Balakangan, justru Prof KH Ibrahim Hosen itu mengundang saya, dan menunjukkan dirinya menulis surat kepada presiden Soeharto, isinya menggugat pemikiran Menag Munawir Sjadzali yang ingin mengubah hukum waris Islam. Dan saya diminta mewawancarai ketua komisi fatwa MUI ini, kemudian diedarkan lewat Harian Pelita.

 

Keberanian Prof Ibrahim Hosen membantah Menag Munawir Sjadzali itu dengan dikorankan dan dikirim surat ke Presiden Soeharto, hasilnya justru Presiden Soeharto dekat dengan MUI lewat Probosutejo, adik Pak Harto. Dan menurut pandangan saya, dekat juga dengan Dewan Da’wah, hanya tidak mau terang-terangan, tapi dengan mengganti Munawir Sjadzali dengan Tarmizi Taher orang Padang murid kyai Masyumi KH Ghofar Ismail ayah penyair Taufiq Ismail, yang kemudian menag Tarmizi Taher akrab dengan Dewan Da’wah.

 

Kembali ke Menag Munawir yang bagai ‘kuda liar’ (maaf), bahkan Menag Munawir Sjadzali pidato di acara wisuda sarjana IAIN Jakarta 1987, mengatakan bahwa ada 7 ayat (Al-Qur’an) yang kini tidak relevan lagi, yaitu ayat milkul yamiin (budak). Jadi sebelum heboh disertasi Abdul Aziz soal milkul yamin yang intinya disertasi menghebohkan itu ‘menghalalkan seks tanpa nikah’ di UIN Jogja yang kini (2019) ramai, itu Menag Munawir Sjadzali tahun 1987 sudah berpidato resmi (yang saya juga hadir di acara wisuda sarjana IAIN Jakarta), kata dia, ada 7 ayat yang kini tidak relevan lagi yaitu ayat milkul yamin (budak) itu.

Keruan saja mencuat berita di media saat itu, kyai NU kenamaan, KH Ali Maksum dari Krapyak Jogja saat itu, menyindir Menag Munwir Sjadzali, bahwa menurut satu kitab, itu sudah murtad.

 

Di samping Munawir Sjadzali, Nurcholish Madjid bersuara lantang pula, memaknakan Laa ilaaha illallaah menjadi: Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Hebohlah masyarakat Islam. Apa maunya doctor keluaran Chicago Amerika itu.

 

Gus Dur yang memimpin NU bilang: Assalamu’alaikum (diganti) dengan selamat pagi, karena sama saja baiknya. (Heboh pula di masyarakat).

https://www.nahimunkar.org/sejarah-gus-dur-mengganti-assalamualaikum-dengan-selamat-pagi/

 

Masa’ bisa sih, assalamu’alaikum mau diganti dengan selamat pagi? Apakah bisa ketika shalat diakhiri dengan ‘selamat pagi’ tengok kanan, kemudian ‘selamat pagi’ tengok ke kiri?

Ramailah pokoknya saat itu, berlama-lama.

 

Disamping Munawir Sjadzali mengobarkan pikiran2 aneh nyleneh mengusik Islam Bersama dua temannya (hingga disebut oleh Prof HM Rasjidi, mereka itu bagai Simponi yang bersahut-sahutan), masih pula “Mengganyang” M. Natsir dkk dengan cara meliberalkan dosen-dosen IAIN dan STAIN (yang belakangan sebagian jadi UIN), dengan secara besar-besaran mengirimkan dosen-dosen perguruan tinggi Islam itu ke barat, negeri2 kafir, untuk atas nama studi Islam. Mereka agar mengikuti jejak Harun Nasution keluaran McGill Kanada yang tidak percaya taqdir, dan mengubah kurikulum IAIN, STAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia 1985, dari ahlussunnah ke aliran sesat Mu’tazilah. Alasannya, ketika saya wawancarai di Pascasarjana IAIN Jakarta sebelum 1990-an, kata Harun Nasution, kalau tidak diubah kurikulumnya maka tidak akan maju, karena masih percaya taqdir. Astaghfirullahal ‘adhiem.

Perlu diketahui, aliran sesat Mu’tazilah itu tidak menyebut Al-Qur’an itu Kalamullah, tapi disebutnya makhluq. Akibatnya, ada dosen-dosen IAIN yang menulis lafal Allah (lafal dari Al-Qur’an) lalu diinjak dengan sepatunya di depan para mahasiswa. (Di Indonesia, Dosen IAIN Surabaya dan STAIN Jember Mendemonstrasikan Menginjak-injak Lafal Allah https://www.nahimunkar.org/dihukum-mati-karena-merobek-dan-menginjak-al-quran-di-arab-saudi/ ).

Benar atau tidaknya suara orang bahwa Munawir Sjadzali itu orangnya Beni Moerdani (yang belakangan konon Pak Harto renggang hubungannya dengn Beni), yang jelas langkah-langkah Munawir Sjadzali selaku Menteri agama telah ‘sukses’ menggerakkan Nurcholish Madjid, Harun Nasution, dengan IAIN (kini sebagian jadi UIN), STAIN dan lainnya se-Indonesia mengarah ke sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism agama alias kemusyrikan baru). Lihat buku ‘Ada pemurtadan di IAIN’ karya Hartono Ahmad Jaiz.

https://www.nahimunkar.org/jangan-dikira-penyesatan-di-uin-iain-stain-dll-perguruan-tinggi-islam-di-indonesia-itu-hanya-kebetulan/

 

Di samping itu, Menag Munawir Sjadzali cukup sukses meliberalkan NU lewat Gus Dur, Masdar F Mas’udi dan konco-konconya. Semua itu dalam menghadapi M Natsir dan muslimin pengikutnya, yang mampu ‘menundukkan’ Presiden Soeharto belakangan, setelah 25 tahun berkuasa (belakangan selama 7 tahun, bahkan kalau dilihat dari tahun 1985 berarti 13 tahun Presiden Soeharto cenderung memberi kesempatan pada Islam). Sehingga, Munawir Sjadzali gas poll (habis-habisan) menggerakkan sekulerisme, pluralism agama dan liberalisme alias kemusyrikan baru lewat tokoh2 nyleneh, NU, dan IAIN, UIN, STAIN dan lainnya; dalam melawan Gerakan Da’wah M Natsir dan Umat Islam. Sedang Presiden Soeharto justru sejalan dengan langkah M Natsir dan Umat Islam, belakangan.

 

Akhirnya tentu saja pihak sepilis, munafiqin, kafirin, musyrikin dan anti2 Islam lainnya Bersatu padu, ditambah orang-orang yang terkecoh. Hingga terjadilah apa yang terjadi, berakhirlah kepemimpinan Presiden Soeharto.

 

Di balik itu hingga kini warisan Menag Munawir Sjadzali di berbagai UIN, IAIN, STAIN dan sebagainya sering menimbulkan hal2 nyleneh yang merusak Islam.

 

Mereka yang dibicarakan ini telah meninggal dunia, ada di alam barzah, di alam kubur. Mereka tinggal menikmati balasannya, kalau itu merugikan Islam, betapa beratnya akibat yang mereka tanggung. Dan bila itu berupa warisan menguntungkan Islam, maka betapa ni’matnya balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga ini semua jadi peringatan benar2 bagi kita semua, yang pasti akan mati dan mempertanggung jawabkan segala apa saja tingkah laku masing2.

 

(Mereka itu sudah meninggal, kenapa dibicarakan? Al-Jawab, karena untuk menyelamatkan Umat Islam, agar tahu duduk soal penyesatan yang telah mereka hembuskan. Dan sebaliknya, perjuangan Islam atau pemberian peluang terhadap Islam pun agar jadi pelajaran bagi umat Islam bahwa itu bermaslahat bagi Umat Islam. Hendaknya disyukuri, alhamdulillah. Semoga maklum).

 

Jakarta, Sabtu malam, 8 Muharram 1441H/ 7 September 2019.

 

Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku-buku Islam: ada 42 judul buku yang telah terbit dan beredar, di antaranya ‘Ada Pemurtadan di IAIN’, ‘Aliran dan Paham Sesat di Indonesia’ … https://www.nahimunkar.org/apa-saja-buku-yang-telah-ditulis-oleh-hartono-ahmad-jaiz/

 

(nahimunkar.org)