M Saelan- kiri–  dan Masjid Teja Suar di Cirebon yang dijual ke pengusaha showroom mobil diduga seharga 30 miliar rupiah./foto rdrcrbn

Inilah sosok M Saelan dan Masjid Teja Suar di Cirebon yang bersejarah namun dia jual, hingga mengagetkan banyak pihak terutama para tokoh Islam.

Berikut ini tulisan yang menuturkan sosok M Saelan yang kini jadi pembicaraan karena masjid yang dibangun dan dinamai nama bapak dan ibunya (Teja dan Suari) dia jual. 

***

M Saelan, Mantan Kiper Tim Indonesia dan Komandan Cakrabirawa

MASJID Teja Suar sontak menjadi buah bibir, setelah media ramai-ramai memberitakan bahwa masjid bersejarah itu, dijual oleh pemiliknya. Masyarakat pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya HM Saelan, sosok pemilik masjid yang berlokasi di Jl Tuparev, Kabupaten Cirebon itu?

Syahroni, mantan muadzin masjid Teja Suar menceritakan panjang lebar sosok M Saelan dan sejarah masjid Teja Suar. Syahroni tinggal di Masjid Teja Suar saat masih bersekolah, sekitar tahun 1979-1990. Selain dirinya, mantan wakil walikota Cirebon Dr H Agus Alwafier By MM tinggal di Masjid Teja Suar sejak tahun 1976 sampai 1988. Karenanya, baik dirinya maupun Agus Alwafier sudah sangat mengenal sosok M Saelan.

Menurut Syahroni, nama lengkap Saelan sebenarnya adalah Mauli Saelan. Yang bersangkutan sebenarnya berlatar belakang militer dengan menyandang perwira tinggi. Hanya saja, dia tidak mengetahui secara detail bintang berapa yang disandang Saelan.

Meskipun jenderal, namun sosok Saelan tidak banyak bicara. Kalaupun berbincang dengannya, biasanya seputar memakmurkan masjid. Sedangkan untuk berbicara di luar masjid hampir jarang dilakukan. Sosok Saelan, masih kata guru PAI SMAN 4 itu, pernah menjadi kiper tim sepakbola Indonesia tahun 1952. Saat ini, Saelan berusia sekitar 85 tahun.

“Dulu saat saya masih menjadi muadzin di Masjid Teja Suar, kalau liburan HM Saelan sering ke Cirebon termasuk bertemu anak-anaknya,” ungkap Syahroni.

Namun dia mengaku tidak terlalu akrab dengan anak-anak M Saelan. Rumah sebelah masjid yang kebetulan milik keluarga M Saelan, sering ditempati  Syahroni jika M Saelan dan keluarga tidak berada di Cirebon. “Tapi kalau M Saelan ke Cirebon, saya memilih tidur di masjid. Sosok Saelan termasuk orang yang konsen dengan agama Islam. Setiap Idul Adha, Saelan selalu kurban dua ekor sapi,” bebernya.

Nama Masjid Teja Suar pun memiliki makna tersendiri. Saelan memilih nama Teja Suar karena kata Teja sebenarnya nama ayahnya sendiri. Sedangkan Suar memiliki makna mercusuar yang bisa menerangi semua pihak. Tidak heran jika perkembangan Teja Suar saat itu menjadi masjid rujukan umat Islam di wilayah Cirebon. Bahkan Masjid Raya At-Taqwa saat itu belum terkenal seperti Teja Suar. Bukan hanya itu, berbagai kegiatan di Masjid Teja Suar, banyak pembicara yang didatangkan langsung dari ITB. Masjid itu berdiri di atas tanah sekitar 3.000 meter persegi.

“Tugas saya saat itu sebagai muadzin dan jemput khotib Jumat. Satu jam sebelum subuh, saya biasanya adzan membangunkan umat Islam persiapan salat subuh,” kata Syahroni.

M Saelan yang mendirikan lembaga pendidikan Al Izhar Pondok Labu Jakarta  ini, ternyata mantan komandan Cakrabirawa. Bagi Saelan, orang yang paling berpengaruh di hidupnya adalah ayahnya yang keras dan memiliki mental kuat. Ayahnya juga penggemar sepakbola dan dulu pemain kiri dalam Oliveo, klub terkenal di Jakarta sebelum perang. Tiap pagi, Saelan diajak latihan lari sepanjang 3-5 kilometer. Sore latihan reaksi di lapangan tenis tidak jauh dari rumah. Saelan berusaha menangkap bola tenis yang kecil dan cepat lajunya. Ketika itu, dirinya duduk di HBS Makasar.

M Saelan dilahirkan di Makasar pada tanggal 8 Agustus 1926 dan gemar sepakbola sejak duduk di Fraterschool, sekolah dasar Katolik di Makasar yang dipimpin para frater (broeder). Mula-mula ia pemain sentervoor di regu kelas dua MOS (Main Oentoek -Sport), klub sepakbola yang didirikan oleh ayahnya. Lama tidak dapat naik ke pemain kelas satu, karenanya satu tahun ia berhenti. Sesudah itu, MOS memerlukan kiper. Saelan dijagokan. Pelatihnya ayahnya sendiri. Kecuali latihan lari dan menangkap bola di lapangan tenis seperti dikatakan di atas, Saelan kerap kali dilatih di lapangan oleh ayahnya, berduaan saja atau kadang-kadang dengan beberapa teman. Ternyata ia punya bakat kiper.

Ada suatu hal yang dikemukakan bekas kiper Saelan, yakni arti dan bantuan keluarga. Seorang pemain harus penuh disiplin. Dalam keluarga ia dapat menemukan kehidupan yang tenang dan teratur. Isterinya banyak membantu dalam hal ini. Tentunya Saelan mengatakan ini berdasarkan pengalaman. Keluarga Saelan dikaruniai tiga orang anak laki-laki. (abd/diolah dari berbagai sumber) radarcirebon.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.208 kali, 1 untuk hari ini)