Jakarta, Obsessionnews – Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman mati kepada ratu narkoba, Merika Franola franolla alias Ola alias Tania alias Tania alias Francisca cunbe alias Rika Safitri, Kamis, 3 Desember 2015.

Ola divonis mati MA, lewat nomor perkara 2435K/Pid.Sus/2015. Sidang itu diputus pada akhir November lalu dengan majelis hakim terdiri atas Salman Luthan (ketua), Margono, dan Sumardiyatmo. Suhadi menuturkan pertimbangan hukum majelis menjatuhkan hukuman mati itu adalah Ola terbukti melakukan transaksi narkotik di lembaga pemasyarakatan.

Ola sebelumnya diberikan grasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kasus pertama Ola terjadi pada sepuluh tahun lalu, saat terbukti membawa 3,5 kilogram heroin dari London melalui Bandar Udara Soekarno-Hatta. Pengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000 menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Namun SBY memberikan grasi dan Ola hanya dihukum seumur hidup.

Selama di bui, Ola malah kembali berulah. Dia justru mengendalikan peredaran narkotik internasional. Ola dikaitkan dengan penangkapan seorang kurir narkoba bernama Nur Aisyah oleh Bea-Cukai di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Ketika itu, Aisyah tiba dari Kuala Lumpur, Malaysia, dengan AirAsia dan membawa 775 gram sabu. Saat diperiksa, dia menyebut nama Ola. Pengiriman sabu itu disebut-sebut diatur Ola dari penjara.

Aisyah direkrut dengan bekal uang Rp 7 juta. Dia diperintahkan mengambil sabu dari India. Dia terbang ke India dari Surabaya dan transit di Singapura. Di Bangalore, India, dia bertemu dengan lima warga Nigeria yang memberinya sabu. Barang haram itu diselipkan ke dalam tas punggungnya. Atas perkara ini, Ola dituntut mati dengan dijerat Pasal 142 ayat 2 juncto 137 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sebelumnya pada tanggal 2 Maret 2015 , Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang memvonis bebas.

Yang menjadi dasar majelis hakim pengadilan negeri Tangerang memvonis bebas pada yakni bahwa terdakwa berstatus warga binaan yang sedang menjalankan pidana seumur hidup (pidana maksimal) maka kepada terdakwa tidak dapat dijatuhkan pidana lagi karena ancaman tindak pidana yang dilakukan dilakukan terdakwa maksimal 15 tahun.

Dan khusus pasal 137 ayat 1 undang-undang no 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan undang – undang no 8 tahun 1981 tentang kitab undang – undang hukum acara pidana
(KUHAP).

Atas putusan bebas itu, Jaksa Penuntut umum ( JPU ) Kejaksaan Tangerang melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Banten,namun dalam putusan Pengadilan Tinggi Banten malah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang.

Akibat belum puas, pihak JPU Kajari Tangerang melakukan perlawana dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Ri.
Dan Hari Ini Kamis 3 Desember 2015, Mahkamah Agung RI , Memvonis Mati , Meirika Franola alias Ola si Ratu Narkotika.

Sementar itu, Kepala Kejaksaan Negeri ( Kajari )Tangerang,Edward Kaban, Menyabut baik atas Putusan itu.

Lebih jauh, Edward, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan eksekusi atas putusan MA tersebut, setelah menerima salinan Putusan dari Pengadilan Negeri Tangerang. Dia akan segera melapor ke Jaksa Agung Ri atas vonis Mati tersebut.

“Meskipun ada upaya hukum luar bisa, grasi yang akan dilakukan terpidana. Ketika Franola alias Ola,namun kami tetap akan melakukan eksekusi,” ujarnya. (dod/rez)

Editor: Reza Indrayana (obsessionnews.com) – Kamis, 3 Desember 2015

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.240 kali, 1 untuk hari ini)