RILIS.ID, Jakarta – Melalui akun twitternya @mohmahfudmd mengatakan jika Ahok menerima dana kampanye pada saat Pilgub DKI Jakarta 2012 lalu, maka ia pantas disebut korupsi karena menerima gratifikasi.

“Mungkin tlsn TEMPO minggu ini salah: Ahok ngaku pernah dpt uang utk kampanye. Klo itu benar: korupsi-gratifikasi,” cuitnya, Selasa (19/04/2016).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut mengomentari tulisan dalam majalah Tempo yang mengatakan bila Ahok pernah mengaku mendapatkan uang untuk kampanye dari Aguan untuk reklamasi Teluk Jakarta. Ahok sendiri bersikukuh tidak mengistimewakan Aguan.

Namun Mahfud menilai ada yang salah dari tulisan Tempo tersebut, sebab gratifikasi adalah pemberian sukarela tanpa ikatan kepada pejabat. “Tentunya @KPK_RI mendalami. Gratifikasi adl pemberian sukarela tanpa ikatan kpd Pjbt. Mngkin TEMPO salah tulis,” tambahnya.

Mahfud juga menegaskan jika sumbangan untuk kampanye tidak jadi masalah. Akan tetapi, sumbangan tersebut harus disampaikan dalam laporan KPU dan diletakkan dalam rekening khusus. “Klu blm menjabat tidak apa2. Tp sumbangan utk kampanye, mnrt UU hrs dimasukaan ke rekening khusus, dilaporkan ke KPU,” tambahnya.

Aguan sendiri kini sedang dicekal KPK setelah penangkapan tangan M Sanusi, anggota DPRD Provinsi Jakarta yang disuap oleh Presdir Agung Podomoro Land, dalam kasus penetapan zonasi wilayah untuk reklamasi Pantai Jakarta.

Sumber: rilis.id/Joko Hariadhi/April 19, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.576 kali, 1 untuk hari ini)