.

 

JALALUDDIN Rakhmat yang batal datang ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) karena didemo mahasiswa membuat Jurusan Ilmu Agama Islam mencari penggantinya. Ali, mahasiswa asal Afghanistan yang sedang menempuh studi Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UNJ diundang oleh JIAI sebagai pengganti Jalaludin Rakhmat.

“JIAI mengundang Ali untuk sharing dan menambah wawasan saja,” kata Ahmad Ahkam, panitia acara kuliah umum sekaligus dosen JIAI saat ditanya mahasiswa melalui pesan singkat.

Ketika kuliah umum berlangsung, Ali mengatakan bahwa dirinya seorang Syiah asal Afghanistan. Layaknya pengikut Syiah pada umumnya, Ali mengklaim ajaran Syiah dan Ahlussunah sama. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah membuat buku Panduan Penyimpangan Syiah. Namun, pihak kampus tidak menghadirkan perwakilan lembaga ulama tertinggi di Indonesia itu.

Menanggapi masuknya Syiah ke UNJ,  Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Muhammad Jibril menilai hal ini sebagai usaha Iran yang telah mengirim ratusan tenaga pengajar ke seluruh negara merdeka, khususnya negara-negara yang banyak muslimnya termasuk Afghanistan.

“Di antara paling sedikit 10 strata penyebaran syiah Indonesia, pada strata 4 disebutkan Syiah menyebarkan ajarannya dengan mengirim para da’i dan pengajar keseluruh lembaga pendidikan dan instansi resmi atau swasta hingga kepelosok desa terpencil,”jelas pria yang turut berjihad di Afghanistan tahun 1980-an ini, kepada Islampos, Sabtu (8/3).

Abu Jibril mengatakan mahasiswa dari Afghanistan yang ada di UNJ ini dapat dipastikan Syiah dan tidak dapat dipisahkan dengan usaha strata dan  grand design Syiah di Indonesia. “Sebagaimana yang dilakukan di UMI Makassar,” paparnya.

Sebagai kampus pendidikan yang akan melahirkan murid-murid yang cerdas dan beriman, Abu Muhammad Jibril mendesak dan menyarankan rektor UNJ untuk mengevaluasi JIAI dan dosen yang mengundang tokoh Syiah.

“Boleh jadi kejadian itu di luar pegetahuan rektor, atau rektor juga sudah menjadi target. Diperlukan usaha bertemu rektor secepatnya untuk membahas ini,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Jurusan Ilmu Agama Islam (JIAI), Noor Rachmat mengatakan tidak ada yang bisa melarangnya untuk mengundang Jalaluddin Rakhmat berceramah di depan para mahasiswa. Meski Jalal dikenal sebagai tokoh yang mencaci  maki istri Nabi dan mendapat kritik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Noor Rachmat tetap mengundangnya.

“Siapapun gak bisa melarang kami. Dan saya yang membuat kebijakan itu,” ujar Noor Rachmat yang mengaku menulis tesis tentang Syiah, Kamis (6/3). Jalal akhirnya batal hadir karena mendapat penolakan besar-besaran dari mahasiswa. [andi/Islampos]

(nahimunkar.com)