Hal menyimpang yang dilakukan peziarah di makam Uje, di antaranya peziarah malah minta kesuksesan di makam Uje.

Mereka yang meminta keberhasilan di makam Uje datang pada malam hari.

Beberapa penyimpangan yang tidak sesuai dengan Islam dilakukan orang di makam Uje.

Di samping itu, menurut penjaga makam Uje, Rochan, suasana makam yang ramai sering dimanfaatkan pencopet untuk melancarkan aksinya. Kehadiran pencopet ini tidak disadari oleh para peziarah karena mereka sering menyamar sebagai ustadz yang akan berziarah ke makam Uje. “Ibu (peziarah yang jadi korban copet) itu tidak curiga karena pencopetnya menyamar sebagai ustadz dengan memakai jubah,” tutur Rochan seperti dikutip ciricara.com.

Kini malah makam Uje itu dibangun dengan marmer hitam setinggi pinggang orang dewasa dan bertenda. Itu jelas menyelisihi syariat Islam dan menyalahi Perda.

Meninggikan kuburan bahkan membangunnya adalah melanggar syari’at, karena ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ اْلقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ. [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang memplester kubur, mendudukinya dan mendirikan bangunan di atasnya.” [HR. Muslim, no. 94/970].

Selain melanggar syari’at dan Perda, masih ada masalah besar lagi: Bagaimana pula bila itu mengakibatkan jadi tempat praktek kemusyrikan, dan sebagai tempat mencari pesugihan?

Polemik pun memanas, di antaranya gara-gara ini.

Inilah beritanya.

***

Polemik Makam Uje karena Inisiatif Pengusaha Marmer

JAKARTA – Pemugaran makam Ustadz Jefri Al Buchori dilakukan pengusaha marmer yang sangat mengidolakan sosok ustadz gaul itu sewaktu masih hidup.

Tanpa mendapatkan persetujuan dari Umi Pipik, dia pun langsung berinisiatif memasang marmer hitam setinggi pinggang orang dewasa.

“Sebenarnya kan yang membuat itu bukan dari keluarga. Ini makanya kita dulu enggak bisa bicara dengan jemaah itu, kita tahunya ahli warisnya, dan itu enggak ada izin,” kata Yonathan Pasodung, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, ditemui di Kantornya, Jl Aipda KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2013).

Yonathan pun menyayangkan tindakan jemaah yang langsung memasang marmer tersebut tanpa seizin keluarga, dan Pemda. Untuk itu, pihaknya akan melakukan pendekatan dengan pihak ahli waris sah Uje.

“Dia (orang yang pugar makam Uje) bukan ahli waris. Saya hanya akan bicara sama ahli waris. Pelan-pelan sama seperti kita melakukan program plakatisasi, saya yakin kalau aturannya kita sampaiikan seperti itu, pihak keluarga akan mengerti,” ujar dia.

Akibat inisiatif pengusaha tersebut, hubungan keluarga mendiang Uje dan Umi Pipik sedikit merenggang. Umi Pipik tidak sepakat lantaran pemugaran yang dilakukan bertentangan dengan kesederhanaan Uje sewaktu masih hidup.

(nsa) Jum’at, 27 September 2013 20:00 wib Alan Pamungkas – Okezone

***

Sebelum dibangun yang mengakibatkan polemic itu, kuburan Uje ini sudah dijadikan tempat praktek kemusyrikan oleh sebagian peziarah.

Inilah beritanya.

***

 Peziarah Malah Minta Kesuksesan di Makam Uje

 Jakarta (CiriCara.com) – Makam almarhum Ustadz Jefri Al Buchory atau yang akrab disapa Uje masih terus didatangi sejumlah warga. Namun, ada beberapa orang yang berziarah dengan tujuan “meminta” keberhasilan di makam ustadz gaul itu. Padahal hal ini jelas dilarang.

Menurut salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, mereka yang meminta keberhasilan di makam Uje datang pada malam hari. Pasalnya, tenda yang menutupi makam Uje masih diberikan penerangan. Jadi, masih banyak orang yang berani datang pada malam hari.

“Ada beberapa orang mas yang manfaatkan untuk meminta (kesuksesan),” kata warga, seperti yang dikutip dari Okezone.com, Senin (29/4/2013).

Warga ini menduga para peminta itu tidak mengerti bahwa makam bukanlah tempat untuk meminta kesuksesan. Pria paruh baya itu pun mengaku kesal saat melihat ada sejumlah orang yang mendatangi makam Uje untuk “meminta-minta”. Bahkan, dia pun sempat menegur mereka agar tidak melakukan hal yang menyimpang itu. “Kalau minta sama Eyang Subur, jangan di sini (makam Uje). Ini makam ulama besar,” ucapnya dengan nada kesal.

Sumber yang tidak disebutkan namanya itu berharap agar tidak ada lagi peziarah yang “meminta-minta” keberhasilan di makam Uje. Pasalnya, makam seseorang itu seharusnya didoakan, bukan malah dimintai hal-hal yang berurusan dengan uang, karir, atau urusan dunia lainnya. Meskipun demikian, masih ada peziarah yang datang ke makam Uje hanya untuk mendoakan almarhum. Salah satunya adalah Sri, yang datang bersama dengan rekan-rekannya. “Saya berempat dari Cilandak kemari. Saya hanya berdoa,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, Ustadz Jefri meninggal dunia karena mengalami kecelakaan pada Jumat (26/4/2013) lalu. Dalam proses pemakamannya, ribuan jamaah di Jakarta pun langsung memenuhi area pemakaman di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Hingga tiga hari sejak meninggalnya Uje, makam almarhum masih saja didatangi sejumlah peziarah untuk mendoakannya. Bahkan, ada sejumlah peziarah yang sempat foto-foto di makam almarhum Uje. (YG) ciricara.com

***

Hal Menyimpang yang Dilakukan Peziarah di Makam Uje

Jakarta (CiriCara.com) – Makam Ustadz Jefri Al Buchory di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat masih terus didatangi sejumlah peziarah. Tidak hanya dari Jakarta, beberapa peziarah ada yang datang dari luar Jakarta, seperti dari Sumatera hingga Papua. Namun tidak semua peziarah yang datang ke makam Ustadz Jefri (Uje) itu berniat baik. Menurut penjaga makam Uje, Rochan, beberapa peziarah bahkan ada yang mulai melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Beberapa peziarah mulai memanfaatkan makam Uje untuk tempat pesugihan. Mereka mengambil bunga yang tersebar di makam Uje untuk dibawa pulang. Rochan pun mengaku bingung dengan perilaku para peziarah tersebut. “Saya sering tanya kenapa kembang di makam Uje dibawa pulang. Jawaban mereka lucu-lucu, ada yang bilang buat kenang-kenangan,” kata Rochan, seperti dikutip dari JPNN.com, Jumat (3/5/2013). Bahkan, salah satu peziarah ada yang percaya bahwa makam Uje adalah makam keramat. Peziarah asal Jawa Tengah ini yakin bahwa Uje kerasukan roh wali sehingga banyak orang yang datang ke makamnya. “Tidak mungkin makamnya dikunjungi orang sebanyak ini kalau tidak kerasukan wali,” ujar peziarah yang tidak mau disebutkan namanya itu. Sementara itu, menurut Rochan, suasana makam yang ramai sering dimanfaatkan pencopet untuk melancarkan aksinya. Kehadiran pencopet ini tidak disadari oleh para peziarah karena mereka sering menyamar sebagai ustadz yang akan berziarah ke makam Uje. “Ibu (korban copet) itu tidak curiga karena pencopetnya menyamar sebagai ustadz dengan memakai jubah,” tutur Rochan./ ciricara.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.652 kali, 1 untuk hari ini)