fi sabilillah dalam ayat 60 surat At Taubah yang menjadi salah satu dari delapan kelompok penerima zakat adalah para mujahidin dan kepentingan jihad. Ya, bukan selain itu. Bukan membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya. Takutlah kepada Allah. Inilah pernyataan para ulama salaf yang konsisten dengan manhaj shahabah.

Adapun mereka —ustad, kyai, ulama, ajengan, syaikh dan doctor— yang mencoba merubah dan membelokkannya untuk membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya, atau bahkan memutarnya untuk usaha, membangun ekonomi umat, maka takutlah kepada Allah…takutlah kepada Allah…takutlah kepada Allah…anda telah menahan harta Allah yang seharusnya dipergunakan untuk meninggikan kalimat Allah, anda menggunakannya untuk menghancurkan Islam….Na’udzubillah.

۞إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٦٠ [سورة التوبة,٦٠]

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [At Tawbah60]

Selanjutnya wahai saudaraku…ingatlah, para ulama dengan tegas menyatakan fi sabilillah dalam ayat 60 surat At Taubah yang menjadi salah satu dari delapan kelompok penerima zakat adalah para mujahidin dan kepentingan jihad. Ya, bukan selain itu. Bukan membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya. Takutlah kepada Allah. Inilah pernyataan para ulama salaf yang konsisten dengan manhaj shahabah.

Inilah pendapat mayoritas ulama salaf dari kalangan mufasirin, muhadditsin dan fuqaha’ yang teguh di atas kebenaran, seperti Imam Thabari (Jamiul Bayan 14/320, tahqiq Ahmad Syakir), Al Qurthubi (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 9/185), Al Jashash (Ahkamul Qur’an 3/156), Ibnul ‘Arabi (Ahkamul Qur’an 1/396), As Suyuthi (Ad Durul Mantsur 3/252), Al Khazin (Lubabu Ta’wil Fi Ma’ani Tanzil 3/92), Asy Syaukani (Fathul Qadir 2/373), Ibnu Hajar (Fathul Bari 3/259),  Badrudien Al ‘Aini (Umdatul Qari 9/45), Abul Hasan Al Mubarakfuri dan Al Khothobi (Ma’alimu Sunah 2/234-235), Ibnu Atsir Al Jazari (An Nihayah fi Gharibil Hadits 2/245), Al Babarti (Al Hidayah Hamisyu Fathil Qadir 2/17-18), (Al Fatawa Al Hindiyah 1/188), Abul Barakat Ahmad Dardir (Asy Syarhul Kabir Hamisyu Hasyiyah Ad Dasuki 1/456), Asy Syafi’i (Al Umm 2/60),  An Nawawi (Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/211), Ibnu Qudamah (Al Mu’ni’ wa Hasyiyatuhu 1/249),  dan Ibnu Hazm (Al Muhalla 6/151).

Karena itu, Majelis Hai’ah Kibaril Ulama Arab Saudi yang terdiri dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Shalih bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Ghadyan dan Syaikh Abdurazaq Afifi dalam rapatnya tanggal 21 Sya’ban 1394 H di Thaif menetapkan keputusan no. 2 tertanggal 21/8/1394 H bahwa makna fi sabilillah dalam ayat penerima zakat ini adalah ghuzat fi sabilillah (para mujahidin yang berperang di jalan Allah). [Majalatul Buhuts Al Ilmiyah edisi 2, Syawal-Rabiul Awal 1395/1396 H]

Adapun mereka —ustad, kyai, ulama, ajengan, syaikh dan doctor— yang mencoba merubah dan membelokkannya untuk membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya, atau bahkan memutarnya untuk usaha, membangun ekonomi umat, maka takutlah kepada Allah…takutlah kepada Allah…takutlah kepada Allah…anda telah menahan harta Allah yang seharusnya dipergunakan untuk meninggikan kalimat Allah, anda menggunakannya untuk menghancurkan Islam….Na’udzubillah.

Bagaimana tidak, bagian zakat fi sabilillah anda tahan, anda pergunakan tidak pada tempatnya dengan berlandaskan pada pemahaman anda yang ”lebih benar dan lebih luas” dari pemahaman salafush shalih ??? Berlandaskan pada pendapat anda dan sebagian ulama zaman ini yang “tidak picik”, yang “lebih pandai” dari salafus shalih ??? Maka mujahidin di Poso, Ambon, Moro, Kashmir, Chechnya, Palestina, Afghanistan, Iraq dan ardhul jihad (bumi jihad) lainnya tak mendapatkan amunisi, logistik, senjata… padahal dunia berkumpul untuk menghancurkan mereka, untuk menenggelamkan Islam ke dasar samudra. Maka tidakkah anda takut kepada Allah…??? Doktor macam apakah, ulama macam apakah yang lebih pandai dari para mufasirin dan fuqaha’ salaf ??? Apakah pemahaman mereka lebih baik, lebih benar dan lebih diridhai Allah melebihi pemahaman salaf ???

Kenapa bagian zakat fi sabilillah diberikan untuk membangun masjid, madrasah, jalan raya, yayasan Islam,dan seterusnya. Kenapa tidak sekalian saja diberikan kepada orang yang shalat, membaca Al Qur’an, berdzikir, shaum, dan seterusnya ??? Bukankah semuanya sama-sama mencari ridha Allah ???

Inilah bukti kerusakan pemahaman mereka yang melenceng dari pemahaman salafush shalih. Wahai saudara muslimin, renungkanlah. Telah lama kita berada dalam kesesatan, kehinaan, jauh dari tuntunan shahabat dan Rasulullah. Jika anda belum mampu mengerjakan ibadah agung ini, minimal niat, minimal niat ikhlash dan kesungguhan anda akan dinilai Allah. Maka camkanlah baik-baik nasehat saudara muslim ini oleh anda dan sebarkanlah kepada kaum muslimin, semoga kita semua berada di atas jalan petunjuk Allah.

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Sumber : jihadsabiluna-dakwah.blogspot.ie

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.835 kali, 2 untuk hari ini)