Makna ‘Obong’ di Buku ‘Yusuf Mansyur Obong’


Oleh : Tardjono Abu Muas, Pemerhati Perbukuan

 
 

Sebelum kita membaca isi buku berjudul : “Yusuf Mansyur Obong”, tatkala kita baru melihat dan membaca sampulnya saja kita akan tergelitik dan timbul pertanyaan, ada apa di balik judul buku ini? Kata “Obong” khususnya, bagi penggemar dunia pewayangan tentu akan ingat sebuah lakon pewayangan yang berjudul: “Anoman Obong” yang diilustrasikan tatkala tokoh Kera Putih bernama Anoman diutus Rama menyusup masuk ke negara Alengka tempat disembunyikannya istri Rama Dewi Shinta oleh Raja Rahwana. Penyusupan Anoman diketahui oleh bala tentara Rahwana dan tertangkaplah Anoman lalu dihukum Obong (bakar). Inilah kata “Obong” di dunia pewayangan.

Lalu kenapa kata, “Obong” ini harus disandarkan pada buku ini?” Jawaban HM Joesoef penulis buku ini dalam synopsis yang tertulis pada alinea 3 di bagian belakang sampul bukunya menyatakan, bahwa kehadiran buku ini sebagai teguran kepada yang bersangkutan yang telah bertindak di luar kepatutan. Menegur agar yang bersangkutan sadar dan menghentikan perilaku yang melanggar norma-norma hukum, baik hukum agama maupun hukum positif yang berlaku di negeri ini. Lebih lanjut penulis buku ini menggarisbawahi bahwa kehadiran buku ini sebagai bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar kepada yang bersangkutan. Apa dan bagaimana hingga disebutkan bahwa yang bersangkutan telah bertindak di luar kepatutan? Silakan baca dan simak isi bukunya sampai tuntas.

Nah,,,tentu kita akan tambah penasaran lagi ingin mengetahui latar belakang si penulis buku ini sendiri, setelah kita membaca jawaban latar belakang ide penulisan buku ini seperti disebutkan di atas. Tidak lain HM. Joesoef ini adalah seorang jurnalis, penulis, dan editor buku-buku ke-Islam-an yang sudah menggeluti profesinya selama lebih dari tiga dasa warsa atau tiga puluh tahun lamanya. Jiwa seorang jurnalisnya yang melekat dalam dirinya kini merasa terusik tatkala melihat dan ikut merasakan betapa tidak sedikitnya kekecewaan dan penderitaan orang yang menjadi korban atas sepak terjang Yusuf Mansyur selama ini melalui “Ikon” andalannya proyek “sedekah”.

Ikon “sedekah” yang digelar oleh yang bersayangkutan tak pelak seperti menghipnotis para ibu rumah tangga, pegawai, pensiunan bahkan merambah ke kaum migran Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Beton, Hong Kong pun tertarik berduyun-duyun menjadi investor ke proyek yang dikelola oleh yang bersangkutan ini. Alih-alih mendapatkan keuntungan dari hasil investasi yang telah ditanamkannya, malah yang didapatkan para investor hanyalah kekecewaan, kedongkolan, dan lain sebagainya.    

Empati kepada nasib para investor, sebagai seorang jurnalis, HM Joesoef tak mau berpangku tangan membiarkan para investor dikecewakan. Oleh karenanya, sejak Juli 2019, HM Joesoef mulai bergerilya menemui para korban, mewawancarai mereka dan memuliskannya secara berkala di situs Thayyiba.com. Kumpulan tulisan yang dimuat di situs inilah dari mulai periode Juli hingga Desember 2019 lalu, setelah melalui proses pengayaan informasi menjadilah buku yang hadir di hadapan sidang pembaca.

Buku ini layak dibaca oleh khalayak, umumnya bagi yang belum terperangkap dalam bisnis-bisnis investasi yang ditawarkan oleh yang bersangkutan, dan khususnya bagi para investor yang sudah kadung menjadi korban untuk menjadi pelajaran berharga dalam meniti kehidupan

/Resensi Buku

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 437 kali, 1 untuk hari ini)