Ribuan punggawa desa mendemo Jokowi. Semula mereka  dikomandoi untuk kumpul di Masjid Istiqlal Jakarta, kemudian mendemo Jokowi ke Istana.  Tapi kemudian pengomando mengirimkan pesan lewat WA, katanya agar kumpul di GBK Senayan Jakarta karena Presiden Jokowi akan menemui mereka di sana,  Senin (14/1 2019).

Yang terjadi, para punggawa desa (kepala desa dan perangkat desa) itu kemudian diberi iming-iming janji oleh Presiden Jokowi soal materi berupa gaji setara dengan ASN (Aparatur Sipil Negara) , gaji paling rendah adalah sekitar Rp1,9 juta.

Ya, perlakuan Jokowi terhadap para punggawa desa itu sementara mampu membuat senyum mereka. Tetapi dibalik itu, justru menambah betapa ngilu dan perih  pedih hati ribuan guru honorer yang berdemo ke Jakarta untuk menuntut janji Jokowi, namun justru ditinggalkan begitu saja untuk blusukan ke pasar Bogor. Itu selang waktunya dengan demo perangkat desa ini tidak lama. Bahkan kemudian Jokowi kaget ada guru honorer hanya bergaji 300 ribu rupiah, setara dengan harga beras 30 liter  (lantas biaya untuk mengolahnya pakai apa?  Dan untuk beli lauknya pakai apa?).

Berita itu di antaranya dapat disimak:

Inilah Janji Jokowi yang Ditagih Ribuan Guru Honorer Geruduk Istana, Namun Jokowi Blusukan ke Pasar Bogor

Ribuan Guru Honorer Kepung Istana: Hargai Kami!

Massa honorer K2 se-Indonesia berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, 30 Oktober 2018.

Kecewa Terhadap Jokowi, Guru Honorer Deklarasikan ‘Gerakan Relawan Ganti Presiden’

SURABAYA (Arrahmah.com) – Forum Honorer K2 Persatuan Guru Republik Indonesia (FHK2 PGRI) yang merasa kecewa dengan…

Dengan kenyataan yang kontras seperti itu, maka makna dari demo punggawa desa yang kemudian diterima dengan iming-iming janji itu hanyalah siraman adem terhadap sebagian kecil kelompok yang mendemo Jokowi, dan sebaliknya menyiramkan rasa panas kepada kelompok-kelompok pendemo lainnya (ataupun yang tak berdemo namun sebenarnya protes juga), terutama  ribuan orang yang menagih janji namun dicuweki seperti ribuan guru honorer tersebut.

Kyai dan Ulama Jatim deklarasi  dukung Prabowo

Foto ytb

Bila para perangkat desa mendemo  Jokowi karena urusan perut (maaf) lalu diiming-imingi janji dan kemudian seakan selesai persoalannya, maka lain lagi dengan yang diungkapkan para ulama Jawa Timur yang jelas-jelas mendeklarasikan dukungan mereka ke Prabowo.

Menurut  sekretaris panitia deklarasi dukung Prabowo-Sandi, Selama 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK tampak tidak memiliki nilai positif terhadap masa depan agama Islam dan rakyat Indonesia secara umum. Karena itu para habib, kiai dan masyayikh/ Ulama Jawa Timur memutuskan, cukup bagi Jokowi hanya satu periode saja.

“Pertama dan terutama, adalah demi masa depan umat Islam Indonesia. Para habib, kiai dan masyayikh (ulama) merasakan betapa karut marut, tercerai berai umat Islam sekarang ini. Mereka ingin ke depan lebih baik. Pasangan Prabowo-Sandi dinilai paling memiliki kepedulian terhadap umat Islam,” kata Habib Hasan bin Salim Assegaf, sekretaris panitia deklarasi dukung Prabowo-Sandi,  kepada duta.co.

Pernyataan politik mendukung Prabowo-Sandi dilakukan di halaman dalem KH Abdulloh Siroj (anggota Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri), di Desa Ngempit, Kec. Kraton, Kab. Pasuruan, Sabtu 12 Januari 2019.

Para ulama itu memilih mendukung Prabowo-Sandi setelah mempelajari dengan seksama, antara maslahah dan madlaratnya, selama 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK yang tidak memiliki nilai positif terhadap masa depan agama Islam dan rakyat Indonesia secara umum.

***

Urusan perut beda dengan urusan aqidah Islam

Betap mencoloknya perbedaan antara mereka yang  orientasinya hanya perutnya sendiri dibanding yang memikirkan nasib umat Islam dan aqidah Islamnya.

Para punggawa desa itu walaupun pulang dari Jakarta seakan ada rasa lega karena urusan perut mereka telah diiming-imingi janji dari Jokowi, namun apa maknanya bagi masyarakat? Bukankah justru timbul rasa sakit hati dari pihak-pihak yang tuntutan mereka kepada Jokowi dicuweki, dan itu entah berapa saja jumlah mereka?

Sementara itu, sikap para ulama di Jawa Timur itu tidak akan menimbulkan keresahan kepada Umat Islam dan masyarakat pada umumnya, walau mungkin bikin galau bagi yang suka adanya kezaliman terhadap  Islam dan kaum Muslimin. Sedangkan kezaliman itu sendiri sangat dilarang oleh Allah Ta’ala dan dibenci. Bahkan terhadap pendukung kezaliman pun ada ancamannya yang sangat keras. Silakan simak berikut ini.

***

Ancaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya

Posted on 13 September 2018 – by Nahimunkar.com

Ilustrasi Revolusi Mental: Pelawak* Diundang ke Istana, Tapi Honorer K2 ke Istana Ditolak Jokowi/ foto prtlpygn-ermslim

Mengatur kemaslahatan umat merupakan tanggung jawab terbesar seorang pemimpin. Kemakmuran atau kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung pada peran yang ia mainkan. Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan petunjuk Syariat Islam maka masyarakat pun akan sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika pemimpin tersebut berlaku zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka rakyat pun akan berujung pada kesengsaraan.

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak, pemimpin yang adil akan dijanjikan dengan berbagai macam keutamaan oleh Allah ta’ala. Sementara pemimpin zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya akan diancam dengan berbagai macam ancaman. Di antara bentuk ancaman tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menjadi Manusia yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi, derajat  hasan gharib حسن غريب)

2. Allah Menelantarkannya pada Hari Kiamat dan Tidak Mengampuni Dosa-Dosanya

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)

3. Akan Dimasukkan ke Dalam Neraka serta Diharamkan Syurga Baginya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad, صحيح)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surge.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadh yang lain disebutkan, ”Ialu ia mati dimana ketika matinya itu dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan surga baginya.”

Tentunya masih banyak riwayat lain yang menyebutkan tentang ancaman Allah ta’ala terhadap para pemimpin yang menzalimi rakyatnya. Bentuk ancamannya pun tidak ada yang ringan, hampir seluruhnya mengingatkan akan besarnya dosa seorang pemimpin ketika dia berbuat zalim kepada rakyatnya. Apalagi ketika ia rela berbohong di hadapan rakyat demi mempertahankan jabatannya.

Kewajiban Menasehati Pemimpin dan Larangan Membenarkan Kezaliman Mereka

Jauh sebelum empat belas abad yang lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan umatnya akan adanya para pemimpin yang berbuat zalim dan berbohong di hadapan rakyat. Kita sebagai umatnya, tidak hanya diperintahkan untuk bersabar menghadapi keadaan tersebut, namun lebih daripada itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengingatkan untuk senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan selalu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasihat.” Kami berkata, “Untuk siapa?” Beliau bersabda, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, Imam kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan.”(HR. Muslim)

Nasihat secara diam-diam merupakan pilihan awal dalam melawan kemungkaran. Namun ia bukanlah satu-satunya cara untuk meluruskan kesalahan penguasa. Ketika nasihat dengan cara tersebut sudah tidak diindahkan, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memberikan motivasi lain kepada umatnya untuk merubah kemungkaran penguasa. Motivasi tersebut ialah pahala jihad yang dijanjikan kepada umatnya yang menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.

Dari Abu Said Al-Khudri Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, صحيح -صحيح ابن ماجه )

Lalu ketika usaha tersebut tidak dihiraukan lagi dan pemimpin tersebut tetap pada prinsipnya yang menzalimi rakyat, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan umatnya untuk menjauhi pemimpin tersebut serta jangan sampai mendekatinya, apalagi membenarkan tindakan zalim yang mereka lakukan. Sebab, ketika seseorang tetap mendekati pemimpin zalim tersebut dan membenarkan apa yang dilakukannya maka ia akan terancam keluar dari lingkaran golongan umat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ia tidak akan mendatangi telaganya nanti di hari kiamat.

Dari Ka’ab bin Ujroh radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar mendekati kami, lalu bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat).” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan An-Nasa’I صحيح)

Demikianlah beberapa petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang ancaman terhadap pemimpin zalim serta bagaimana seharusnya kita menyikapi kezaliman tersebut. kebenaran harus tetap dipegang, sedangkan kesalahan harus senantiasa diluruskan. Nasihat tetap diutamakan, namun amar ma’ruf nahi mungkar tidak boleh dilupakan. Wallahu ‘alam bis shawab!

Penulis: Fahrudin/ kiblat.net  Rabu, 13 April 2016 21:30

***

Demikianlah, pemandangan yang sangat kontras antara dua peristiwa yang ada di depan mata kita. Semoga jadi peajaran berharga, hingga kita mampu  menjaga Iman islam kita sebaik-baiknya sampai akhir hayat, tidak ditukarkan dengan sekadar urusan perut yang sangat rendah nilainya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

(nahimunkar.org)