Iustrasi. Sebanyak enam murid Madrasah Diniyah Ibnu Ajudin Al Yasin di Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang sedang belajar tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi, Senin (21/11/2022) siang. Foto/ Istimewa

 

Terdapat hadits mengenai keutamaan berupa syahid bagi mereka yang meninggal karena tertimpa reruntuhan. Apakah maksud hadits ini? Apakah mati syahid seperti mereka yang terbunuh di peperangan berjihad membela agama Allah?

Jawabannya: mendapatkan PAHALA mati syahid. Bukan “status” mati syahid sebagaimana mereka yang terbunuh ketika berjihad beperang di jalan Allah. Sehingga mereka yang mendapatkan pahala syahid mayat mereka tetap dimandikan, dishalatkan dan dikafani sebagaimana biasanya.

Sedangkan orang yang mati syahid berjihad di peperangan maka tidak perlu dimandikan, dishalatkan dan dikafani tetapi langsung dikuburkan dengan pakaian yang ia pakai saat itu. Kita harapkan dengan “pahala” mati syahid tersebut mereka bisa mendapatkan keutamaan sebagaimana mati syahid berjihad di peperangan.

Hadits mengenai mati syahid tertimpa reruntuhan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un*, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” [1]

Syaikh prof. Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjelaskan,

والمراد له أجر شهيد، لكنه لا يعامل معاملة الشهيد في الدنيا، فإنه يغسل ويكفن ويصلى عليه بخلاف شهيد المعركة، فإنه يدفن بثيابه ولا يغسل ولا يصلى عليه، على المشهور عند العلماء، والله أعلم.

“Yang dimaksud di sini adalah baginya pahala mati syahid. Akan tetapi mayatnya tidak diurus sebagaimana orang mati syahid (orang yang mati syahid tidak perlu dimandikan dan dikafani, pent). Maka jasadnya tetap dimandikan, dikafani dan dishalatkan berbeda dengan syahid di medan peperangan maka ia dikubur dengan pakaian syahidnya di dunia, tidak dimandikan, tidak dishalatkan sebagaimana pendapat yang masyhur di kalangan ulama. Wallahu a’lam[2]

Demikian semoga bermanfaat

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , Follow facebook dan   follow twitter

 
 

[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah

[2] http://www.ibn-jebreen.com/books/6-50-2406-2240-.html

Raehanul Bahraen Aqidah, Bimbingan Islam, Fiqh 12 September 2015

——-

*penyakit tha’un mewabah di zaman Rasulullah SAW yang dibawa oleh tikus

***

Yang Mati Syahid Ada 5 Macam

Hadits Muslim Nomor 3538

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ وَقَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] dia berkata; saya bacakan di hadapan [Malik]; dari [Sumaiy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika laki-laki sedang berjalan dan menemukan ranting berduri di tengah jalan, kemudian dia menyingkirkan ranting tersebut hingga Allah pun bersyukur kepadanya lalu mengampuni dosa-dosanya.” Lalu beliau bersabda: “Syuhada’ itu ada lima macam; meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang meninggal karena reruntuhan, dan orang yang syahid karena berjuang di jalan Allah ‘azza wajalla.”

[Muslim]

https://ilmuislam.id/hadits/27481/hadits-muslim-nomor-3538

***

Enam Murid Madrasah Ibnu Ajudin Meninggal Tertimpa Reruntuhan Kelas Akibat Gempa Cianjur


Sebanyak enam murid Madrasah Diniyah Ibnu Ajudin Al Yasin di Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang sedang belajar tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi, Senin (21/11/2022) siang. Foto/ Istimewa

 

 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Ferri Amiril Mukminin

CIANJUR – Sebanyak enam murid Madrasah Diniyah Ibnu Ajudin Al Yasin di Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang sedang belajar tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi, Senin (21/11/2022) siang.

Enam murid tersebut meninggal dunia rata-rata mendapat luka berat di bagian kepala.

Kepala Desa Cikancana Asep Saepul Rahmat mengatakan selain enam korban meninggal dunia, sebanyak 100 warganya menderita luka ringan hingga luka berat.

Rumah yang mengalami kerusakan di daerah ini sebanyak 150 rumah dan masih di-update karena beberapa jalan sulit ditembus akibat gempa.

“Saat ini warga butuh tenda karena hampir semua rumah rusak hingga warga tak bisa lagi masuk ke rumah terutama di Kampung Cibeleng Hilir,” ujar kepala desa.

Saat ini warga mendirikan tenda darurat swadaya dan menanti bantuan logistik, genset, dan selimut di tenda RT 02, RT 03, RT 01, dan RT 04.

“Warga masih bingung, namun beberapa di antara memilih akan mengungsi ke tempat saudaranya, namun banyak yang tinggal di tenda darurat,” ujar Asep.

Enam jenazah murid Ibnu Ajudin Al Yasin akan dikebumikan di Kampung Cibeleng Hilir. Satu jenazah sudah siap dikuburkan sementara lima lainnya masih berada di rumah sakit.

Update korban gempa Cianjur, hingga Senin (21/11/2022) sore, korban meninggal dunia bertambah menjadi 56 orang.

Informasi itu disampaikan Bupati Cianjur, Herman Suherman, berdasar laporan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan  sejumlah rumah sakit di Cianjur. 

“Berdasarkan data terbaru di lapangan, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 56 orang,” ujar Herman saat ditemui di halaman RSUD Cianjur, Senin (21/11/2022). 

Sebelumnya, Herman menyebutkan bahwa ada 46 orang yang meninggal dan 700 orang luka-luka. Sebanyak 70 persen korban luka masuk kategori berat.

Bupati Herman menyatakan pihaknya membutuhkan banyak dokter tulang dan tenaga medis lainnya. Herman mengaku pihaknya kewalahan menangani korban luka.

Baca juga: RSUD Cianjur Kewalahan Tangani Korban Gempa, Ratusan Orang Dirawat di Halaman, 56 Orang Meninggal

“Saya masih menangani warga sakit atau luka, ini kewalahan. Saya sudah bagi-bagi tugas Kapolres, Dandim. Saya berada di RS tangani warga sakit,” kata Bupati Herman saat diwawancarai Kompas TV.

Gempa bumi magnitudo 5,6 yang mengguncang Kabupaten Cianjur merusak sejumlah fasilitas umum, perkantoran dan sejumlah rumah warga.

Adapun gempa bumi  yang membuat histeris warga Cianjur itu terjadi pada pukul 13.21 WIB, Senin (21/11/2022).

Video yang memperlihatkan  kerusakan mulai tersebar di lini masa aplikasi perpesanan dan media sosial. 

Salahsatunya di Kampung Munjul, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, sejumlah warga menangis histeris di luar rumah.

Terekam dalam video tersebut tangisan anak dan ibu-ibu yang tengah terduduk memangku anak-anaknya.

“Ambulans mana Ambulans ya Allah ya Rabbi,” ucap warga yang merekam situasi di Kampung Munjul.

Terlihat sejumlah bangunan di kampung tersebut porak poranda akibat dasyatnya guncangan gempa bumi.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menambahkan bahwa gempa di Cianjur ini dirasakan juga di wilayah Garut dan Sukabumi dengan skala 4 sampai 5 MMI.

Begitu pula di wilayah Cimahi, Lembang, Bandung, Cikalong Wetan, Rangkasbitung, Bogor, dan Bayah, gempa terasa pada skala 3 MMI.

Sementara di wilayah Rancaekek, Tangerang Selatan, Jakarta, dan Depok, gempa dirasakan pada skala 2 sampai 3 MMI.

Suko Prayitno Adi, selaku Deputi Bidang Geofisika menerangkan bahwa terdapat gempa susulan sebanyak 25 kali pada rentang 4 sampai 1,8 Magnitudo.

Dengan demikian, untuk sementara ini masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan dimohon guna menghindari bangunan rusak.

Sampai berita ini diturunkan, data yang tertera masih bersifat sementara.

Adapun soal besarnya gempa Cianjur yang dirasakan sampai Bakauheni dijelaskan BMKG melalui laman resminya.

Dalam laman BMKG itu disebutkan gempa berkekuatan M 5,6 terjadi pukul 13:21:10 WIB, Senin (21/11/2022) berusat di darat 10 Km Barat Daya Kabupaten Cianjur.

Guncangan gempa dirasakan dengan skala MMI:

V-VI di Cianjur
IV – V di Garut dan Sukabumi
III di Cimahi, Lembang, Kota Bandung, Cikalong Wetan, Rangkasbitung, Bogor, Bayah, dan Bakauheni
II – III Rancaekek, Tangerang Selatan, DKI Jakarta, Depok, dan Tangerang
 

Skala gempa dalam MMI

Adapun penjelasan skala gempa dalam MMI sebagai berikut: 

– Skala MMI I-II: Tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat.

– Skala MMI III-V: Dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan.

Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.

– Skala MMI VI: Bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.

– Skala MMI VII-VIII: Banyak Retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah.

Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh.

Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

– Skala MMI IX-XII: Sebagian besar dinding bangunan permanen roboh.

Struktur bangunan mengalami kerusakan berat. Rel kereta api melengkung. (fam)

Editor: Machmud Mubarok

TRIBUNCIREBON.COM.COM, Senin, 21 November 2022 17:59

(nahimunkar.org)