Mal dan warung tetangga


Ilustrasi foto/ facebook

 

Begitu mal-mal dibuka setelah wabah corona dianggap mereda, ada imbauan:



Cegah Corona, jangan membawa ibu hamil, balita, anak-anak, lansia ke mal

Cegah Corona, jangan membawa ibu hamil, balita, anak-anak, lansia ke mal Jakarta – dr Reisa Broto Asmoro mengingatkan masyarakat terkait protokol kesehatan yang harus diperhatikan saat harus ke mal…


Terhadap berita itu, ada yang komentar:

Cegah pemborosan dan demi bantu tetangga, belanjanya di warung tetangga saja lah. jangan ke mal. (misal ada imbauan dari tokoh berbaju resmi seperti itu, kira2 bagaimana ya? saya kok ingin sekali ada pejabat yang fasih bilang begitu. semoga saja ada… he he… punya keinginan kan ga’ dilarang ya…)

Yang lebih parah, mungkin yang disindir di gambar itu. Ngutangnya ke warung tetangga, tapi ga’ bayar2 atau malah kabur. (atau giliran punya duit, beli barang2nya ke mal dsb. Bukan ke warung tetangga yang biasa dia ngutang itu. Apa ga’ nyiksa tetangga kalau begitu? Padahal kalau meninggal dunia, biasanya yang mengurus jenazahnya ya kerabat dan tetangga. Kecuali kena corona, yang ngurus ya petugas saja. Maka seharusnya tolong menolong dengan tetangga harus dihidupkan Kembali ya… Termasuk belanjanya ke warung tetangga bukan utang ngemplang, itu terhitung tolong menolong. semoga saja).

Ini bukan karena kami punya warung lho ya, jadi murni mengingatkan belaka, tidak ada hubungannya dengan soal kehidupan kami.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 245 kali, 1 untuk hari ini)