Manfaat Tiwul untuk Mengobati Diabetes

 


Nasi tiwul adalah salah satu makanan aternatif pengganti nasi putih yang terbuat dari ketela pohon/singkong.

Nasi tiwul ini dikenal sejak zaman dahulu pada era penjajahan karena pada masa itu nasi putih masih menjadi barang langka. Namun seiring perkembangan zaman ternyata keberadaan nasi tiwul semakin terlupakan.Tapi ternyata hasil sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ternyata nasi tiwul dapat bermanfaat sebagai obat diabetes/ kencing manis. Wah sangat mengejutkan ya sedulur?


Hal ini terjadi karena dalam nasi tiwul terdapat banyak nutrisi yang sangat bermanfaat bagi tubuh.Berikut ini adalah beberapa nutrisi yang terkandung dalam nasi tiwul;

 

Kandungan nutrisi nasi tiwul di setiap 100 gram bahan baku (singkong)

·        Mengandung 63. 50 gram air

·        Karbohidrat 35 gram

·        Fospor sebanyak 40 gram

·        Vitamin C 30 mg

·        Kalsium 33 mg

·        Zat besi 0. 70 mg

·        Protein 1. 20 mg

·        Lemak 0. 30 mg

·        Vitamin B1 0. 01 mg

·        Mengandung kalori (121 kal) lebih rendah dari nasi beras

 

Khasiat  nasi tiwul berdasarkan prosesnya:

Menjaga Kesehatan Pencernaan

Dalam proses pembuatan nasi tiwul yang cukup lama  menjadikan kandungan pati mengalami interaksi yang di namakan retrogradasi yang artinya terjadi interaksi antar fraksi amilosa pada pati saat dalam proses pembuatan dan menghasilkan pati retrogradasi atau pati resisten. Pati resisten adalah jenis pati yang lolos untuk pencernaan  yang sehat.  

Nasi tiwul Sebagai Sumber Energi

Kandungan asam butirat yang terdapat di dalam  nasi tiwul menjadi sumber energi bagi tubuh. Selain  itu, menurut beberapa penelitian kesehatan, asam butirat bisa menghambat berkembangnya sel- sel kanker dalam tubuh.

Nasi tiwul Sebagai Makanan Diet Penderita Diabetes

Di ketahui bahwa penyakit diabetes adalah jenis penyakit yang sulit sekali di sembuhkan. Penyakit ini ada sejak tahun 1552 SM (sebelum masehi). Bila sesorang terkena diabetes maka si penderita wajib memperhatikan pola makan yang seimbang. Semestinya, penderita diabetes menghindari nasi sebagai sumber tenaga. 

Alasanya nasi adalah jenis makanan pokok yang menyimpan kalori lumayan tinggi sehingga kalori yang di serap oleh tubuh cepat terurai dan berubah menjadi gula, Maka dari itu kesehatan menganjurkan umbi umbian untuk penggantinya, salah satunya adalah singkong, Akan tetapi untuk mempermudah  mengkonsumsinya umbi tersebut di buat menjadi nasi tiwul.

Mengapa nasi tiwul baik untuk penderita diabetes?

 

Sebab kandungan kalori didalam  nasi tiwul (121 kal) lebih rendah jika di bandingkan dengan nasi putih yang tinggi akan kalori.

 

Wah ternyata dalam makanan tradisional ini menyimpan banyak khasiat ya sedulur.Semoga artikel ini memberi sedikit tambahan ilmu dan manfaat ya lurr.Terimakasih.

Saturday, 3 November 2018   / portalmanyaran.

***

Masih banyak yang jual tiwul

Besan saya di Jombang ketika datang ke rumah kami di Jakarta bercerita, di daerah Jombang dan sekitarnya masih ada warung2 nasi jagung dan tiwul.

Setelah mendengar itu, saya di Jakarta jalan-jalan ke pasar kaget dekat rumah, ternyata ada juga penjual tiwul. Dalam bakulnya ada beberapa jenis makanan dari singkong, kebanyakan dibumbui kelapa. Saya tidak tahu, tiap hari atau tidak dia jualan. Sepertinya bila sepi pembeli dia akan cari tempat yang diperkirakan ramai pembeli.

***

Sekdar cerita soal tiwul

 

Waktu saya masih kecil, pagi-pagi saya main ke rumah tetangga. Saat itu musim kemarau. Di halaman rumah tetangga ada seorang yang sudah lebih besar dari saya, sedang jongkok sambil mengaduk-aduk tiwul dengan sambel trasi dicampuri petai cina di layah (cobek besar).

Tiwul yang diaduk-aduk itu cukup bagus, warnanya tidak begitu coklat tapi putih dan mawur tidak kental, tidak keras. (Jenis singkong tertentu ada yang ketika jadi tiwul warnanya agak putih). Rupanya kalau ahli dalam meg-adang (mengukus) tiwul, ketika mengayaknya (tepung ditaruh ditampah lalu diberi air kemudian diosek-osek pakai tangan agar airnya agak rata tapi tidak terlalu basah) itu tepat ukurannya, dan tepat cara mengaduknya, maka ketika didang (dikukus) hasilnya akan jadi tiwul yang bagus, mawur, tidak keras.

Setelah lelaki muda itu selesai mengaduk-aduk tiwul dengan sambal terasi dan petai cina, tiba2 cuh… cuh… cuh… tiwul itu diludahi berkali-kali… lalu dia melihat saya sambil cengengesan…

Saya yang masih kecil, melihat itu heran sekali…

Malam harinya, menjelang tidur, saya ceritakan itu ke ibu saya, ingin tahu, kenapa sampai ada kejadian begitu.

Jawab ibu saya, mungkin dikira kamu pengin dan akan minta untuk ikut makan, ‘kali… jadi biar kamu ga’ minta, maka ya diludahi itu tiwul.

Dia salah sangka, Bu, kalau begitu, jawab saya. Lha wong saya malah baru saja sbelum ke sana itu sudah makan nasi pakai daging dan telur yang ibu sediakan….

***

Sifat pelit seperti itu merusak

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Artinya: “Ada tiga perkara yang akan membinasakan seseorang, (yaitu): Kekikiran yang sangat yang selalu ditaati, hawa nafsu yang selalu diikuti, dan seseorang merasa bangga terhadap dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dan dinyatakan Hasan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).

Kalau yang namanya sifat pelit, walau hanya ujudnya tiwul basi (karena tiwul yang diceritakan itu tadi dimasaknya sudah kemarin sore) itupun sampai diludahi berkali-kali (saking pelitnya) agar tidak ada yang mau ikut makan.

Ilustrasi foto/ cookpad.com/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 694 kali, 1 untuk hari ini)