Debby Nasution meninggal dunia Sabtu (15/9) pukul 13.05 WIB, usai mengisi taklim di Masjid Al Ikhlas, Cipete, Jakarta.


Saat sesi tanya-jawab ta’lim sesudah shalat Duhur, Debby jatuh dan tidak sadarkan diri.

Dia lantas dilarikan ke Rumah Sakit Setia Mitra Fatmawati dan menghembuskan napas terakhir pukul dua siang. Jenazah dibawa ke rumah duka di Sawangan Permai, Kota Depok, dan akan dimakamkan di Pemakaman Pasir Putih, Sawangan, Ahad (16/9) pukul 10:00 WIB, tulis republikaonline.

Keluar dari Islam Jamaah

Debby Murti Nasution seorang anggota Islam Jama’ah yang kemudian keluar dari aliran itu dan membantah ajarannya. Berikut ini dikutip artikel diantaranya berlandaskan tulisan Debby Nasution.

Adakah Bai’at Ketika Tak Ada Khalifah

Berikut ini pembahasan tentang adakah bai’at di kala tidak ada Khalifah. Pembahasan ini saya kutip dari tulisan Debby Murti Nasution seorang anggota Islam Jama’ah/ LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang kemudian keluar dari aliran sesat-menyesatkan itu, lantas membantah ajaran LDII yang mewajibkan pengikutnya berbai’at pada amir. Debby membantahnya dengan tulisan yang berjudul Islam Jama’ah dan Penyimpangannya, di dalam buku Bahaya Islam Jama’ah –Lemkari- LDII, terbitan LPPI Jakarta.. Saya kutip sanggahannya terhadap pembai’atan di kalangan LDII, dengan sub judul Konsep Bai’at dalam Syari’at Islam sebagai berikut:

Bai’at adalah perjanjian untuk taat, dimana orang yang berbai’at bersumpah setia kepada Imam atau Khalifahnya untuk mendengar dan taat kepada Imam atau Khalifah, baik dalam hal yang menyenangkan maupun pada hal yang tidak disukai, dalam keadaan mudah ataupun sulit.

Bai’at kepada Khalifah hukumnya wajib, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

فِي رِوَايَة خَالِد بْن سُبَيْعٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ ” فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب ” .

Artinya: “Maka, apabila engkau melihat — adanya — Khalifah, menyatulah padanya, meskipun ia memukul punggunggmu. Dan jika Khalifah tidak ada, maka menghindar”.(H.R. Thabranie dari Khalid bin Subai’. Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 36).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menegaskan, bahwa wajibnya bai’at adalah kepada Khalifah, apabila ia ada atau terwujud di muka bumi. Meskipun ia (Khalifah) melakukkan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, seperti: memukul, mengambil harta dan melakukan perbuatan fajir lainnya — seperti yang disebut oleh Ali bin Abi Thalib sebelumnya– kalian harus tetap bergabung padanya. Akan tetapi apabila Khalifah tidak ada, maka kaum Muslimin harus menghindar.

Thabranie mengatakan, bahwa yang dimaksud menghindar ialah menghindar dari kelompok-kelompok partai manusia, dan tidak mengikuti seorang pun dalam firqah (golongan) yang ada. (Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 37).

Dengan kata lain, apabila Khalifah atau Kekhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai’at pun tidak ada.

Begitu pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً . (رواه مسلم).

Artinya:

“Dan barang siapa yang mati tanpa bai’at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyyah”. (H.R. Muslim nomor 4899)

Yang dimaksud bai’at di sini ialah bai’at kepada Khalifah, yaitu apabila ia ada di bumi.

Sedangkan H. Nur Hasan (pendiri Darul Hadits, kemudian diubah-ubah namanya menjadi Islam Jama’ah, Lemkari, dan terakhir LDII –Lembaga Dakwah Islam Indonesia, pen) menggunakan hadits ini untuk mengambil bai’at dari pengikutnya bagi dirinya. Dengan kata lain, H. Nur Hasan dan anaknya yang menjadi Imam I.J (Islam Jama’ah). sekarang ini telah menempatkan dirinya sebagai Khalifah, padahal ia dan juga anaknya sama sekali tidak sah untuk menduduki jabatan Khalifah.

Dan H. Nur Hasan mengatakan, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini ialah sama dengan mati kafir.

Pendapat ini tidak bisa dibenarkan dan (bahkan) bertentangan dengan pendapat para Ulama Ahli Hadits, seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini bukanlah mati kafir. Akan tetapi mati dalam keadaan menentang. (Lihat Fathul-Barie juz XIII hal.7).

Di samping itu, pendapat H. Nur Hasan itu mengandung konsekuensi pengkafiran terhadap sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam., yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah. Seperti:

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah Ali bin Thalib, bahkan ia mengangkat senjata memerangi Khalifah Ali. Namun, tidak ada seorang sahabat pun yang mengkafirkan Mu’awiyyah. Termasuk Khalifah Ali, beliau tidak mengkafirkan Mu’awiyyah yang tak mau berbai’at kepadanya. Begitu pula Husain bin Ali yang menolak berbai’at kepada Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah, juga Abdullah bin Umar yang tidak mau bai’at kepada Khalifah Abdullah bin Zubair, padahal Khalifah-khalifah itu merupakan penguasa-penguasa kaum Muslimin yang sah, tidak seperti H. Nur Hasan atau (anaknya sebagai penggantinya, yang bernama) Abdul Dhohir.

Jadi, apabila meninggalkan bai’at kepada Khalifah yang sah (saja) tidak bisa dianggap kafir, masakan tidak mau berbai’at kepada H. Nur Hasan atau Abdul Dhohir yang merupakan Imam palsu alias batil dapat dikatakan kafir?

Dan mengkafirkan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. termasuk perbuatan murtad.

Adapun sekarang ini, kaum Muslimin atau dunia Islam tidak mempunyai Khalifah yang memimpin mereka. Jadi, yang berlaku sekarang ialah ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.: “Apabila Khalifah tidak ada, maka menghindar”. Dan tidak ada kewajiban bai’at bagi kaum Muslimin. Bukan malah membuat-buat Imamah palsu model Islam Jama’ah, dll. yang seperti itu.

Imam Bukharie telah menyusun satu Bab khusus yang membicarakan masalah ini, yaitu Bab yang beliau beri judul:

باب كَيْفَ الأَمْرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ جَمَاعَةٌ . ( 11 )

Artinya: Bab Bagaimana perintah — syariat — apabila Jama’ah tidak ada?

Ibnu Hajar berkata, bahwa yang dimaksud di sini ialah: Apa yang harus dilakukan oleh setiap Muslim dalam kondisi perpecahan diantara umat Islam, dan mereka belum bersatu di bawah pemerintahan seorang Khalifah.

Lalu Imam Bukharie menukilkan hadits Hudzaifah bin Yaman r.a. yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

« فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ » .

Artinya: “Maka, bagaimana jika mereka — kaum Muslimin — tidak memiliki Jama’ah dan tidak memiliki Imam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab: “Maka tinggalkanlah olehmu semua golongan yang ada, meskipun engkau terpaksa makan akar pohon, sehingga engkau menjumpai kematian dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu.”

Maksud hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, yaitu: “Apabila Khalifah tidak ada, maka menghindar.”

Hanya saja dalam hadits ini ada tambahan: “Meskipun engkau terpaksa makan akar pohon….” dan seterusnya.

Menurut Baidhawie, kata-kata ini merupakan kinayah atau kiasan dari kondisi beratnya menanggung sakit.

Selanjutnya Baidhawie berkata: “Makna hadits ini ialah, apabila di bumi tidak ada Khalifah, maka wajib bagimu menghindar –dari berbagai golongan– dan bersabar untuk menanggung beratnya zaman“.. (Walluhu A’lam). Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 36).[11]

[11] Debby Murti Nasution dalam Bahaya Islam Jama’ah –Lemkari- LDII, (Hartono Ahmad Jaiz, ed), LPPI, Jakarta, cetakan kesepuluh, 2001M, hal 32-34.

***

Dari sini bisa difahami, LDII yang menyelewengkan bai’at sughro sampai ke tingkat mengkafirkan pihak lain itu makanya MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII),dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

(Dimodifikasi dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

https://www.nahimunkar.org/ajaran-tentang-baiat/ Posted on 23 Maret 2009

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.563 kali, 1 untuk hari ini)