KH Syamsul Arifin Nababan di Masjid Darul Hijrah BTN Kolhua, Kupang, NTT (19/01/2016).


Sinkretisme adalah paham yang mencampuradukkan beberapa aliran atau agama. Ini dinilai berbeda dengan toleransi.

Hidayatullah.com– Masih ingat perayaan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT)? Perayaan ini dikritisi oleh mantan penginjil, KH Syamsul Arifin Nababan.

Menurut Pendiri Yayasan Annaba Center Indonesia (YACI) itu, Natal bersama bukanlah bentuk kegiatan toleransi beragama. Melainkan sebagai sinkretisasi alias penyeimbangan atau penyerasian antara dua agama.

“Karena toleransi bukan sinkretisme, dimana pencampuradukan kegiatan keagamaan dengan alasan toleransi, seperti yang terjadi di Natal bersama di Kupang itu,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Syamsul dalam pengajian umum bertema kebangkitan Islam di Masjid Darul Hijrah BTN Kolhua, Kupang, NTT, Selasa (19/01/2016). [Baca: Di Kupang, Kristolog Ajak Umat Hindari Syiah dan Gafatar]

Dalam acara gelaran Baitul Maal Hidayatullah itu, ia mengatakan, agama dan tokoh yang paling toleran adalah Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Lalu apakah kita bisa lebih hebat dari Nabi dengan mencampuradukkan urusan agama dengan kalimat ‘toleransi’?” ujarnya di depan 700-an masyarakat Muslim-Muslimah, termasuk hidayatullah.com, yang memadati masjid.

Perkembangan Islam di Barat

Pada kesempatan itu, Syamsul mengungkap pesatnya pertumbuhan Islam di Barat. Salah satu contohnya, banyak masyarakat Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), yang masuk Islam.

Contoh lainnya, kata pria yang rutin berdakwah di AS ini, masyarakat Muslim di sana begitu antusias membeli gereja untuk dialihfungsikan menjadi masjid.

“Karena setiap hari di sana (Barat) ada warganya masuk Islam,” ujar kristolog yang berasal dari keluarga pimpinan gereja di Sumatera Utara ini.

Di AS pun, tutur dia, banyak gereja dijual akibat berkurangnya jemaat mereka. Maka tak heran, kata dia sebagai contoh, di Las Vegas, salah satu tempat lokalisasi dan perjudian terbesar, juga terdapat masjid.

Ramai diberitakan, dalam perayaaan Natal Bersama Nasional di rumah jabatan Gubernur NTT, lagu “Ave Maria” dinyanyikan dengan iringan lantunan suara adzan. Ave Maria adalah doa umat Katolik kepada Maria.

Perayaan pada Senin (28/12/2015) ini diikuti ribuan umat Kristiani dan tokoh lintas agama. Hadir pula Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana, dan jajaran menteri, demikian dilaporkan JPNN (28/12/2015). Berita ini pun mengundang reaksi berbagai pihak. [Baca: Nyanyi Ave Maria Diiringi Adzan dalam Perayaan Natal Dinilai Kebablasan]Muhammad Adianto, kontributor hidayatullah.com di NTT

By: hidayatullah.com/ Muh. Abdus Syakur- Cholis Akbar/Jum’at, 22 Januari 2016 – 19:08 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 823 kali, 1 untuk hari ini)