Mantu Jokowi Lantik Eks Camat yang Pernah Pesta Narkoba jadi Pejabat Pemko Medan

  • Tafsir Al-Isra 16: Penguasa Zalim Penyebab Bencana

Silakan simak ini.

***

Mantu Jokowi Lantik Eks Camat yang Pernah Pesta Narkoba jadi Pejabat Pemko Medan


Dari 77 pejabat eselon III dan IV (lurah) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang dilantik. Terselip nama Ody Dody Prasetyo yang dilantik sebagai Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kesbangpol.

 

Dahulu Ody adalah Camat Medan Polonia. Namun, jabatan tersebut harus dilepasnya karena pada 8 Oktober 2013 Ody bersama sejumlah rekannya tertangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumut karena sedang berpesta narkoba di sebuah ruangan Karaoke Station.

 

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Medan, Muslim Harahap, menyebut sebelum memilih pejabat yang lulus seleksi, panitia seleksi akan melihat rekam jejak peserta.

 

Mengenai kasus yang pernah menimpa Ody, dia mengaku hal itu sudah lama berlalu. Selain itu yang bersangkutan juga sudah bertaubat.

 

“Itu kan sudah lama, orangkan boleh bertaubat, yang penting dia sekarang tidak seperti itu. Masak mau dihukum selamanya,” ujarnya saat dikonfirmasi sesaat setelah kegiatan pelantikan di Balai Kota Medan, Rabu (19/5/2021).

 

Bobby Nasution dalam pidatonya berpesan kepada seluruh jajarannya untuk tidak terlibat dengan peredaran narkoba.

 

“Jauhi yang namanya penggunaan obat-obat terlarang, jangan sampai ada yang menggunakan hal itu,” pesannya. (*)

Gelora News

19 Mei 2021

***

Tafsir Al-Isra 16: Penguasa Zalim Penyebab Bencana

Posted on 19 Januari 2021

by Nahimunkar.org


  • Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 

 
 

Oleh: Dr. KH A Musta’in Syafi’ie M.Ag. . .  

 
 

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [Al Isra”:16]

 
 

Ayat sebelumnya bertutur soal kemahakasihan Tuhan yang tidak bakal menyiksa manusia sebelum diutus utusan atau sebelum ada juru dakwah yang berseru keimanan. Mereka yang patuh akan mendapat kebaikan dan yang durhaka bakalan disiksa. 

 
 

Lalu pada ayat kaji ini menuturkan, bahwa Allah SWT akan menghajar habis-habisan sebuah kaum karena kezaliman, karena kedurhakaan yang dilakukan para penguasanya. Meskipun ibadah rakyat bagus-bagus, meskipun amal perbuatan mereka sesuai syari’ah agama, tapi kalau para pejabatnya banyak yang mengumbar nafsu, korup, berfoya-foya, maka itu berpotensi turunnya azab atas kaum tersebut. 

 
 

Terkait turunnya azab tersebut, cukup diambil dua kata kunci pada ayat ini, yakni: mutrafiha (pembesar)
dan fafasaqu fiha (durhaka). Mutraf, mutrafun, adalah kaum jetset, borjuis, pembesar yang bergelimang harta dan hobi berfoya-foya. Derajat sosial yang tinggi dan serba berkecukupan membuat mereka bebas melakukan apa saja. 

 
 

Sementara kata “fa fasaqu fiha”, menunjukkan betapa kaum mutrafin tadi telah terjerumus kepada kefasikan, kemaksiatan, kedurhakaan. Hal demikian karena pada umumnya, nafsu dan syahwat sangat mendominasi pola hidup mereka, sehingga cenderung abai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin, sebagai orang gedean yang mesti memberi contoh kesalehan kepada umat. Di kepala mereka, nafsu hedonis lebih utama ketimbang menunaikan amanah.

 
 

Dari dua kata ini menunjukkan, bahwa kaum mutrafin itu tidak semuanya mesti hobi berbuat maksiat, tidak semuanya mesti ngumbar durhaka, melainkan cenderung durhaka. Begitu mereka durhaka dan terus dalam kedurhakaan, maka langit bersikap lain: fa haqq ‘alaiha al-qaul“. Barulah Allah SWT memutuskan untuk layak diazab. Azab turun beneran dengan volume top, “fa dammarnaha tadmira“, dihancurkan sehancur-hancurnya. 

 
 

Beberapa kata dalam ayat kaji ini penting dianalisis. Pertama, kata qaryah, artinya: perkampungan atau bangsa. Kata ini menunjukkan ruang tertentu, daerah atau negeri tertentu, tidak bias dan umum. Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 

 
 

Kedua, “amarna” mutrafiha. Qira’ah lain, “ammarna” pakai tasydid. Amara, artinya memerintahkan, menyuruh. Sedangkan “ammara”, artinya menguasakan. Allah memberi negeri tersebut penguasa yang mutrafin. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan sebagainya. Kadang bupatinya bagus, tapi para kepala bagiannya brengsek. []

@geloranews

16 Januari 2021

(nahimunkar.org)

(Dibaca 182 kali, 1 untuk hari ini)