Manusia Berlomba-lomba Menghiasi Masjid dan Berbangga Dengannya  (Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 19)

Silakan simak baik-baik tulisan berikut ini.

***

 

19. BERLOMBA-LOMBA MENGHIASI MASJID DAN BERBANGGA-BANGGA DENGANNYA.

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Tidak akan tiba Kiamat hingga manusia saling berbangga-bangga dengan masjidnya.” [Musnad Ahmad (III/134, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz). Syaikh al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiihul Jaami (VI/174, no. 7294).]

Dalam riwayat an-Nasa-i juga Ibnu Majah dari beliau (Anas) Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah manusia saling berbangga-bangga dengan masjid.” [Sunan an-Nasa-i (II/32, Syarh as-Suyuthi). Syaikh al-Albani berkata, “Shahih,” lihat Shahiihul Jaami’ (V/213, no. 5771). Dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/281, no. 1322-1323) tahqiq Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhami, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”]

Al-Bukhari berkata, Anas berkata, ‘Berbangga-bangga dengannya kemudian tidak memakmurkannya (mengisinya dengan berbagai macam ibadah-ed.) kecuali sedikit saja, maka makna dari berbangga-bangga dengannya adalah hanya memperhatikan hiasannya saja. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Sungguh kalian akan menghiasinya sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani (menghias tempat ibadah mereka).’” [Shahiih al-Bukhari, kitab ash-Shalaah, bab Bun-yaanul Masjid (I/539, al-Fat-h).]

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu pernah melarang menghiasi masjid karena hal itu bisa menghilangkan konsentrasi (kekhusu’an) bagi orang yang sedang melakukan shalat. Beliau berkata ketika memerintahkan untuk memperbaharui pembangunan Masjid Nabawi:

أَكِنَّ النَّاسَ مِنَ الْمَطَرِ، وَإِيَّاكَ أَنْ تُحَمِّرَ أَوْ تُصَفِّرَ فَتَفْتِنَ النَّاسَ.

“Tutupilah orang-orang dari air hujan, dan janganlah kalian menghiasinya dengan warna merah atau warna kuning, sehingga orang-orang terganggu dengannya.” [Lihat Shahiih al-Bukhari (I/539, al-Fath).]

Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada ‘Umar; karena terbukti orang-orang tidak memegang wasiatnya, mereka bukan saja memberikan warna merah dan warna kuning, akan tetapi mereka menghiasinya sebagaimana mereka menghiasai pakaian. Para raja juga khalifah berbangga-bangga membangun masjid dan menghiasinya hingga mereka melakukan sesuatu yang sangat mencengangkan. Masjid-masjid itu tetap tegak sampai saat ini, sebagaimana terdapat di Syam, Mesir, negeri-negeri Maghrib (Maroko), Andalusia dan yang lainnya, dan hingga saat ini kaum muslimin senantiasa berbangga-bangga dalam menghiasi masjid.

Tidak diragukan lagi bahwa menghiasi masjid merupakan ciri sikap boros. Sedangkan meramaikannya hanyalah dengan melakukan ketaatan dan dzikir kepada Allah di dalamnya. Cukuplah bagi manusia membuat sesuatu yang dapat melindunginya dari panas, dingin, dan hujan.

Telah datang ancaman dengan kehancuran ketika masjid dihiasi dan al-Qur-an diperindah (dengan berbagai corak). Al-Hakim dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abud Darda Radhiyallahu anhu, dia berkata:

إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ، وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ، فَالدِّمَارُ عَلَيْكُمْ.

“Jika kalian menghiasi masjid-masjid dan mushhaf kalian, maka kehancuranlah yang akan menimpa kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shagiir (I/220, no. 599), dan Syaikh al-Albani berkata, “Sanadnya hasan.”*]

*) Diungkapkan dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/337, no. 1351). Hadits tersebut di-riwayatkan oleh al-Hakim dan at-Tirmidzi dalam al-Akyaas wal Mughtarriin (hal. 78, Manuskrip azh-Zhahiriyah) dari Abud Darda secara marfu’.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dengan perubahan susunan yang awal ada di akhir dan yang akhir ada di awal dalam az-Zuhd (hal. 275, no. 797) tahqiq Habiburrahman al-A’zhami.

Al-Albani menyebutkan sanad Ibnul Mubarak dalam as-Silsilah, dan beliau berkata, “Perawi sanad ini tsiqah, perawi Muslim. Akan tetapi saya tidak mengetahui apakah Bakar bin Sawadah (riwayat dari Abud Darda) mendengar dari Abud Darda atau tidak?”

Al-Baghawi menuturkannya dalam Syarhus Sunnah (II/350) dan menisbatkannya kepada Abud Darda.

As-Suyuthi menyambungkannya dalam al-Jaami’ush Shaghiir (hal. 27) kepada al-Hakim dari Abud Darda, dan memberikan lambang dengan ضَعِيْفُ (lemah), demikian pula al-Munawi melemahkannya dalam Faidhul Qadiir (I/367, no. 658).

Al-Munawi rahimahullah** berkata, “Menghiasi masjid dan mushhaf adalah sesuatu yang dilarang, karena hal itu bisa menyibukkan hati, dan menghilangkan kekhusyu’an dari bertadabbur dan hadirnya hati dengan mengingat Allah Ta’ala. Madzhab asy-Syafi’i berpendapat bahwa menghiasi masjid -walaupun Ka’bah- dengan emas atau perak diharamkan secara mutlak, adapun dengan selain keduanya hukumnya adalah makruh.” [Faidhul Qadiir (I/367)]

**) Beliau adalah Zainuddin Muhammad bin ‘Abdurrauf bin Tajul ‘Arifin bin ‘Ali bin Zainal ‘Abidin al-Haddadi al-Manawi. Beliau memiliki delapan puluh karya tulis, sebagian besar dalam masalah hadits, biografi dan sejarah, wafat di Kairo tahun 1031 H. Lihat al-A’laam (VI/204).

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Artikel http://almanhaj.or.id

https://tigalandasanutama.wordpress.com/2017/08/21/tanda-tanda-kecil-kiamat-19-manusia-berlomba-lomba-menghiasi-masjid-dan-berbangga-dengannya/

***


Alhamdulillah, renovasi Masjid Istiqlal Rp 511 miliar selesai dikerjakan


Kamis, 07 Januari 2021 / 23:37 WIB


ILUSTRASI. Seorang petugas berjalan di ruang utama usai peresmian renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (7/1/2021).

 

 

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PresidenJoko Widodo (Jokowi) meresmikan renovasi Masjid Istiqlal, Kamis (07/1) sore, di Jakarta. Renovasi tersebut merupakan renovasi yang pertama sejak 42 tahun yang lalu dan menelan biaya sebesar Rp 511 miliar dari APBN.

“Hari ini Masjid Istiqlal, masjid kebanggaan kita semua telah selesai di renovasi, alhamdulillah,” ujar Presiden dalam sambutannya dilansir dari laman Setkab.

Presiden berharap dengan selesainya renovasi ini Masjid Istiqlal dapat menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia.

“Renovasi Masjid Istiqlal agar menjadi semakin megah bukan untuk gagah-gagahan, bukan hanya menjadi kebanggaan umat Islam tapi juga menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia, kebanggaan bangsa kita Indonesia,” ujarnya

Kepala Negara menilai setelah direnovasi Masjid Istiqlal berubah total dan tampak seperti baru kembali.

“Lanskapnya ditata ulang menjadi indah dan semakin kelihatan tertata rapi. Lantainya juga saya lihat sudah tiga kali, lebih berkilau. Tata cahayanya juga diganti, sangat modern dan indah. Sungai yang membelah Istiqlal juga semakin bersih dan rapi,” nilainya.

Oleh karena itu, Presiden menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah merenovasi Masjid dengan tidak hanya memaksimalkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah tetapi juga memperhatikan aspek arsitektur, seni, dan estetika.

“Dan yang tidak kalah penting tetap mempertahankan pada kaidah-kaidah cagar budaya bangunan masjid, ini sangat penting,” pungkasnya.

Usai memberikan sambutan, Presiden memukul bedug sekaligus menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian renovasi.

Dalam kegiatan ini Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Hadir juga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar beserta Badan Pengelola Masjid Istiqlal.

KONTAN.CO.ID, Kamis, 07 Januari 2021 / 23:37 WIB

***

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, Perusak Aqidah Islam.

Silakan simak ini.

***

Astaghfirullah…  Na’udzubillah… Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitas

Posted on 8 Oktober 2017

by Nahimunkar.org


/foto anand ashram foundation


Nasaruddin Umar (baju batik) dengan Anand Krishna, wong Hindu yang mngacak-acak Islam dengan menulis buku. Nasaruddin Umar adalah orang yang menyanjung Anand Krishna (orang bukan Islam) lewat kata pengantar buku  Anand berjudul Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern, sebuah apresiasi, dengan kata pengantar Dr Nasaruddin Umar MA pembantu rektor IV IAIN Jakarta (sekarang UIN –Universitas Islam Negeri), terbitan PT GramediaPustaka Utama, Jakarta.  Padahal buku Anand Krishna itu menuduh Nabi Muhammad mengajarkan kemusyrikan, dengan ditulis: Nabi Muhammad pun pernah mengatakan, Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! ((halaman 43).

Kekurangajaran Nasaruddin Umar rupanya kini diulangi lagi dengan menyamakan asmaul husna dengan trinitas.

Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal menyamakan Asmaul Husna 99 dengan trinitas. Penyamaan itu sengaja dia kemukakan, padahal landasannya hanya perkataan pendeta.

Entah dari mana sumbernya, Nasaruddin Umar mengemukakan cerita begini:

Suatu saat seorang muslim mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.

Cerita entah dari mana itu tentunya secara ilmu bukan merupakan dalil, walaupun yang mengemukakan cerita itu seorang professor doktor bahkan imam besar masjid nasional, Masjid Istiqlal di Jakarta. Apalagi masalah ini masalah sangat prinsipil dalam agama, menyamakan Tauhid (Keesaan Allah Ta’ala) dengan kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan lain-Nya, bahkan dianggap punya anak).

Berbicara agama Islam, landasan utamanya adalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Al-Qur’an, perkataan Allah punya anak itu sangat dikecam:

{ وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا} [مريم: 88 – 93]

88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”, 89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, 90. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, 91. karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak,92. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak,93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba [Maryam,88-93]

{ لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [المائدة: 72، 73]

72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun, 73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih [Al Ma”idah,72-73]

{لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ (17) بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (18) وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ (20) أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ (21) لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ} [الأنبياء: 17 – 22]

17. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya), 18. Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya), 19. Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih, 20. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya, 21. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati), 22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan [Al Anbiya”,17-22]

Kepada kaum Muslimin, hendaknya jangan sampai tertipu oleh penipu ulung dalam merusak aqidah yang telah nyata sangat bertentangan dengan firman-firman Allah Ta’ala dalam kitab suci Al-Qur’an itu. Dan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam juga sudah sangat wanti-wanti.

Haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.(رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wa sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Berikut ini pemahaman Nasaruddin Umar yang sangat merusak Islam. Silakan dibaca.

***

Imam Besar Istiqlal: Trinitas Tidak Berbenturan Dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (!?)

Redaksi – Minggu, 8 Oktober 2017 05:11 WIB


Eramuslim.com – DOKTRIN Trinitas atau Tritunggal dalam agama Kristen sama sekali tidak berbenturan dengan Ketuhanan YME. Doktrin Trinitas menggambarkan Satu Tuhan dalam tiga pribadi (one God in three Divine Personsthree), yaitu Bapa, Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Tiga konsubstansi tersebut dapat dibedakan, namun tetap merupakan satu substansi.

Doktrin Trinitas tidak secara eksplisit dalam Kitab Suci tetapi Kitab Suci memberikan kesaksian tentang kegiatan suatu pribadi yang hanya dapat dipahami dari segi Trinitaris. Tidak heran jika doktrin ini memiliki bentuk pembenarannya lebih luas pada akhir abad ke-4.

Dalam Konsili Lateran IV dijelaskan: “Allah yang memperanakkan, Anak yang diperanakkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Meskipun memiliki “tiga pribadi” tetapi tetap satu.

Logika Doktrin trinitas sesungguhnya bisa dijelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah dalam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabbala Yahudi, Atma-Brahma dalam agama Hindu, Yang-Yin dalam teologi Taoisme. Sesuatu yang berganda atau berbilang tidak mesti harus dipertentangkan dengan konsep keesaan. Konsep Asma’ al-Husna berjumlah 99 tidak mesti bertentangan dengan keesaan Allah Swt.

Suatu saat seorang muslim mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.

Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guru spiritual), bagaimana saudara kita yang beragama Kristen mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau saudara kita yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti? Sang mursyid menjawab, di situlah kelirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia.

Sang mursyid mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Allah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115).

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan hanya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu.

Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang banyak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah/the one in te many and the many in the one).

Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggu konsep kemahaesaan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luar Kristen sering sulit memahami Tuhan mempunyai anak, karena dalam benak masyarakat kata “Anak” masih selalui dihubungkan dengan anak biologis. Padahal dalam Bahasa Arab kata “Ibn” atau “Son” dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak biologis. Kata “anak” bisa berarti simbol kedekatan atau representatif, seperti kata “anak-anak Indonesia di luar negeri” berarti anak-anak yang menampilkan ciri khas dan karakteristik bangsa Indonesia.

Seorang anak lebih mencirikan karakter bapaknya sering diistilahkan “anak bapaknya”. Begitu dekatnya hubungan dan banyaknya persamaan sifat dan karakter seseorang dengan sesuatu sering diistilahkan anak dari sesuatu itu. Persoalan semantik sering kali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar, bahkan menjadi sumber konflik.

Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal

(dz/rmol/suaraislam)

Berarti semua agama benar menurut anda, pak Nasar !?

Sumber : eramuslim.com

(nahimunkar.org)

***

Bila ‘Salam Pancasila’ dan ‘Salam Oplosan’ untuk Ganti Salam Akhir Shalat

Posted on 11 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

 

Bila ‘Salam Pancasila’ dan ‘Salam Oplosan’ untuk Ganti Salam Akhir Shalat
 

Ada orang yang mengusulkan agar salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ diganti dengan Salam Pancasila. Alasannya ya dia bikin-bikin sekenanya.



Yudian Ketua BPIP/ Rektor UIN Jogja Usulkan Ganti Assalamu’alaikum dengan Salam Pancasila?
https://www.nahimunkar.org/yudian-ketua-bpip-rektor-uin-jogja-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila/

 

Ada pula orang-orang yang mengamalkan dalam membuka pidatonya dengan salam oplosan. Itu terjadi di mana-mana. Yaitu salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain.

Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang

 OKT 22

Salam ‘Oplosan’ Merusak Iman dalam Pidato dan Doa pada Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2019

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019-2/

 
 

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-mencopot-iman-miras-oplosan-mencopot-nyawa/

Orang-orang yang mengamalkan salam oplosan ataupun mengusulkan untuk mengganti salam Islam dengan salam Pancasila itu sudah ‘lancang pangucap’ (Bahasa Jawa, lancang dalam berkata-kata). Sudah menginterupsi, menginovasi, dan mengintervensi agama Islam yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak untuk mengaduk-aduk semaunya, apalagi memasukkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan Islam.

Itu disamping ‘lancang pangucap’, masih pula mengubah kayakinan Islam, dari Tauhid (menyembah hanya kepada Allah Ta’ala) menjadi syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Satu kemunkaran terbesar alias paling puncak. Makanya bila sampai meninggal belum bertaubat, akibatnya masuk neraka selama-lamanya dan haram masuk surga, seperti telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maaidah ayat 72 di atas.

Konsekuensi logis dari orang yang mau mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila maka ketika dia mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, maka shalatnya ditutup dengan ‘Salam Pancasila (toleh kanan), ‘Salam Pancasila’ (toleh kiri).

Astaghfirulaah… Astaghfirullaah… Astaghfirullaah…

Demikian pula konsekuensi logis dari orang yang mengamalkan salam oplosan dalam membuka pidato-pidatonya, maka seperti imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar (wong NU), Ketua Lajnah Pentashihan Al-Qur’an Kementerian Agama Mukhlis Hanafi (wong NU juga, sebagaimana Yudian Wahyudi pengusul salam Pancasila itu juga wong NU pula), Mukhlis Hanafi menulis pembelaan terhadap Salam Oplosan di media Kemenag, dan siapa saja yang berbuat lancang begitu itu, ketika mereka mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, (konsekuensi logisnya) maka shalatnya ditutup tidak cukup dengan yang biasa dalam Islam yaitu ‘Assalamu’alaikum warahmatullaah’, tetapi masih dilanjutkan dengan salam agama Hindu (yang aqidahnya tidak sama dengan Islam tersebut) dan salam-salam agama lain. Maka sempurnalah praktek amalan kemusyrikan mereka.

Dari konsekuensi logis seperti itu akan lebih sempurna lagi, ketika dipimpin oleh ulamanya (wong NU juga) yang telah bertekad menerapkan Islam Nusantara.

Di Depan Partai Nasdem, Ma’ruf Amin Janji Terapkan Islam Nusantara Jika Terpilih

Posted on 17 September 2018

by Nahimunkar.org
https://www.nahimunkar.org/di-depan-partai-nasdem-maruf-amin-janji-terapkan-islam-nusantara-jika-terpilih/

 

Ketika sudah begitu, konsekuensi logisnya pula, maka Dzikir pagi dan petangnya, di antaranya diganti dengan:

Rodhiitu bi…. robban

Wa bi… (Islam Nusantara) diinan

Wa bi…. nabiyyan

 

Komplitlah sudah dalam merusak agama secara ramai-ramai menggunakan kekuasaan yang duit gaji mereka disedot dari rakyat yang penduduknya mayoritas Muslim, bahkan jumlah penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Betapa mengerikannya…

Na’uudzubillaahi min dzalik!

(nahimunkar.org)

 

 

 


 

(Dibaca 399 kali, 2 untuk hari ini)