أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ (45) أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ (46) أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَى تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ  [النحل/45-47]

45. maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,

46. atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu),

47. atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa)[830]. Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS An-Nahl/ 16: 45,46,47)

[830]. Menurut sebahagian ahli tafsir, Takhawwuf berarti dalam keadaan takut.

***

Jalan Putus, 10 Dusun di Magelang Terisolasi

Warga menyaksikan ruas jalan yang putus di Desa Mangunsoko, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (4/11). Terputusnya jalan tersebut akibat aliran banjir lahar Merapi di Sungai Senowo yang menyebabkan 10 dusun di Desa Krinjing, Dukun, Magelang, terisolasi.

ANTARA/Andika Betha/am

JUMAT, 04 NOVEMBER 2011 20:54 WIB/ mediaindonesia.com/

***

Banjir Lahar Dingin

Warga di 10 Dusun di Magelang Terisolasi

Magelang – Warga di 10 dusun, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terisolasi menyusul ruas jalan menuju Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan putus akibat tebing Sungai Senowo tergerus banjir lahar. Pejabat sementara Kepala Desa Krinjing, Kadar, di Magelang, Jumat, mengatakan, 10 dusun tersebut, yakni Dusun Ngaglik, Dadapan, Trayem, Semen, Krajan, Tempel, Trono, Muntuk, Gendelan, dan Kepil.

Ia menyebutkan, dari 10 dusun tersebut dihuni sebanyak 612 keluarga terdiri atas 2.091 jiwa.

Ruas jalan yang putus tersebut berada di Dusun Kajangkoso, Desa Mangunsoko. Pada Kamis (3/11) pukul 16.00-18.00 WIB banjir lahar dingin melewati alur Sungai Senowo akibat turun hujan deras di puncak Merapi.

Kadar mengatakan, saat banjir lahar awal 2011, jalan di atas tebing sungai setinggi 30 meter tersebut telah tergerus 100 meter lebih, kemudian masyarakat membuat jalan tanah di lahan sebelahnya. “Namun, semalam tebing tersebut ambrol lagi dengan lebar sekitar delapan meter dan panjang keseluruhan tebing longsor saat ini mencapai 210 meter” katanya.

Camat Dukun Ali Setyadi, mengatakan semula masyarakat telah bergotong royong untuk membuat jalan di lahan penduduk di sebelah tebing longsor, namun ternyata tanah telah retak-retak.

Ia mengatakan, melihat kondisi tersebut, sementara pembuatan jalan baru dihentikan dan jalur tersebut ditutup untuk kendaraan karena rawan longsor. “Untuk menghindari korban jiwa, jalan ini ditutup karena cukup berbahaya,” katanya.

Kadar mengatakan, dengan putusnya jalur utama tersebut warga Krinjing akan memanfaatkan jalan alternatif Krinjing-Ngaglik- Sewukan Tegal. “Jalur alternatif tersebut berupa jalan setapak yang cukup terjal maka kami akan memperbaikinya dulu agar nyaman dilalui,” katanya.

Petugas Pengamatan Gunung Merapi Pos Babadan, Ismail, mengatakan untuk menuju Pos Babadan dengan kendaraan saat ini harus memutar sekitar 10 kilometer melalui jalur utara.

Penulis – Antok

Jumat – 2011-11-04, 17:19 WIB

Suaraberita.com

***

60 Orang Terjebur Di Sungai Progo

TRIBUN JOGJA/IST: Jembatan sesek yang putus, di Kampung Ngembek, Kelurahan Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang.

MAGELANG, – Sekitar 60 orang terjebur di Sungai Progo dan dua sepeda motor hilang saat jembatan gantung yang menghubungkan antara Kampung Ngembek, Kelurahan Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang dan Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, tali selingnya putus sebelah, Selasa (1/11).

Salah satu korban selamat, Dahri (58), warga Dusun Kedon, Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan menuturkan, kejadian bermula sekitar pukul 16.00, ratusan warga seperti biasa melintas jembatan sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter yang terbuat dari bambu. Dan tinggi dari dasar sungai sekitar 20 meter.

“Tiba-tiba kreekk.. Tali seling sebelah kiri yang dari arah Ngembek putus. Dan orang-orang pada jatuh ke sungai. Suasana riuh dan banyak yang bertakbir,” tuturnya dengan penuh ekspresi.

Ketika para warga terjebur, lanjut Dahri, lima menit kemudian sungai tersebut terjadi banjir akibat hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah lereng Gunung Merbabu. Beruntunglah, warga yang terjebur bisa menyelamatkan diri dengan cara berenang ke tepi, dan dibantu oleh warga yang selamat. “Namun dua kendaraan yang terjatuh entah milik siapa, hilang terbawa arus,” katanya.

Dahri menyebutkan, saat kejadian, terdapat delapan kendaraan yang tergantung di jembatan, sedangkan dua lainnya jatuh dan hanyut.

Menurutnya, jembatan yang dibangun sekitar tahun 1983 tersebut sejak dibangun memang sudah dua kali putus, dan ini yang ketiga. “Jembatan ini ketika pagi dan sore saat jam berangkat dan pulang kerja memang banyak yang melintas,”ungkapnya.

Dahri sendiri masih beruntung bisa selamat, karena dia berada satu langkah dari jembatan. “Biasanya saya juga naik sepeda kalau lewat sini. Dan ini kebetulan jalan kaki,” ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, dua korban terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSJ Prof dr Soeroyo, Kota Magelang. Antaralain, Muhwari (46) warga Dusun Kedon, Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, luka lebam di bagian perut sebelah kiri dan pundak kiri. Dan Susyadi (31) warga Dusun Guntur, Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, luka lebam di bagian dada kiri.

Keduanya langsung dibawa pulang oleh pihak keluarga, karena menurut dokter rumah sakit tersebut tidak mengalami luka serius, dan hanya dianjurkan rawat jalan.

Akibat putusnya jembatan tersebut, kini warga terpaksa mencari jalur lain hingga jembatan ini diperbaiki kembali. Yaitu melalui Kampung Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang.

Komandan SAR Magelang, Heri Prawoto mengatakan, saat korban terjebur mereka langsung ditolong oleh warga sekitar dengan cepat, sehingga tidak sampai hanyut terlalu jauh. “Tim SAR tiba di lokasi para korban sudah dievakuasi oleh warga, dan kami membantu mengevakuasi kendaraan yang terjebak di tengah jembatan dan menggantung di kawat seling,” katanya.

Sedangkan putusnya kawat seling jembatan, imbuhnya, dugaan sementara disebabkan oleh kelebihan beban.

Editor : budi_pras

Tribun Jateng – Rabu, 2 November 2011 05:31 WIB

Laporan Wartawan Tribun Yogya/ M Huda

TRIBUNJATENG.COM

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.044 kali, 1 untuk hari ini)