ilustrasi ritual syiah ziarah Arafah tapi di Karbala Irak, bukan di Arafah Saudi Arabia. padahal kata Nabi saw Al-Hajju Arafah, haji itu (wuquf di) Arafah. foto ist/syhindns


Setelah gagal di UMM Malang dalam rencana Acara Syiah bertepatan dengan hari raya syiah Idul Ghadir 18 Zulhijjah (yang bermuatan membenci sahabat-sahabat Nabi saw), antek syiah yang menunggangi Muhammadiyah masih mau melanjutkan acara syiah.

Acara akan dipecah jadi dua. Yang satu di Solo Jawa Tengah, dan yang satunya lagi di Jakarta.

Apakah itu sebagai pertanggung jawaban antek syiah tersebut dengan perwakilan Iran di Indonesia atau hal lain, justru antek syiah yang menunggangi Muhammadiyah itu bisa menggunakan payung yakni orang politik di MPR. Orang politik itu dijadikan sandaran agar terlaksananya acara syiah yang memang didanai oleh syiah, setelah gagal dilaksanakan di UMM Malang, menurut sumber nahimunkar.com.

Siapakah antek syiah yang menunggangi Muhammadiyah demi kepentingan syiah yang kini diketahui sebagai golongan memusuhi Islam dan kiblatnya bukan Ka’bah tapi Karbala di Irak itu?

Orang itu memang telah pernah membanggakan diri sebagai orang yang menandatangani kerjasama dengan lembaga syiah di Irak. Dia adalah orang yang dulunya dekat dengan Qadafi Libya, kemudian dekat dengan perwakilan syiah Iran di Indonesia. Sepak terjang dia juga tercatat pernah mengangkangi MUI dengan mengadakan kerjasama dengan lembaga syiah Irak, padahal MUI memiliki Keputusan Rakernas MUI tgl 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (bahwa syiah itu berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).

Seharusnya, menurut sumber nahimunkar.com, MUI dan juga Muhammadiyah jangan sampai jadi korban antek syiah yang kini manuvernya untuk menyelenggarakan acara syiah internasional masih akan dilanjutkan, dengan menunggangi Muhammadiyah itu. Acaranya akan dipecah jadi dua, di Solo dan Jakarta, setelah gagal di UMM Malang.

Menyelenggarakan acara syiah, sama dengan ikut benci sahabat Nabi saw dan berkiblat  bukan ke Ka’bah

Perlu diketahui, menyelenggarakan acara syiah berarti mempropagandakan syiah yang kiblanya bukan Ka’bah tapi Karbala, dan aqidahnya membenci sahabat-sahabat Nabi saw.

Apabila dilihat dengan jeli, maka kalau ormas itu merelakan dirinya “ditunggangi” antek syiah untuk menyelenggarakan acara syiah, berarti sama dengan terlibat dalam mengusung golongan yang berfaham mencaci sahabat Nabi saw. Resikonya, bila tergolong orang yang mencaci sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan membencinya, maka bisa jatuh ke kafir, menurut Imam Malik.

Imam Malik rahimahullah mengkafirkan syi’ah rafidhah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah:

 وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ انْتَزَعَ الْإِمَامُ مَالِكٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي رِوَايَةٍ عَنْهُ- بِتَكْفِيرِ الرَّوَافِضِ الَّذِينَ يُبْغِضُونَ الصَّحَابَةَ

“Dan dari ayat ini (QS Al-Fah/48: 29), Imam Malik memutuskan –dalam sebuah riwayat darinya- akan kafirnya syiah rafidhah yang mana mereka membenci para sahabat ( Tafsir Ibnu Katsir 7/338).

Kiblat kita adalah ka’bah baitullah yang mana kita menghadap kepadanya setiap hari. Namun bagaimana dengan agama kufur “syiah radihah” ? Ternyata mereka mewajibkan agar karbala menjadi kiblat kaum muslimin.

Adapun kiblat syiah adalah Karbala. Ini penegasan pihak syiah.

Syiah: Karbala Wajib Menjadi Kiblat Kaum Muslimin

Silahkan simak perkataan mereka pada video ini yang diwakili oleh Nuri Al-Maliki:
Link video disini:

https://www.facebook.com/221268711229604/videos/769166433106493/

Teks perkataan:

ولكن بإذن الله حينما تتطور كربلاء, لأن كربلاء يجب أن تكون هي قبلة العالم الإسلامي لأن فيها الحسين وإن شاء الله هناك من يأتي من الحكومة المحلية أن يعجلوا ويسرعوا في تطوير الخدمات اللائقة المناسبة لاستقبال زوار الإمام الحسين في كل المناسبات. وزائر الإمام الحسين ليسوا فقط في المناسبات التي نحياها في العاشر من المحرم وفي الأربعين وإنما في كل جمعة بل في كل يوم. لأنه قبلة. والقبلة نتجه إليها في كل يوم خمس مرات وكذالك الحسين هو ابن هذه القبلة التي أوصانا الله أن نتجه إليها.

“Akan tetapi dengan izin Allah, ketika Karbala semakin berkembang, karena Karbala wajib untuk menjadi kiblat musllimin, karena disana ada Husain dan insya Allah akan ada dari pemerintahan daerah yang akan bersegera dan mempercepat perkembangan layanan yang tepat yang layak untuk menjumpai para pengunjung imam Husain pada setiap kesempatan. Dan pengunjung Imam Husain bukan hanya pada 10 Muharram dan hari Arbain saja, akan tetapi akan ada pada setiap jumat bahkan setiap hari. Karena dia adalah kiblat. Dan kita menghadap kiblat setiap hari sebanyak 5 kali. Dan begitu pula Husain yang mana dia adalah anak kiblat yang Allah wasiatkan kepada kita untuk menghadap kepadanya”

(selesai)

Apa kita masih mau diam dari kesesatan agama syi’ah ?? Dan pura-puran tidak tahu ??

Semoga Allah memberikan hidayah untuk mereka semua. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al Amiry) http://www.alamiry.net/Minggu, Oktober 04, 2015

***

Ketika kiblat syiah itu telah ditegaskan oleh pihk syiah sendiri adalah Karbala, dan sejuta syiah Iran berwuquf di Karbala musim haji 1437H/ 2016 yang baru saja usai, bukan di Arafah sebagaimana yang disabdakan Nabi saw: الحج عرفة  haji itu adalah (wuquf) di Arafah, maka berarti syiah sama dengan menyatakan diri bukan ahlul qiblat (ahli Kiblat) alias tidak sama dengan Islam lagi.

Apakah Muhammadiyah dan bahkan MUI rela digolongkan sebagai bukan ahli Kiblat? Apakah lebih pilih diseret-seret oleh antek syiah ke jurang yang lebih dalam lagi? Apakah tidak ingat, kalau MUI dan Muhammadiyah itu dicontoh oleh jutaan Umat Islam, sehingga aqidahnya jangan sampai tergerogoti oleh syiah yang membahayakan aqidah itu?

Sumber nahimunkar.com belum memberi komentar, apakah ormas Islam itu akan terjerembab lebih jauh lagi atau pilih selamat dan menindak antek syiah tersebut.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.078 kali, 1 untuk hari ini)