Bismillah, saya mendapatkan menenggelamkan diri di ruqyah, berkonsentrasi padanya, tidaklah baik -minimal bagi saya-. Mungkin saja Allah melindungi kita dari serangan-serangan fisik yang signifikan; karena kita baca ini baca itu dari wirid-wirid. Tetapi setan-setan takkan menyerah begitu saja. Mereka lebih fokus ke masalah akhlaq dan perombakan tazkiyatun nufus peruqyah. Kadang mereka mempersilakan peruqyah untuk beraksi dan mempertontonkan ‘seolah’ peruqyah berhasil meruqyah; padahal mereka berpindah kamp konsentrasi, dari korban menuju ke peruqyah. Dibuatlah peruqyah ujub, sombong, anti-nasehat dan ketagihan meruqyah sehingga kelalaian akan hak-hak Allah dan hak-hak manusia menjadi-jadi.

Jika saya melihat korban kesakitan karena dibacakan ayat-ayat, saya berharap lebih berfikir bahwa kesakitan tersebut tidak lebih membahayakan dibandingkan kerendahan akhlak saya pribadi, kejahatan saya yang terselubung, penghancuran sisi dalam jiwa saya dan perasaan-perasaan ‘lebih baik’ dari yang lain.

Karena muslim yang kesakitan, biasanya dia langsung mengingat Allah.

Tapi kalau kita yang akhlaknya memburuk, biasanya lebih mengingat jasa kita, kehebatan kita dan apalah itu lagi yang penting kita tidak boleh dikritik apalagi dijelek-jelekkan.

Saya pribadi memandang marabahaya itu begitu happening dan menimpa pada peruqyah manapun yang sepekan bisa saja menangani 3-4 kasus atau peruqyah kondangan; JIKA tidak dirutinkan menelaah al-Qur’an dan tafsirnya, Hadits dan syarahnya, Aqidah dan penyimpangannya dan Fiqh dan pengaturannya. Rutin: harian. Tiap hari mencari ilmu syar’i, dan tidak merasa sudah cukup. Tidak boleh juga beralasan: ‘Saya sibuk show di panggung ini. Saya sibuk shooting supaya masuk TV itu.’

Peruqyah yang merasa cukup ilmu syariahnya, lalu merasa ‘darurat’ untuk tampil di tingkat nasional atau internasional, sebenarnya sudah terkena jerat syayathin. Dia akan disibukkan dengan ruqyahnya. Bahkan kadang menawarkan kekonyolan di depan orang banyak tanpa berfikir tanpa menimbang tinjauan syariah. Bagaimana bisa menimbang jika belajar saja jarang? Itulah dia. Kita miris dengan diri-diri kita: sudah ilmu belum seberapa, tapi merasa siap menggadaikan diri di hadapan jutaan pasang mata dengan alasan ‘ini darurat untuk umat’. Fitnah syuhrah akan menjadi-jadi jika disebabkan fitnah jahl. Masih wajarlah kalau orang memang berilmu tinggi lalu kena fitnah syuhrah (pamoritas). Tapi bagaimana jika seperti saya ini: sudah tertimpa fitnah dan musibah kejahilan, tertimpa fitnah pamoritas pula.

Management akhlak itu sekali lagi penting. Saya pernah sampaikan ke sebagian pencari ilmu (dan saya pun semoga adalah pencari ilmu), bahwa ustadz-ustadz berilmu yang hanya bicara masalah Fiqh saja, rentan dengan fitnah kemerosotan aqidah dan kejomplangan akhlak. Karena nol dalam masalah tazkiyatun nufus. Tapi ternyata ada juga yang lebih dahsyat:

“Bicara tentang Aqidah dan Tauhid, juga tazkiyatun nufus, tapi ternyata terfitnah dengan aqidah fasidah dan juga akhlak madzmumah.”

Ini hanya karena:

[1] Saya malas belajar (karena merasa cukup berilmu), dan/atau:
[2] Kalaupun saya belajar, saya tidak mengamalkannya.

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 954 kali, 1 untuk hari ini)