Ilustrasi: Yudi Latif (kiri atas, kini Ketua BPIP) Sukmawati (kiri bawah, kasus puisinya yang dinilai melecehkan azan dan dilaporkan Umat Islamdari berbagai pihak ke Polisi, sepertinya adem ayem), Nuril Arifin (kanan bawah, kyai NU yang dikenal suka blusak-blusuk ke gereja dan membela aliran sesat syiah)./ foto inilahcom

Misal ada perkumpulan para pembina warung sekampung, diketuai oleh wong pembela bakso oplosan babi. tahu2 yang duduk dalam jajaran perkumpulan pembina warung itu kyai kampung tersebut. bagaimana? Padahal dalam pengajian, Mbah Kyai itu jelas2 bilang, babi itu haram. lha kok malah mau dipimpin oleh pendukung bakso oplosan babi? Tentu saja sangat menjijikkan lakon itu. Itu saja orang yang makan babi tidak langsung jadi murtad. Lha kalau kecebur ke aliran sesat Ahmadiyah kan jadi murtad. Jadi, betapa sangat amat buruknya kyai apalagi pemimpin lembaga ulama tingkat nasional, kecemplung dalam lembaga yang dipimpin/ diketuai oleh pendukung/ pembela aliran sesat Ahmadiyah yang mengakibatkan bila ikut aliran itu difatwakan jadi murtad.

Ada pepatah, asam di gunung, garam di laut, ketemu di kuali. Itu jadi sedap. Tetapi kalau yang ketemu itu Ma’ruf Amin yang wajib baginya anti Ahmadiyah  (karena duduk di kursi tertinggi MUI yang memfatwakan sesat bahkan murtadnya Ahmadiyah), kok ketemu dalam satu wadah disebut BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) bahkan diketuai wong pembela Ahmadiyah dalam AKKBB yitu Yudi Latif; apakah itu jadi sedap? (Setelah ramai berita itu, dikabarkan Yudi Latif mundur dari kepala BPIP. Pengunduran diri Yudi Latif sebagai Kepala BPIP ia sampaikan melalui Facebook-nya, Yudi Latif Dua, menurut berita tribunnews 8 juni 2018.).

Mengenai agama, itu seharusnya dalam membelanya wajib lebih dari sadumuk bathuk sa nyari bumi (istri atau pun tanah yang harus dibela sampai mati). Lha kok ini seakan tidak lebih berharga hingga tidak usah dibela, hanya bagai selembar kertas?

heh heh heh… seratus juta lebih mas, duite… enak tenan!

Yudi Latif wong istana yang mengetuai BPIP (yang lagi ada berita heboh tentang gaji gede megawati 112 juta hingga ada berita ongkang-ongkang kaki dapat 112 juta), itu ternyata termasuk pembela aliran sesat Ahmadiyah dalam apa yang disebut AKKBB.

Dalam Islam, para pembela nabi palsu diancam siksa neraka sangat dahsyat. Termasuk para pembela Ahmadiyah pada hakekatnya adalah pembela nabi palsu, karena Ahmadiyah adalah pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

إن فيكم لرجلا ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ

“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Is-haq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra. (Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab, atau lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, 2007, bab Nabi Palsu Musailimah Al-Kadzdzab).

Aneh tenan! Pemimpin Ulama Ma’ruf Amin yg mefatwakan Ahmadiyah sesat menyesatkan/ pengikutnya murtad, eh malah duduk jadi anak buah (?) lembaga yang dipmpin Yudi Latif yang termasuk gerombolan pembela Ahmadiyah dalam apa yang disebut AKKBB. Lha pembela agama nabi palsu kok mimpin BPIP untuk mmbina ideologi pancasila, anggotanya malah ketua Umum MUI, ini bagaimana? Apa biar sesat semua dan melawan Islam semua?

Masalah kedua,  Ketua BPIP Yudi Latif  itu orang Paramadina dan termasuk anggota dewan pendiri Nurcholish Madjid society. Padahal Nurcholis Madjid  itulah yang menyebarkan faham sangat sesat bahwa iblis kelak masuk surga (nah, betapa sesatnya itu. Silakan baca buku saya Hartono Ahmad Jaiz berjudul ‘Bahaya JIL – jaringan Islam liberal- dan FLA -fiqh lintas agama bikinan Paramadina. Buku saya itu terbitan Al-kautsar Jakarta.).

Nurcholish Madjid pemimpin Paramadin adalah seorang tokoh terkemuka alumni Chicago Amerika yang pintar memlintir dalil. Bahkan pernah sampai berani mengemukakan pendapat dengan mengutip pendapat orang bahwa iblis (rajanya setan) kelak akan masuk surga dan surganya tertinggi, karena tauhidnya murni, karena tidak mau sujud kepada Adam, katanya.

Pendapat itu dilontarkan di pengajian Paramadina oleh tokohnya itu di kawasan Blok M Jakarta. Dan itu jelas bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menegaskan iblis masuk neraka.

قَالَ فَٱلۡحَقُّ وَٱلۡحَقَّ أَقُولُ ٨٤ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٥ [سورة ص,٨٤-٨٥]

  1. Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan”
  2. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya [Sad,84-85]

Dalam Tafsir Bayanul Ma’ani dijelaskan

«لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ» نفسك وذريتك وجنسك من الشياطين والجن والمردة «مِمَّنْ تَبِعَكَ» في الإغواء والضلالة والغواية والإضلال «مِنْهُمْ» من ذرية آدم الذين أقسمت على إغوائهم «أَجْمَعِينَ 85» توكيد للضميرين في منك ومنهم أي التابعين والمتبوعين.

Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam denganmu, dirimu (iblis) dan keturunanmu dan jenismu yaitu setan-setan dan jin. Dan (juga) para pembangkang, orang-orang yang mengikuti kamu dalam penyelewengan dan kesesatan dari mereka yaitu dari keturunan Adam yang kamu telah bersumpah untuk menyesatkan mereka semuanya artinya mereka yang mengikuti dan diikuti (semuanya memenuhi neraka jahannam)./ (Bayanul Ma’ani oleh عبد القادر بن ملّا حويش السيد محمود آل غازي العاني (المتوفى: 1398هـ), 1/326, Maktabah Syamilah).

Nah, Yudi Latief selaku anggota dewan pendiri Nurcholish Madjid society, sampai kini belum pernah terdengar membantah faham yang sangat sesat lagi berbahaya itu. Berarti pro bukan?

Kasus ketiga, Yudi Latif itu juga menjadi pemberi kata pengantar buku heboh yang dilarang oleh MUI Jember Jawa Timur belum lama ini yaitu 57 Khutbah yang ternyata berisi ajaran aliran sesat syiah.

 Anehnya, Mbah Ma’ruf Amin yang ketua umum MUI jadi anak buah Yudi Latif yang ketua BPIP itu. Apa karena 100 juta ya? Padahal, MUI telah memfatwakan sesatnya ahmadiyah, bahkan pengikutnya murtad, fatwa MUI itu sampai dua kali, zaman Buya Hamka tahun 1980-an, dan zaman KH Sahal Mahfudz 2005. Siapa yang menjual ayat ya, dan siapa yang membela kesesatan tapi punya anak buah pemimpin ulama ya? Apakah kita justru harus mereka bina, padahal mereka terbukti sebagai pembela agama nabi palsu yang sangat dincam nereka? Lebih anehnya lagi, bahkan mereka mendapatkan gaji ratusan juta? Sedang yang jadi pengarahnya adalah Megawati yang pernah berpidato resmi yang jadi heboh karena intinya justru menghujat siapapun yang percaya akherat. Sedangkan percaya akhert adalah termaktub dalam rukun iman di Islam, agama yang dilindungi oleh  negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, dalam hal pembinaan ideologi pancasila, siapa yang seharusnya wajib dibina lebih dahulu?

***

Gejala Kezaliman Baru! Salahgunakan Jabatan demi Bela Aliran Sesat Ahmadiyah, Syiah dan Lainnya

Kolom Agama di KTP disuarakan untuk dicabut tapi belakangan “dicoba” dengan diwacanakan untuk boleh dikosongkan. (Bahkan kini suda dibolehkan diisi dengan aliran kepercayaan).

UU Penodaan Agama mau dicabut. Hingga diusahakan untuk mencabut Pasal 156 (a) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.

Demi membela dan melindungi aliran sesat Ahmadiyah, syiah dan yang sesat-sesat lainnya bahkan merusak Islam, akan dibuatkan apa yang diklaim sebagai Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama.

Itu semua berarti sikap wajarnya sudah terbalik. Karena mestinya yang dilindungi itu agama yang sah, apalagi dipeluk oleh mayoritas penduduk, yakni Islam. Adapun yang mengaku Islam seperti Ahmadiyah dan Syiah namun sejatinya merusak dan membahayakan Islam bahkan membahayakan bangsa karena permusuhannya terhadap agama yang telah diakui resmi sah oleh Negara sangat nyata; seharusnya justru diberantas. Bukan dilindungi. Melindunginya, sama dengan bagai melindungi penyakit yang membahayakan bagi masyarakat. Akibatnya masyarakat akan hancur, sedang pemerintah pun akan rugi besar. Bahkan boleh jadi akan dihancurkan oleh syiah sebagaimana telah terjadi di Yaman, Irak dan lainnya.

Bila nanti Undang-undang yang akan dibuat sebagai pengganti pasal penodaan agama itu muatannya membela dan melindungi aliran-aliran sesat perusak agama seperti Ahmadiyah dan Syiah dengan dalih karena mereka mesti dilindungi, berarti justru sama dengan menghapus dasar Negara –Berketuhanan Yang Maha Esa–, diganti dengan Undang-undang anti agama tetapi dinamai UU Perlindungan Umat Beragama. Karena, hanya orang anti agama lah yang mau melindungi aliran sesat perusak agama. Itu lebih buruk dibanding memproduksi botol berisi cairan dengan label air zamzam tapi isinya racun tikus yang bila diminum akan mematikan.

Selama ini orang sesat seperti Tajul Muluk pentolan aliran sesat syiah Sampang Madura telah bersusah payah mengajukan gugatan agar UU Penodaan Agama dicabut. Karena ternyata aliran sesat syiah yang diyakini Tajul Muluk telah dia sebarkan bahwa Al-Qur’an sudah tidak murni lagi, lalu dia dijerat dengan UU Penodaan Agama dan divonis hukuman penjara. Lha kok sekarang yang “mewakili” pentolan aliran sesat untuk mencabut UU Penodaan Agama itu justru pemerintahan Jokowi, di antaranya lewat kementerian agama. Aneh se-aneh-anehnya.

Bunyi Pasal Penodaan Agama

Pasal 156a KUHP berbunyi, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

(nahimunkar.org)

(Dibaca 448 kali, 1 untuk hari ini)