Ma’ruf Amin, Irshad Manji, Gatoloco/ foto dok/anwar djaelani/hdytllh


Memberendengkan nama-nama itu mungkin membuat jengak dan kaget bagi sebagian orang. Namun coba saja simak tulisan berikut ini yang ketiganya saling ada kemiripan.

Tidak percaya?

Silakan simak saja.

***

Keterlaluan! Mar’uf Amin Mempermainkan Nama Nabi Nuh AS

“… Nabi Nuh kan NU-H. Sekarang H-nya dibuang jadi perahu NU”… kata  Ma’ruf Amin saat menghadiri Harlah NU ke-93 di Cianjur, Kamis (14/2 2019) sebagaimana diberitakan Antara.

Mari kita analisis. Ilmu apa yang diterapkan Ma’ruf Amin untuk menjunjung NU diambil dari nama Nabi Nuh, lalu dibuang H nya itu.

Dilihat dari nama NU dan Nabi Nuh ‘alaihissalam itu sama sekali tidak ada kaitannya. Nuh itu dari huruf nun wawu dan ha’ (kecil) = نوح. Sedang NU adalah singkatan dari Nahdlatul ‘Ulama نهضة العلماء  sehingga huruf NU itu aslinya U-nya itu adalah huruf ‘ain hidup (‘U). Maka sama sekali tidak ada kaitan dengan nama Nabi NUH (نوح ). Kecuali kalau yang mengait-ngitkannya itu orang yang sedang bingung, ya entah.

Di situ berarti Ma’ruf Amin telah memain-mainkan nama Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Itu belum dari segi isi perkataan Ma’ruf Amin di depan orang-orang NU di Cianjur Jawa Barat yang mengibaratkan NU bagai kapal Nabi Nuh yang menjadi penyelamat. (Lantas, orang-orang selain NU diibaratkan orang2 kafir musyrik yang akan tenggelam dan tidak selamat?). Di antaranya diberitakan sebagai berikut.

***

Ma’ruf Amin sebut NU kendaraan penyelamat seperti kapal Nabi Nuh

Ma’ruf mengatakan kapal Nabi Nuh menjadi penyelamat saat banjir besar datang. Menurutnya, NU sebagai kendaraan penyelamat juga akan menyelamatkan seluruh umat yang berada di dalamnya dari gelombang gonjang-ganjing pemahaman keagamaan.

“Siapa naik kapal NU insyaallah akan selamat dunia akhirat. Makanya jangan sampai ketinggalan, kayak anak nabi Nuh tidak mau naik perahu, justru berlindung di gunung,” kata Ma’ruf.

Dia mengatakan umat yang berada di dalam kapal NU akan selamat dari gelombang.

“Makanya kita menyatakan kalau mau selamat, naik perahu NU. Nabi Nuh kan NU-H. Sekarang H-nya dibuang jadi perahu NU. Jangan berdiri dipinggir nanti kena gelombang, kalau ikut gelombang nanti terbawa gelombang. Ikut kiai NU insyaallah selamat,” kata  Ma’ruf Amin saat menghadiri Harlah NU ke-93 di Cianjur, Kamis (14/2 2019).

https://pemilu.antaranews.com

Dari amburadulnya perkataan Ma’ruf Amin itu maka muncul sindiran di medsos, di antaranya ini.

***

Via fb Bisri Musthofa

***

Cara Darmogandul Gatoloco Melecehkan Islam

Darmogandul Gatoloco, memlesetkan Islam dengan mengkutak-katik. Di antaranya Darmogandul Gatoloco menambahi huruf a di tengah lafal Mekkah maka menjadi Mekakah (wanita ngangkang). Jadi dari lafal Mekkah kota suci diplesetkan jadi Mekakah bermakna (wanita) mengangkangkan kaki ketika mau disetubuhi. Itu pelecehan terhadap Islam oleh Darmogandul Gatoloco. (lihat Masalah Ada Pemurtadan di IAIN dan karakteristik para tokohnya https://www.nahimunkar.org/masalah-ada-pemurtadan-di-iain-dan-karakteristik-para-tokohnya/ ).

… ada serat Gatoloco, dimana dalam serat yang anonim ini, istilah-istilah inti dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. Seperti kata Allah diartikan ala, yang rupanya jelek, yang dimaksud adalah wujud kemaluan laki-laki, sedangkan naik haji ke Makkah diartikan sebagai proses persetubuhan dimana poisisi istri saat bersetubuh mekakah (Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, . 1967: hal. 9-39).

Cara-cara Darmogandul dan Gatoloco, yaitu sosok penentang dan penolak syari’at Islam di Jawa yang memakai cara: Mengembalikan istilah kepada bahasa, lalu diselewengkan pengertiannya.

Darmogandul dan Gatoloco itu menempuh jalan: Mengembalikan istilah kepada bahasa, kemudian bahasa itu diberi makna semaunya, lalu dari makna bikinannya itu dijadikan hujjah/ argument untuk menolak syari’at Islam.  https://www.nahimunkar.org/bahaya-islam-liberal-pemurtadan-berlabel-islam-1/

***

Kesamaan antara Irshad Manji dan Darmoghandul

Posted on 13 Mei 2012 – by Nahimunkar.com

Irshad Manji/ Foto Anwar Djaelani

… kesamaan antara Irshad dan Kitab Darmogandhul. Bahwa dua-duanya sama-sama mencela Nabi Muhammad SAW. Dalam bukunya “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” halaman 96-97, Irshad mengatakan:

“Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Qur’an. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Qur’an.”

Adapun dalam Kitab Darmogandhul juga demikian, di situ tertulis:

“Yen nyebut nabi Muhammad, Rasulullah panunggal para nabi, Muhammad makaman kubur, rasa kang salah, mila ewah bengok-bengok enjing surup, nekem dada celumikan, jungkir-jungkir ngaras siti. Sedaya teda wineda, trancam cacing, dendeng kucing sinirik, pindang ketek, opor lutung, botoke sawer sawa, sate rase, lemeng kirik, pindang asu, bekakak babi andapan, gorengan kodok, lan cindil. Gecok lintah ingkang mentah, becek usus sona ingkang kebiri, kare kuwuk, bestik gembluk, niku winastan karam, langkung sengit kalamun ningali asu, ulun kinten terus ing tyas, batose resik kumresik.”

Bahkan yang pro-kontra terhadap keduanya pun juga hampir sama. Jika umat Islam diajak bijak menyikapi fenomena Irshad dengan dialog dan tanpa kekerasan, seharusnya juga harus bijak bahwa ajakan itu sudah dilakukan dan Irshad menolak.

Kalau kita diajak menghormati Irshad dan orang-orang JIL dengan pemikirannya, maka, sepatutnya kita juga harus adil memperlakukan orang-orang yang menolak Irshad dan JIL. Kita harus juga menghormati penolakan mereka, karena mereka merasa terganggu dengan adanya Irshad. Ingat kekerasan bukan hanya terhadap fisik semata, kekerasan non-fisik, seperti akidah, jauh lebih menyakitkan para penganutnya.

Semoga Irshad dan pendukungnya sadar telah menyakiti keyakinan dan perasaan mayoritas Umat Islam Indonesia. Dan semoga pula, para aktivis JIL tak lagi menyakiti perasan umat Islam dengan kembali menghadirkan tokoh-tokoh tidak perlu seperti Manji, yang akhirnya kembali melukai perasaan umat.*

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Kajian Timur Tengah UGM dan Dosen ISID Gontor 

Red: Cholis Akbar

Sabtu, 12 Mei 2012 hidayatullah.com

***

Sama-sama menghina Nabi dan Islam

Dalam kutipan dari buku Darmoghandul, rangkaian sebutan terhadap Nabi Muhammad Rasulullah itu ada kalimat: mila ewah bengok-bengok enjing surup, nekem dada celumikan, jungkir-jungkir ngaras siti.

Di situ Darmogandul melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang gila (ewah artinya berubah, dari waras ke gila). Sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang  adzan kemudian shalat dihina sebagai ewah (gila). Artinya: .. maka gila teriak-teriak pagi petang, mendekap dada berbisik, menjungkir-jungkir ke tanah.

Bahkan ketika bait itu diteruskan maka ada tuduhan keji, yakni diharamkannya anjing itu karena tiap malam (orang Islam) menzinai anjing. Makanya Darmogandul Gatoloco berkilah bahwa anjing yang dibeli dengan duwitnya sendiri lebih halal dibanding kambing curian. Di situ secara tersirat, setelah Darmogandul Gatoloco menuduh Ummat Islam ngeloni anjing tiap malam, masih pula menuduh mencuri kambing.

Tuduhan-tuduhan semacam itu banyak ditirukan oleh orang-orang iberal. Tahun 2002 sudah dilontarkan Hartono Ahmad Jaiz dalam buku Bahaya Islam Liberal dan buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Bahkan yang dijadikan contoh di antaranya adalah lontaran-lontaran Nurcholish Madjid. Hingga masalah itupun Hartono kemukakan langsung berhadapan dengan Ulil Abshar Abdalla  di dalam diskusi di YISC Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, yang saat itu Ulil didampingi dedengkot Syi’ah Haidar Baqir. Ulil hanya bilang, Nurcholish Madjid itu Islam, sedang Darmogandul Gatoloco itu bukan Islam, kok dibandingkan.

Kalau Ulil itu diikuti, mungkin ada yang bilang, lha Irshad Manji itu Islam hanya saja lesbi kok dibandingkan dengan Darmogandul Gatoloco yang bukan Islam dan belum tentu homo.

Cara berfikir tidak boleh membandingkan seperti itu justru menyelisihi Al-Quran pula, bila ternyata memang faktanya sama atau mirip atau bahkan bagai meniru. Karena Allah Ta’ala mengatakan:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ [التوبة : 30]

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?(QS At-taubah: 30).

(nahimunkar.com) https://www.nahimunkar.org/kesamaan-antara-irshad-manji-dan-darmoghandul/

***

Mengolok-Olok Islam Dalam Sastra Anonim Kejawen (Serat Darmogandul Dan Gatoloco)

Posted by: Maghfur El Muhammady Posted date: 8:00:00 PM /

Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala.”

(Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la,kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai kain, hudan :telanjang (wuda), lil muttaqien : sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita [diterjemahkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, hal. 17])

Kalimat diatas adalah penggalan isi Serat Darmagandul. Menjadikan Islam sebagai bahan olok-olokan adalah ciri utama dalam Serat Darmagandul tersebut, sebuah sastra anonim yang ditulis abad Misi, sebuah masa dimana politik asosiasi atau yang lebih tepat westernisasi dan politik kristenisasi berjalan sangat intens. Istilah-istilah kunci dalam agama Islam, diputar balikkan maknanya oleh Darmagandul dengan metode othak-athik gathuk (mengait-ngaitkan) seperti istilah sadat sarengat (syhadat dan syari’at) di artikan dengan yen sare wadine njengat (kalau tidur kemaluannya berdiri), tarekat itu taren kang estri (mengajak istri bersetubuh), sedangkan lafal Muhammad diartikan sebagai makam, kuburan segala rasa, yang berarti memuja diri sendiri, bukan memuji Muhammad yang lahir di tanah arab.

Selain Darmagandul, juga ada serat Gatoloco, dimana dalam serat yang juga anonim ini, istilah-istilah inti dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. Seperti kata Allah diartikan ala, yang rupanya jelek, yang dimaksud adalah wujud kemaluan laki-laki, sedangkan naik haji ke Makkah diartikan sebagai proses persetubuhan dimana poisisi istri saat bersetubuh mekakah (Rasjidi, 1967 : hal. 9-39).

Merebaknya sastra anonim di kalangan elit Jawa, tidak terlepas dari kekalahan Pangeran Diponegoro pada perang Jawa 1825 – 1830. Meskipun Belanda memenangkan perang besar ini, namun biaya yang ditanggung sangat besar. Kondisi keuangan Kerajaan Belanda hampir bangkrut karenanya. Untuk menutupi kerugian tersebut, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik tanam paksa (Cultuur Stelsel). Sistem tanam paksa mengharuskan para menanami seperlima lahan yang dimiliki dengan tanaman komersial yang sudah ditentukan pemerintah Belanda. Untuk menjalankan politik tanam paksa ini, pemerintah kolonial Belanda menaikkan derajat para bupati mejadi ningrat, dengan syarat para bupati harus melaksanakan kehendak residen Belanda. Sedangkan penduduk pribumi dituntut kepatuhan mutlak sebagai budak (Kahin, 2013 : 12). Belanda menangguk untuk yang besar dengan politik tanam paksa ini, utang VOC sebesar 35.500.000 gulden berhasil dilunasi, bahkan kas negeri Belanda bertambah sebesar 664.500.000 gulden.

Proses penganakemasan kalangan bupati dan para ningrat yang lazim disebut priyayi ini, akhirnya menjadikan para priyayi sebagai kelas tersendiri dalam masyarakat Jawa. Bukan hanya kelas sosial tetapi juga orientasi spiritualnya. Berkaca dari kekalahan Pangeran Diponegoro, bagi para priyayi tersebut, menandakan takluknya seluruh Jawa kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga ketaatan bukan lagi tertuju pada kewibawaan Islam, melainkan kepada apa yang disebut kewibawaan Kristen (Akkeren, 1995 : 56).

Benih-benih sentimen anti Islam pun mulai bermunculan. Para priyayi tersebut beranggapan bahwa peralihan keyakinan masyarakat Jawa ke agama Islam Islam adalah sebuah kesalahan peradaban dan bahwa kunci kepada modernitas yang sesungguhnya terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu Jawa. Apa yang menjadi pandangan kaum priyayi Jawa tersebut berasal dari Snouck Hurgronje, dimana menurut Snouck dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau sedikitnya dikurangi. Pendidikan juga akan menghilangkan jarak kultural orang Belanda dengan para bangsawan dan kaum aristokrat Indonesia. Selain itu posisi mereka yang relatif “bersih” dari pengaruh Islam, para priyayi tersebut merupakan kelompok sosial yang paling cocok untuk ditarik masuk ke dalam orbit kebudayaan Barat dan dijadikan sebagai rekanan (Shihab, 1998 : 86)

Islam dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut, Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1870-an para penulis dari Kediri meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang mengagumkan, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Darmogandhul, yang merendahkan dan mengolok-olok Islam. Karya yang disebut terakhir ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit –ini mungkin ditulis untuk memperingati sebuah sekolah milik pemerintah bagi kaum elite di Probolinggo pada tahun 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini dan bahkan orang Jawa akan menjadi pemeluk Kristen. (Ricklefs, 2012 : 53-54).

Pemilihan Kejawen bukannya Kristen sebagai jalan spiritual oleh para priyayi tersebut disebabkan dalam pandangan masyarakat Jawa pada umumnya, kekristenan identik dengan penjajahan yang menyengsarakan rakyat banyak. Orang-orang Kristen Jawa sering dicemooh dengan ungkapan londo wurung jowo tanggung (belum berhasil menjadi Belanda dan tanggung/tidak sepenuhnya menjadi orang Jawa, lali jawane (orang jawa yang lupa akan kejawaannya), dan sebagainya. Mereka juga sering dijuluki toewan gendjah (tuan yang belum matang) (Aritonang, 2006 : 99). Agar tidak berhadapan dengan masyarakat pada umumnya, para priyayi tersebut menolak untuk dikristenkan, seperti yang digambarkan Ricklefs;

“Sekitar tahun 1870, seorang Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memeluk Islam dalam pengertian yang lebih instrumentalis daripada spiritual. Dia telah menunjukkan antusiasismenya terhadap segala sesuatu yang berbau Belanda. Karenanya seorang kenalan Belanda bertanya kepadanya, bilakan ini berarti bahwa dia akan beralih menjadi Kristen. Bupati tersebut menjawab, “Ah, ….. sejujurnya, saya lebih senang memiliki empat orang istri dan satu Tuhan dariapada satu istri dan tiga Tuhan.” (Ricklefs, 2012:52)

Sastra Kejawen, Penginjilan Jalan Memutar

Sistem tanam paksa dijalankan pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupaka ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Pada tanggal 27 Februari 1932, Van den Bosch mendirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa). pada 27 Februari 1832. Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. (Simbolon, 2007 :127). Lembaga ini merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda. Para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta.  Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda (Shiraishi, 1997 : 7-9)

Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme.

Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, menjadikan Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya. (Said, 2010 : 8) Kartini memandang resah fenomena ini, sebagaimana tertuang dalam salah satu suratnya kepada temannya di Eropa.

“Ada banyak, ya banyak, pejabat (Belanda) yang membiarkan para pemimpin pribumi mencium kaki dan dengkul mereka. Dalam banyak cara yang halusm mereka menjadikan kami merasa bahwa kami berbeda dari mereka. Seakan-akan mereka berkata “Saya orang Eropa, kamu orang Jawa,” atau “Saya tuan, kamu hamba.” Dan bahkan banyak orang Belanda yang tidak begitu suka berbicara kepada kami dalam bahasa mereka. Bahasa Belanda terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut berwarna coklat” (Alwi Shihab, 1998 : 96)

Dan arah dari sastra anonim seperti Darmagandhul ini, oleh Susiyanto, dosen IAIN Surakarta yang meneliti serat Darmagandul menunjukkan beberapa paragraf yang secara eksplisit mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa.

Serat ‘Arab djaman wektu niki,sampun mboten kanggo,resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi,Isa Rahu’llahu.(Anonim, 1955:6) (Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah).

”Wong Djawa ganti agama,  akeh tinggal agama Islam bendjing,  aganti agama kawruh, ….”(Anonim, 1955:93). (Artinya, “Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi, nasrani)”)

Kecenderungan menjadikan Islam sebagai bahan hinaan dalam karya sastra, memang ciri khas orientalis yang pada abad XVII – XIX yang didominasi kalangan teolog Kristen. Di Eropa misalnya, kita bisa  mengambil contoh karya Dante, The Divine Comedy. Maometto –Muhammad- oleh Dante ditempatkan pada lapisan kesembilan dan sepuluh lapisan Bogias of Maleboge, gugusan parit kelam yang mengelilingi kubu setan di neraka. Dalam pandangan Dante, Muhammad dikategorikan penyebar skandal dan perpecahan, dengan hukuman tubuhnya terus menerus dibelah dua dari dagu hingga ke anus, bagaikan, kata Dante, sepotong kayu yang papan-papannya dirobek-robek. (Said, 2010 : 101-102).

Penutup

Meskipun sebagai sastra anonim yang tentu saja tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan tetapi sampai hari ini, baik Darmagandul maupun Gatoloco masih terus direproduksi. Bukan hanya bukunya yang terus mengalami cetak ulang, namun tasfir atas kedua serat tersebut juga ditulis oleh banyak pihak.

Pebenturan antara Jawa dengan Islam dalam kedua serat tersebut, menjadi patokan dalam karya-karya para misionaris seperti Hendrik Kreamer, Schuurman, Van Lith dan Ten Berge di masa kolonial, dan beberapa nama penting di masa sekarang seperti Jan Bakker, Frans Magnis Suseno, J.B. Banawiratmaja, SJ dan Harun Hadiwiyono. Hal ini menurut Azyumardi Azra merupakan strategi misionaris Kristen untuk menghadapi Islam di Indonesia. Dengan menggali unsur pra Islam dalam kebudayaan lokal, untuk kemudian memisahkannya secara oposisional, seperti Syari’at dengan kebatinan, etika Islam dengan etika Jawa, mengikuti argumen William Roff, guru besar Emiritus Columbia University, bukan hanya untuk menjadikan Islam menjadi kabur (obscure) tapi juga memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris (Steenbrink, 1995 :xxii).

Namun, sayangnya, bidang sastra dan kebudayaan, menjadi anak tiri dalam wacana dakwah Islam. Umat Islam, baik awam maupun para cendekiawannya, tidak mempunyai skema relasi Islam dengan kebudayaan lokal, ataupun strategi Islamisasi kebudayaan sebagaimana para pendahulunya. Dari hari ke hari, kebudayaan Jawa makin menjauh dari kaum muslimin, sehingga dari hari ke hari, kebudayaan makin menjadi milik kaum Kejawen dan Kristen. Proses kreatif Islamisasi budaya Jawa seperti mandeg, Kemandegan ini akan merugikan dakwah Islam di tanah Jawa. Karena itu, dakwah di bidang kebudayaan harus menjadi agenda serius mulai sekarang, bila umat Islam tetap ingin sebagai tuan rumah di tanah Jawa. (Arif Wibowo-Penulis adalah peniliti pada Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo) [islamaktual/hidayatullah]

http://www.islamaktual.net/2015/04/mengolok-olok-islam-dalam-sastra-anonim.html

(nahimunkar.org)

(Dibaca 533 kali, 1 untuk hari ini)