صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), [Al Baqarah:18]

هُمْ {صُمّ} عَنْ الْحَقّ فَلَا يَسْمَعُونَهُ سَمَاع قَبُول {بُكْم} خُرْس عَنْ الْخَيْر فَلَا يَقُولُونَهُ {عُمْي} عَنْ طَرِيق الْهُدَى فَلَا يَرَوْنَهُ {فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ} عَنْ الضَّلَالَة- تفسير الجلالين (ص: 5)

Tafsir Jalalain menjelaskan, mereka shummun tuli dari al-haq (kebenaran) maka tidak mendengarnya dengan pendengaran menerima. Bukmun bisu dari kebaikan maka mereka tidak mengatakannya. ‘umyun buta dari jalan hidayah (petunjuk) maka mereka tidak melihatnya.  Fahum laa yarji’uun, maka tidaklah mereka akan kembali dari kesesatan (Tafsir Jalalain halaman 5)

Tafsir As-Sa’di: Shummun mereka tuli, maksudnya tuli dari mendengarkan kebaikan. Bukmun bisu, maksudnya bisu dari membicarakannya, ‘umyun buta dari melihat kebenaran. Fahum laa yarji’uun maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar, karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mereka mengetahuinya, lalu mereka tidak kembali kepadanya. Berbeda dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan tersesat, karena sesungguhnya ia tidak berfikir, dan ini lebih dekat untuk kembali daripada orang-orang munafik itu. (Tafsir As-Sa’di QS 2: 18).

Jadi sifat tuli, bisu dan buta dalam ayat itu mengenai orang-orang munafik, kaitannya tidak mau menerima hidayah, tidak mau meninggalkan kejahilan dan tidak mau untuk kembali ke Islam.

Betapa jauhnya pengertian ayat ini dengan lontaran budeg dan buta yang diucapkan Kyai NU Ma’ruf Amin, dilontarkan untuk mensifati/ mengecam orang yang tidak melihat- dengar prestasi kinerja Jokowi yang dia dukung.

Ayat mengenai sifat orang munafik (yang menjauhi Islam hingga disifati tuli, bisu, dan buta setelah tadinya mengetahui dan mengimani Islam) tapi oleh seseorang dimanfaatkan untuk mengecam orang-orang yang tidak melihat/ dengar prestasi orang lain, itu jelas-jelas menyalah gunakan ayat.

Peringatan tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:((وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ))

Dan Al-Qur’an itu hujjah/ argumen (yang menguntungkan) bagimu atau (yang mencelakakan) atasmu(HR Muslim), artinya bahwa Al-Qur’an itu bisa jadi hujjah (yang menguntungkan) bagi manusia apabila dia menjalankan apa yang diwajibkan atasnya, dan apa yang dituntut darinya dalam Al-Qur’an. Yaitu meyakini benarnya khabar-khabar (dalam Al-Qur’an), mengikuti perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, dan membacanya dengan sebenar-benarnya pembacaan. Dan bisa pula sebagai hujjah (yang mencelakakan) atas manusia apabila ia berpaling darinya, tidak menjalankan apa yang dituntut Al-Qur’an terhadapnya.

2019 -ا لْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ مَاحِلٌ مُصَدَّقٌ , فَمَنْ جَعَلَهُ إمَامَهُ قَادَهُ إلَى الْجَنَّةِ , وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ قَادَهُ إلَى النَّارِ

Al-Qur’an itu mensyafa’ati orang yang disyafa’ati dan mengadzab/ memusuhi orang yang membantahnya/ menyia-nyiakannya, maka siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imamnya maka Al-Qur’an menuntunnya ke surga, dan siapa yang menjadikannya di belakang punggungnya maka Al-Qur’an menggiringnya ke neraka. (HR Ibnu Hibban 1793, At-Thabrani dalam Al-kabir 3/78/2, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/108, Al-Bazzar, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shohihah 5/31, no 2019)./

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.030 kali, 1 untuk hari ini)