Ilustrasi  newborobudur/ forum.detik.com


Ma’ruf Amin sudah dipuji-puji sebagai teladan, karena begitu digandeng Jokowi untuk jadi cawapres langsung menyatakan non aktif dari ketum MUI, ee tahu2 kemudian bilang ga’, jadi masih aktif. (karena tidak ada aturan tegas tentang itu di MUI).

Lhah, coba bandingkan permisalan ini. Misal seorang imam shalat Jum’ah sudah me-non aktifkan hp nya dan bahkan ditunjukkan ke pengurus masjid bahwa sang imam ini telah me-non aktifkan hp nya begitu beliau masuk masjid.

Lalu dipuji-puji oleh pengurus masjid, sikap me-non aktifkan hp nya begitu dia masuk masjid itu sebagai suatu keteladanan.

 Eeh, tahu2 menjelang khutbah justru dia aktifkan lagi hpnya itu, dan bilang, hp saya kini saya aktifkan lagi nih… karena dalam ayat dan hadits tidak tercantum peraturan me-non aktifkan hp itu… *}

  • Bagaimana? Plintat-plintut atau mencla-mencle sambil ngeles, ga’?
  • Kira2 belajar dari mana dia? Ketularan siapa ya?

***

Bahaya lisan

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ

“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy, Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1201, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 534 dan al-Adab: 396].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahiih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832. Di dalam satu riwayat; Beliau menjawab, “Dua lobang yaitu mulut dan farji”].

Dalil di atas dengan jelas menerangkan bahwa dosa yang banyak dikerjakan oleh manusia dan yang memasukkan lagi menjerumuskan mereka ke dalam neraka adalah lisan mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ إِنَّ اْلعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تعالى لاَ يُلْقىِ َلهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فىِ جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 6478, at-Turmudziy: 2314 dan Ibnu Majah: 3970. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1884, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 540, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1670 dan Misykah al-Mashobih: 4813]./ cintakajiansunnah.wordpress.com

***

Mengenai non aktifnya Ma’ruf Amin di MUI,

Inilah beritanya.

***

Waduh! Nonaktif Ma’ruf Amin dari Ketua MUI Hanya Wacana?

Bakal calon wakil presiden Ma’ruf Amin menyatakan status nonaktif dirinya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sempat diungkapkan beberapa waktu lalu sekadar wacana.

Ma’ruf mengatakan, hingga saat ini dirinya masih menjadi sebagai ketum MUI. Sesuai AD/ART, pimpinan MUI tidak boleh rangkap jabatan sebagai pejabat eksekutif, legislatif, maupun pimpinan partai politik. Sedangkan saat ini dirinya masih berstatus sebagai bakal calon wakil presiden.

“Itu baru wacana apakah harus nonaktif atau tidak. Kalau sesuai AD/ART kan tidak,” katanya di Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Ia menambahkan, pengunduran dirinya baru dapat dilakukan ketika KPU telah menyatakan sebagai wapres. Karena itu, persoalan mundur sebagai ketum turut dibahas dalam rapat pimpinan rutin di MUI.

“Jadi kalau sudah diangkat (sebagai wapres) saya harus mundur. Kalau sekarang tidak harus mundur,” tegasnya.

Beberapa waktu lalu, Ma’ruf disebut telah nonaktif dari jabatannya sebagai ketum MUI usai ditunjuk Jokowi sebagai cawapes pada pilpres 2019. Keputusan tersebut semata-mata didasari pertimbangan agar posisinya sebagai cawapres tidak menimbulkan pro kontra di masyarakat.

Penulis/Editor: Irfan Mualim/ www.wartaekonomi.co.id Selasa, 18 September 2018 20:45 WIB

***

Berita sebelumnya sebagai berikut.

KH Ma’ruf Amin Non Aktif Sebagai Ketum MUI

JAKARTA (voa-islam.com), Ketua Umum MUI Prof DR KH Ma’ruf Amin akhirnya memilih non aktif dari jabatannya, agar menjaga independensi MUI dari dinamika politik praktis.

 “Sejak ditetapkan sebagai Cawapres oleh KPU, beliau sudah berketetapan non aktif dari Ketua Umum. Sikap itu ditegaskan lagi oleh Kiai, tadi,” ungkap Waketum MUI, H. Zainut Tauhid Sa’adi, kepada pers, Selasa (28/8).

Menurut Waketum, keputusan tersebut semata-mata didasari pertimbangan agar posisinya sebagi Calon Wakil Presiden tidak menimbulkan pro-kontra di masyarakat, termasuk di internal MUI. “Beliau ingin fokus mengerjakan amanat karena dipercaya sebagai Cawapres Jokowi, sebagaimana fokusnya beliau mengabdi di MUI selama ini,” tambahnya.

Menanggapi keputusan KH Ma’ruf tersebut, Sekjen MUI, Dr. Anwar Abbas mengapresiasi langkah yg diambil oleh alumni Pesantren Tebu Ireng itu. “Sebenarnya tidak ada aturan organisasi yg mengharuskan beliau non aktif selama masa pencalonan. Namun dengan kearifannya, beliau melakukan itu,” puji Buya Anwar, sapaan akrabnya. https://www.nahimunkar.org/maruf-amin-sudah-non-aktif-dari-ketum-mui-tapi-masih-ikut-rapat-mui/

==============

*} Suara hp di masjid termasuk yang mengakibatkan kegaduhan atau gangguan. Sedangkan tingginya suara baca Al-Qur’an di masid pun dipringatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu ‘Anhu:

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam i’tikaf di masjid, beliau mendengar manusia mengeraskan suara ketika membaca Al Quran, maka dia membuka tirai dan bersabda: “ Ketahuilah sesungguhnya setiap kalian ini bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan kalian saling mengganggu satu sama lain, dan jangan saling tinggikan suara kalian dalam membaca Al Quran atau di dalam shalat.” (HR. Abu Daud No. 1332, Ahmad No. 11896, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4216, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 8092. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih sesuai syarat syaikhan/Bukhari-Muslim. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 11896)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

رفع الصوت فيها: يحرم رفع الصوت على وجه يشوش على المصلين ولو بقراءة القرآن. ويستثنى من ذلك درس العلم.

Mengeraskan suara di dalam masjid. Diharamkan mengeraskan suara sampai mengganggu orang yang sedang shalat, walau yang dibaca itu adalah Al Quran. Dikecualikan jika itui terjadi ketika mempelajari suatu ilmu. (Fiqhus Sunnah, 1/251)/ .annashihah.org

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.481 kali, 1 untuk hari ini)