Sumber foto : Istimewa/Marzuki Alie


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)–Mantan Ketua DPR, Marzuki Alie tegas menilai ujaran Ahok saat di Kepulauan Seribu menistakan agama Islam. Untuk itu tidak bisa dibiarkan. Sebab jika dibiarkan bisa memicu terjadinya gelombang penistaan agama lainnya yang membuat kekacauan di Indonesia.

“Kalau Ahok dibiarkan maka akan muncul penistaan-penistaan agama lainnya. Ini akan kacau semua yang sudah diraih bangsa ini hanya karena mau membela Ahok. Kalau anak bangsa sudah saling menistakan agama, maka hilang sudah Indonesia,” ujar Marzuki Alie di Jakarta, Rabu (12/10/2016)

Marzuki Alie juga mengungkapkan tim kampanye Ahok-Jarot panik atas pernyataan Ahok yang menistakan Al Quran tersebut. Mereka, menurut Marzuki kemudian mencoba membersihkan dengan segala cara, termasuk membuat isu seolah masalah pernyataan Ahok hanyalah masalah penafsir.

“Tim pendukung dan kampanye Ahok panik dan bingung bagaimana cara membelanya. Mereka pun melakukan pembelaan dengan memlintir fakta-fakta seolah apa yang dikatakan Ahok soal Al Maidah 51 hanyalah masalah penafsiran. Padahal ini bukan masalah tafsir,” ujar Marzuki Ali.

Dengan pernyataannya itu ujar Marzuki, maka sudah sangat jelas bahwa firman Tuhan yang ada didalam surat Al Maidah menurut Ahok adalah kebohongan. Disinilah jelas, menurut Marzuki, ucapan Ahok ujar Marzuki menistakan Islam. Saking paniknya para pendukung Ahok mengolah dan memutarbalikan fakta untuk membela jagonya.

“Tim Ahok mencoba menjelaskan bahwa tafsir dari ayat ini berbeda-beda. Padahal ini sekali lagi bukan masalah tafsirnya tapi ayatnya itu sendiri dan ulama yang menyampaikannya yang dituduh berbohong.Ini jelas mlintir dan keluar dari substansi,” jelasnya.

Menurut Marzuki, pernyataan yang melecehkan seperti ini sudah pasti tidak bisa diterima bukan hanya oleh umat Islam, tapi umat beragama secara umum. Sebab dengan logika yang sama tidak akan ada umat agama lain yang bisa menerima jika dikatakan firman Tuhan yang dipercayai adalah kebohongan.

”Kalau Ahok bilang umat Kristen dibohongi Injil dan pendeta, atau umat agama lainnya dikatakan seperti itu, pasti yah marah juga. Karena tidak ada satupun umat beragama mau dilecehkan atau Tuhan dan kitabnya mau dinistakan seperti yang dilakukan oleh Ahok. Terlebih pernyataannya itu diucapkan Ahok masih sebagai gubernur dan dalam tugas dinas,” imbuhnya.

Marzuki juga heran dengan pernyataan tim Ahok yang mengembar-gemborkan seolah orang beragama yang mengingatkan ajaran agamanya kepada pengikutnya dikatakan sebagai SARA. Sejak kapan menurut Marzuki menjalankan perintah agama dikatakan SARA. Dirinya justru melihat para pendukung Ahok yang mendengungkan isu SARA inilah seperti halnya Ahok sendiri yang menggunakan isu SARA untuk meraih kemenangan.

“KPU, Bawaslu sudah tegas mengatakan bahwa jika ada ulama ceramah tentang Al Maidah ayat 51 bukan SARA. Lah kok mereka menuduh itu SARA? Ahok dan pendukungnya justru yang melakukan SARA. Penistaan agama itu yang SARA. Ahok sendiri yang menistakan Islam kok, malah ulama yang dituduh SARA. Penistaan itu lah yang SARA,” tegasnya.

Ahok sedari awal menurut Marzuki justru yang paling kerap melontarkan isu SARA karena tidak ada calon lainnya yang berbicara agama seperti halnya Ahok. Agus dan Anies, menurut Marzuki tidak pernah bicara masalah agama. Inilah yang seharusnya diikuti oleh Ahok. Menurut dia biarkan yang bicara agama itu para ulama, pendeta dan sebagainya.

“Kalau ulama menyampaikan firman Allah, termasuk soal Al Maidah 51 yah itu karena tugasnya. Pendeta bicara untuk mengingatkan umatnya pilih Ahok karena agamanya juga tidak jadi masalah. Lantas kenapa Ahok mempermasalahkan para ulama? Ahok lah justru yang mempolitisasi agama selama ini,” tegasnya.

Marzuki Ali mengingatkan kepada tim pemenangan Ahok untuk tidak menuduh pihak lain yang meminta para penyelenggara negara untuk mengabaikan sikap dan pandangan keagamaan MUI. Karena, menurut Marzuki Ali, tugas dan kewajiban para penyelenggara negara adalah menegakkan Konstitusi.

“Ini aneh lagi, paham tidak mereka konstitusi? Dalam konstitusi jelas tertulis, negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan tiap pemeluk agama bebas menjalankan agamanya. Lah kok sikap agama dibilang melanggar konstitusi.(ris)

Sumber : teropongsenayan.com – Rabu, 12 Okt 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.466 kali, 1 untuk hari ini)