Jika ingin menetapkan dzikir sebanyak 1000 kali mesti butuh dalil. Jika tidak, maka tidak boleh diamalkan. Karena beragama itu mesti dengan dalil, bukan dengan perasaan, bukan dengan logika.

Silakan simak berita berikut ini, dan di bagian bawah ada tulisan yang insya Allah bemanfaat.

***

Inilah Ijazah Kiai Kholil Bangkalan untuk Pembangunan Madrasah

Kudus, NU Online

Mencetak generasi unggul bisa dikatakan mustahil tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Sayangnya, pembangunan gedung atau fasilitas pendidikan lainnya juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dalam hal ini ada ijazah dari KH Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura yang telah dibuktikan oleh beberapa santrinya.

Hal itu disampaikan oleh KH Ahmad Khalimi, Koordinator Cabang Qira’ati Kudus dalam kegiatan Akhirussanah TPQ Miftahul Huda 01 Pranak Lau Dawe Kudus di halaman Madrasah, Rabu (10/5) malam.

Ijazah itu berupa shalawat kholiliyah atau sering disebut sebagai shalawat jibril. Yaitu kalimat “shallallahu ‘ala Muhammad” yang dibaca 1000 kali setelah maghrib atau shubuh. Opsi lain dari ijazah shalawat kholiliyah itu juga bisa dibaca sebanyak 15.000 kali oleh beberapa orang dalam satu majelis.

“Ijazah itu diberikan Kiai Kholil kepada Kiai Mahrus Ali, Lirboyo, Kediri untuk diijazahkan kembali kepada para santrinya,” tutur Kiai Khalimi.

Kiai Khalimi mengatakan ijazah itu didapatnya dari KH Busyro Muqaddas, murid dari KH Mahrus Ali Lirboyo. Menurutnya, ijazah ini telah dibuktikan secara pribadi olehnya ketika menjadi panitia pembangunan. Baik itu masjid, sekolah, atau madrasah. Untuk itu jika mau mengamalkan ijazah ini harus menyebutkan sanad hadroh dari Kiai Kholil, lalu Kiai Mahrus Ali, lalu Kiai Busyro.

“Itu saya buktikan sendiri dan alhamdulillah pembangunan yang saya urusi dapat selesai,” terangnya dalam bahasa Jawa.

Selain itu, ia mengaku bahwa pernah juga meminta ijazah untuk melancarkan pembangunan kepada KH Ahmad Musthofa Bisri di Rembang dan KH Sya’roni Ahmadi Kudus. Hasilnya, ijazah ini juga yang diberikan kedua ulama kondang yang juga Musytasyar PBNU itu.

“Ijazah ini juga disampaikan oleh Mbah Sya’roni dan Gus Mus ketika saya meminta solusi untuk melancarkan pembangunan madrasah,” bebernya. (Farid Falah/Mahbib)/ www.nu.or.id

***

Dzikir 1000 Kali

Bagaimana dengan dzikir yang Nabi tidak membatasi bilangannya, apakah boleh kita tetapkan dengan bilangan tertentu seumpama 100 atau 1000 kali?

Para ulama menerangkan, ada dua kekeliruan dalam hal dzikir:

  1. Menetapkan jumlah bilangan tertentu tanpa dalil.
  2. Menetapkan tata cara dan waktu tertentu untuk dzikir tanpa dasar dalil.

Hal ini sebagaimana diingkari oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di mana suatu saat ada orang-orang yang berdzikir dengan menggunakan krikil lalu ada yang menuntun untuk membaca takbir sebanyak 100 kali dan tasbih sebanyak 100 kali. Padahal tata cara seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang berdzikir seperti itu mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud lantas menjawab,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid)

Beberapa bentuk bid’ah yang disebutkan oleh Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-I’tisham:

  1. Menetapkan batasan tertentu untuk ibadah seperti bernadzar dengan bentuk puasa sambil berdiri, tidak boleh duduk, dan tidak boleh bernaung dari panas. Bentuknya pula dengan mengkhususkan diri pada sesuatu, bahkan untuk makan dan berpakaian ditentukan dengan jenis tertentu, tidak boleh dengan selainnya.
  2. Mewajibkan tata cara tertentu untuk dzikir seperti dengan cara dzikir jama’idengan satu suara. Termasuk contoh di dalamnya adalah perayaan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Mewajibkan ibadah di waktu tertentu padahal tidak ditetapkan oleh syari’at seperti mewajibkan puasa dan shalat nishfu Sya’ban.

Demikian penjelasan dari Imam Asy-Syatibi.

Kesimpulannya, jika ingin menetapkan dzikir sebanyak 1000 kali mesti butuh dalil. Jika tidak, maka tidak boleh diamalkan. Karena beragama itu mesti dengan dalil, bukan dengan perasaan, bukan dengan logika.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Disusun di kota Ambon, Malam Senin, ba’da Isya, 6 Syawal 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : rumaysho.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 97.543 kali, 82 untuk hari ini)