Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Artikel adalah karangan biasa yang dimuat di koran, majalah, internet dan sebagainya. Seringkali artikel itu disebut opini dari Bahasa Inggeris opinion yang dalam koran Arab disebut ra’yun yang artinya pendapat. Disebut demikian karena memang artikel merupakan pendapat penulisnya.

Sebenarnya di dalam koran maupun majalah, pendapat bukan hanya dituangkan dalam artikel. Pendapat itu dituangkan dalam beberapa bentuk. Di antaranya pendapat koran disebut induk karangan atau tajuk karangan yang Bahasa Belandanya hoofdartike, dan bahasa asing lainnya adalah editorial yang sudah diserap jadi Bahasa Indonesia.

Pendapat atau opini bisa juga dituangkan dalam bentuk pojok, suatu opini singkat dari koran atau majalah. Di samping itu opini bisa pula diujudkan dengan gambar yang sering disebut karikatur.

Karena artikel, induk karangan, karikatur, dan pojok itu pada hakekatnya semua adalah opini, maka biasanya di koran-koran dijadikan satu yakni dalam halaman opini. Meskipun demikian, masing-masing punya karakteristik tersendiri. Di antaranya induk karangan adalah suara pokok koran atau majalah. Maka opini di sini bukan opini penulisnya, (tetapi mewakili suara media itu sendiri), walau ada juga yang biasa mencantumkan nama penulisnya. Demikian pula pojok, saran singkat koran atau majalah biasanya memakai julukan yang dipilih sendiri oleh media itu, sebagai suara medianya, bukan suara penulisnya.

Kedua jenis opini itu (induk karangan dan pojok) berbeda dengan artikel dan karikatur. Artikel ditulis nama penulisnya langsung, boleh juga samaran, dan hal itu sesuai dengan kondisinya bahwa artikel adalah suara pribadi penulisnya, bukan suara koran atau majalah/ media. Sekalipun penulisnya orang dalam koran atau majalah itu sendiri, misalnya. Karena dalam menulis artikel itu penulisnya tidak mewakili media yang memuatnya. Maka kadang-kadang ada keterangan: Apa-apa yang dimuat di sini tidak berarti merupakan pendapat media ini. Ini maksudnya adalah pendapat-pendapat berupa artikel, bukan induk karangan atau pojok.

Adapun karikatur pada dasarnya adalah kreativitas yang mengandung opini. Karena karikaturis belum tentu dia kreatif dalam mengemukakan opini, maka sering pula ia hanya berlaku sebagai pelukis, sedang opininya dari redaksi. (Dalam hal karikatur ataupun melukis ini bukan berarti penulis artikel ini Hartono Ahmad Jaiz memberikan hukum boleh atau tidaknya membuat karikatur atau lukisan, karena masalah melukis ada hukumnya yang sudah ditentukan dalam Islam; namun ini hanya pensifatan untuk menjelaskan keadaan. Harap dimaklumi). Jadi di sini berbeda dengan artikel yang jelas-jelas opini, dan susunan karangan itu adalah hasil pikiran penulisnya. Sekalipun karangan itu dipesan, misalnya, namun tetap menjadi pendapat penulisnya.

Opini yang juga murni dari penulisnya dan bahkan ditulis alamatnya segala, biasanya disebut surat pembaca, di samping itu ada pula yang disebut komentar. Opini jenis ini tidak termasuk artikel , karena bukan karangan yang membahas suatu hal secara memadai. Namun ide dari surat pembaca itu sendiri sering dapat dikembangkan jadi artikel.

Untuk apa artikel ditulis

Artikel ditulis oleh pengarangnya tentu mengandung maksud-maksud. Di antaranya nuntuk mengemukakan gagasan/ pandangan mengenai suatu masalah.

Untuk memberi nasihat, saran, pendapat.

Untuk mendukung atau menolak suatu tindakan atau peristiwa, dengan pemaparan argumentasi yang melatarbelakanginya.

Untuk memberi peringatan atau teguran, untuk mencegah atau menyuruh.

Untuk memuji (mengapresiasi) atau mengecam (dalam batas-batas etis yang wajar).

Untuk membangun keyakinan atau anggapan-anggapan tertentu.

Sekadar minta perhatian pembaca/ masyarakat mengenai suatu hal/ peristiwa.

Untuk menafsirkan atau menjelaskan suatu peristiwa, hal, isyu atau berita.

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Penulis artikel sebagai orang yang akan mengemukakan pendapat kepada masyarakat hendaknya menguasai masalah yang akan ditulis.

Untuk memperkuat dan memperkaya nuansa artikel yang ditulis maka memerlukan bahan-bahan dukungan terutama bahan-bahan baru, pendapat atau acuan data dan referensi yang kuat dan akurat.

Di samping kemampuan dalam menguasai masalah dan mendukungnya dengan bahan-bahan dari referensi yang diperlukan, penulis artikel biasanya berusaha menuliskan bahan-bahan dan opininya itu dengan berbagai usaha agar tulisannya baik dan mengena.

Di antaranya mereka membuat kalimat-kalimat dalam karangannya itu ringkas. Tidak bertele-tele. Misalnya, Paijo yang orang laki-laki itu jadi kondektur memintai duit para penumpang di bus. Kalimat itu agak bertele-tele karena Paijo sudah jelas laki-laki, dan kondktur sudah jelas tugasnya menarik ongkos.

Membuat alenia-alenia dalam artikel perlu ringkas pula, sebab alenia yang panjang akan melelahkan pembaca dan mengurangi gaerah. Bila terlalu panjang maka bisa dipecah-pecah menjadi beberapa alenia.

Kata-kata yang digunakan hendaknya mewakili, tidak samar, dan aktif, bukan pasif. Kata-kata akan menunjukkan ketegasan sikap bila pemilihan kata-kata itu tepat. Contoh paling bagus adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Bisa kita simak dalam Surat Al-Kafirun.

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1-6).

Perlu diperhatikan

Perlu diperhatikan, alenia pertama dalam artikel, sangat menentukan. Maka membuat alenia pertama (lead) selayaknya diusahakan agar menarik pembaca. Apalagi kalau penulis artikel belum dikenal banyak orang. Lead dalam artikel itu akan jadi bahan penentu, pembaca akan jadi membaca atau tidak.

Lead,

perangkai,

tubuh,

dan akhirnya penutup dalam sebuah artikel hendaknya merupakan satu bangunan karangan (insya’) yang utuh. Tidak ada kontradiksi, dan isinya cukup jelas.

(Perlu dimengerti) Karena dari awal hingga akhir semuanya itu merupakan satu bangunan, maka artikel mempunyai kedudukan terhormat di antara berbagai tulisan yang ada di koran atau majalah.

Di antara bentuk penghormatannya adalah diperlakukan secara khusus, yaitu tidak dipotong walau sampai menggusur halaman lain. Ini berbeda dengan berita, kalau memang tempatnya habis maka dipotong. Kadang-kadang berita itu dipotong buntutnya, kakinya, badannya, bahkan kepalanya atau judulnya pun dihilangkan. Tinggal satu potong berita kecil tanpa kepala dan tanpa badan, hanya leher doang. Namun hal itu sama sekali tidak akan menimpa pada artikel.

Hanya saja resikonya, kalau memang artikel dianggap tidak layak muat, ya terpaksa dibuang ke tong sampah. Padahal belum tentu artikel itu kurang bobotnya. Tetapi karena memang artikel adalah opini, sedang pengelola koran ataupun majalah pun masing-masing orangnya punya opini sendiri-sendiri dalam benaknya, maka kalau merasa tidak cocok, kemungkinan tidak dimuat lah opini yang dikirimkan orang dan bagus itu. Hal itu seolah aneh kedengarannya, dan sama sekali tidak obyektif namanya. Namun, sebenarnya factor aneh ini perlu jadi pertimbangan pula. Sebab factor aneh pun kadang-kadang justru hidup di masyarakat. Seperti syair Al-Ma’arri ini:

وكم من فَقيهٍ خابطٍ في ضلالَةٍ،
وحُجّتُهُ فيها الكتابُ المنزَّل
ديوان أبي العلاء المعري (ص: 1022)

Dan berapa banyak para ahli agama yang bergelimang dalam kesesatan

Sedangkan mereka beralasan berpegang pada kitab yang diturunkan (oleh Allah).

Kondisi aneh itu pun bisa diartikelkan tersendiri panjang lebar, walau kemungkinan akan menghadapi risiko, artikelnya dibuang. Tetapi tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Kata almarhum M Natsir pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), tokoh yang suka menulis pula itu, yang penting harus senantiasa berusaha. Di antara mereka yang dholl ضَالٌّ  itu ada yang tidak, atau kadang-kadang si dholl itu sendiri tempo-tempo hatinya lagi terbuka. Hingga artikel yang Anda kirimkan pun dimuat bahkan diberi judul mencolok dan lebih menggigit. Kemudian orang-orang yang dholal pun akan berpikir sejenak. Insya Allah.

(Dikutip dari Buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1994M/ 1415H).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.086 kali, 1 untuk hari ini)