Persoalannya bukan hanya pada orang yang berpidato, tetapi juga untuk siapa saja yang mendengar atau membaca salam oplosan itu. Sehingga pemuatan di medsos ini bukan hanya untuk menjelaskan kepada yang pidato tetapi juga kepada umat. Namun kalau ada yang lebih rela tersebarnya kemusyrikan di kalangan umat, dan agar tetap tidak mengerti, sambil mencak2, ya silakan. Padahalal-al-Islamu ya’luu walaa yu’laa, Islam itu unggul dan tidak diungguli. Maka siapapun yang menyebarkan kesesatan, dan telah tersebar di umum, maka lebih harus dibela Islamnya lebih dulu..

Kehormatan Islam lebih tinggi, maka menjelaskan kehormatan Islam dan membelanya harus lebih didahulukan dibanding hanya menghormati penyebar kesesatan walau dia orang yang tadinya harus dihormati . Sebagaimana ghibah aslinya tidak boleh. tapi ketika untuk menyelamatkan agama ummat, maka jadi boleh. Dalam kaidah pun hifdzud diin, menjaga agama itu kan tertinggi. Prinsip syariah yang lima yaitu memelihara agama (حفظ الدين), menjaga jiwa (حفظ النفس), memelihara akal (حفظ العقل), memelihara keturunan (حفظ النسل) dan menjaga harta (حفظ المال). Di situ yang pertama adalah menjaga agama. Semoga bisa difahami.

Berbeda dengan bila orang yang harus dihormati itu melakukan maksiat pribadi (tidak mencontohi untuk agar orang2 bermaksiat), maka tentunya untuk menasihatinya harus secara pribadi. karena umum tidak terjerumuskan oleh perbuatannya.

Semoga bisa difahami.

Hartono Ahmad Jaiz

***

Yang dibahas itu adalah artikel ini:

Sayang, Pidato Anies Baswedan Dibuka dengan Salam Oplosan Rawan Kemusyrikan

Posted on 19 Oktober 2017 – by Nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/sayang-pidato-anies-baswedan-dibuka-dengan-salam-oplosan-rawan-kemusyrikan/

(nahimunkar.org)