Masalah Tempat Kencing di Lingkungan Masjid2 di Indonesia, Kenapa Tidak Berpintu? Beda Jauh dengan di Masjid Haram Makkah dan Madinah


Ilustrasi. Mereka sedang antri di Toilet untuk lelaki di Masjidil Haram Makkah. Semua berpintu rapi. Foto/ ytb

  • Para pengurus masjid hendaknya berhati-hati soal najis kencing. Tidak boleh diam membiarkan tempat-tempat kencing di lingkungan masjid kurang memenuhi syarat untuk menghindari cipratan najis kencing.
  • Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan dimintai tanggung jawabnya, bagaimana di Indonesia masih banyak tempat kencing di lingkungan masjid2 di Indonesia yang kamar2 kecilnya (tempat kencingnya) jauh dari persyaratan hingga sulit untuk melaksanakan adab buang air kecil secara Islam.

Rasanya risih bila melihat tempat-tempat kencing di lingkungan masjid-masjid di Indonesia, banyak yang tidak berpintu, di kamar2 kecil untuk lelaki, tidak tertutup oleh pintu hingga orangnya tetap tampak, hanya ada sekat sekadarnya atau bahkan tidak pakai sekat. Itu sama sekali tidak memenuhi syarat untuk melaksanakan adab buang air kecil secara Islam. Sebab seharusnya orang yang sedang buang hajat itu tidak tampak.

Keadaan itu beda jauh dengan tempat2 kencing di lingkungan Masjidil Haram Makkah dan Madinah yang semuanya berpintu tiap kamarnya. Ratusan kamar kecil (tempat kencing sekaligus wc) yang berderet-deret, semuanya/ masing-masing berpintu. Sehingga tiap orang yang lagi buang hajat (besar maupun kecil) dalam keadaan tertutup, aman, tidak tampak. Bisa melepas pakaian lalu disangkutkan di gantungan, dan lebih bisa menjaga diri dari cipratan najis.

Sebaliknya, ketika tempat kencing itu tidak tertutup, di sisi kanan kiri kita juga ada orang-orang yang sedang kencing, maka sama sekali tidak ada perasaan bebas. Dan itu sama sekali tidak sesuai dengan tuntunan Islam. (lihat: Adab Buang Air Kecil… di bagian bawah).

Di samping itu, kemungkinan cipratan2 najis kencing agak sulit dihindari. Padahal cipratan najis kencing itu berdampak buruk dalam hal keabsahan ibadah (terutama) shalat, yang di antara syarat sahnya shalat adalah suci dari najis. Jadi memungkinkan sekali untuk tidak sahnya shalat bila memang terciprati najis kencing akibat tempat kencing yang seperti itu. Maka seharusnya setiap pengurus masjid berhati-hati, jangan sampai penyediaan sarana yang dalam hal ini berupa tempat kencing menjuruskan para jamaah untuk shalatnya kurang sempurna atau bahkan tidak sah.

Itu tanggung jawab besar, wahai saudara-saudaraku terutama para pengurus masjid2 di Indonesia.

Di samping itu, keadaan macam itu sama dengan kurang mendidik para jamaah untuk menjaga diri benar2 dari cipratan najis kencing setiap harinya. Ini fatal pula akibatnya. Karena jelas ada ancamannya dalam hadits.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ فِي الْبَوْلِ

Kebanyakan sebab siksa kubur adalah kerena kencing. (HR. Ahmad 8331 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Adanya ancaman adzab kubur, menunjukkan bahwa pelanggaran semacam ini termasuk dosa besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati salah satu sudut kota Mekah atau Madinah. Kemudian beliau mendengar ada dua penghuni kubur yang di siksa. Kemudian beliau bersabda,

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Mereka berdua disiksa. Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar. Yang pertama disiksa karena tidak hati-hati ketika kencing, yang kedua disiksa karena suka menyebarkan adu domba. (HR. Bukhari 216).

Referensi: https://konsultasisyariah.com/17672-adab-buang-air-kecil-yang-sering-dilupakan.html

Untuk melengkapi pembahasan masalah ini, mari kita simak tanya jawab soal Adab Buang Air Kecil yang Sering Dilupakan. Ini penting bagi setiap Muslim terutama para pengurus masjid di Indonesia (bahkan dunia), karena akan ditanyakan pertanggung jawabannya di akherat kelak.

***

Adab Buang Air Kecil yang Sering Dilupakan

By

 Ammi Nur Baits

20117



Adab Buang Air Kecil

Pertanyaan:

Assalammualaikum pak ustad, saya pernah membaca hadis bahwa ada sesorang yang disiksa di neraka karena tidak menjaga diri dari percikan air kencing.Yang saya ingin tanyakan bagaimana adab buang air kecil yang baik dan benar menurut tuntunan Nabi  Muhammad?

Sekian, terima kasih

Wassalam

Dari: Heru Prasetyo

Jawaban:

Wa’alaikumus salam
Ada beberapa adab buang air kecil yang sering dilupakan,

Pertama, tidak menutup aurat dengan sempurna

Contoh yang paling mudah untuk kasus ini adalah kencing di urinoir. Beberapa toilet, urinoir dipasang terbuka dan tidak diberi sekat. Kondisi ini sangat memungkinkan orang yang buang air kecil terlihat auratnya oleh temannya yang lain. Hampir mirip dengan para supir yang kencing di ban mobil.

Bagi yang punya kebiasaan kencing di tempat semacam ini, perhatikanlah hadis berikut,

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

“Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak menunaikan hajatnya sampai beliau pergi ke tempat yang tidak kelihatan.” (HR. Ibnu Majah 335, Ad-Darimi 17, dan dinilai sahih oleh al-Albani)

Kedua, tidak hati-hati terhadap najis

Tidak cebok, tidak menyiram air kencing, tidak hati-hati dengan cipratan ketika kencing, semuanya termasuk pelanggaran yang bernilai dosa besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati salah satu sudut kota Mekah atau Madinah. Kemudian beliau mendengar ada dua penghuni kubur yang di siksa. Kemudian beliau bersabda,

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Mereka berdua disiksa. Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar. Yang pertama disiksa karena tidak hati-hati ketika kencing, yang kedua disiksa karena suka menyebarkan adu domba. (HR. Bukhari 216).

Hal ini sering kali dianggap sepele, padahal pelanggaran ini merupakan sebab terbanyak yang menjerumuskan orang untuk mendapatkan siksa kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ فِي الْبَوْلِ

Kebanyakan sebab siksa kubur adalah kerena kencing. (HR. Ahmad 8331 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Adanya ancaman adzab kubur, menunjukkan bahwa pelanggaran semacam ini termasuk dosa besar.

Ketiga, tidak menghindari arah kiblat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian buang hajat, janganlah menghadap atau membelakangi kiblat. Namun menghadaplah ke timur atau ke barat.” (HR. Bukhari 394 dan Muslim 264).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan, ‘menghadaplah ke timur atau ke barat’, karena arah kiblat Madinah adalah ke arah selatan.

Apakah ini termasuk buang air yang dilakukan di dalam ruangan?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. ada yang mengatakan larangan ini berlaku umum, baik di dalam maupun di tempat terbuka dan ada yang mengatakan, hadis ini hanya berlaku untuk buang air di tempat terbuka. Apapun itu, selama masih memungkinkan bagi kita untuk menghindari arah kiblat, sebaiknya tidak menghadap atau membelakangi kiblat, meskipun kita buang air di dalam bangunan.

Keempat, tidak membaca basamalah ketika membuka aurat

Awali dengan membaca basamalah ketika hendak membuka aurat atau ketika hendak masuk kamar mandi. Karena ini menjadi pemisah antara aurat anda dengan penglihatan jin.

Dari Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah“. (HR. Tirmidzi no. 606 dan dishahihkan Al-Albani)

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)/
https://konsultasisyariah.com/

***

Demikianlah. Semoga para pengurus masjid-masjid di Indonesia (bahkan Dewan Masjid Inonesia-DMI) benar-benar memperhatikan masalah berbahaya di sebagian masjid di Indonesia mengenai tempat kencing di lingkungan masjid yang telah dibahas tersebut.

Dan bagi Umat Islam pada umumnya, mari kita sangat berhati-hati terhadap cipratan najis kencing, yang ternyata ada ancamannya yang cukup berat.

Semoga Allah merahmati hamba-hambaNya yang berupaya menyucikan diri dari najis di antaranya cipratan najis kencing, dan kotoran2 lain baik lahir maupun batin. Sehingga menjumpai Allah Ta’ala kelak dalam keadaan mendapatkan ridho dan ampunanNya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

(nahimunkar.org)