Aneh Tenan! Tokoh NU Pengubah Syariat Haji dan Zakat Masuk Daftar Calon Anggota BAZNAS

Inilah berita yang mungkin menambah sakit hati umat Islam.

***

Kiai Masdar, 1 dari 8 Calon Anggota Baznas Pilihan Presiden

Selasa, 23/06/2015 13:01

Jakarta, NU Online
KH Masdar Farid Mas’udiRais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi menjadi salah satu dari delapan (8) calon anggota Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) periode 2015-2019 yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Seperti dirilis situs Kementerian Agama, Selasa (23/6), kedelapan nama tersebut berasal dari unsur masyarakat, mulai dari mantan menteri, tokoh ormas, praktisi zakat hingga da’i.

Selain Masdar Farid Mas’udi, tujuh nama lainnya adalah mantan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo, Mantan Direktur Utama Bank Muamalat Zainulbahar Noor, Mantan Inspektur Jenderal Kementerian Agama Mundzir Suparta, Ketua Umum Ikatan Da’I Indonesia Ahmad Satori Ismail, Praktisi Perbankan Syariah Emmy Hamidiyah, Aktivis Muhammadiyah Irsyadul Halim, dan Praktisi Zakat Nana Mintarti.

Sebelum disetujui sebagai anggota Baznas, Komisi VIII DPR akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap delapan nama tersebut. Terkait hal itu, Komisi VIII dalam siarannya meminta kepada masyarakat untuk  memberikan saran dan masukan tertulis terkait delapan nama yang diajukan oleh Presiden sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban publik.

Saran dan pandangan dari masyarakat bisa dilayangkan kepada Sekretariat Komisi VIII DPR RI, dengan alamat Gedung Nusantara II, Lantai 2, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta 10270.

Sebagai catatan, Baznas merupakan badan resmi yang dibentuk pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2001. Baznas memiliki tugas dan fungsi menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) pada tingkat nasional.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan Baznas sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama. (Red: Anam) .nu.or.id

***

Sebelumnya, telah diberitakan sebagai berikut.

***

Aneh Tenan! Tokoh NU Pengubah Syariat Haji dan Zakat Masuk Daftar Calon Anggota BAZNAS

Posted on Nov 28th, 2014

by nahimunkar.com

Setelah sukses diangkat jadi anggota Amirul Hajj Indonesia pada Musim Haji 1434 H//2013 M, tokoh NU Masdar Farid Mas’udi kini masuk daftar anggota badan amil zakat nasional (BAZNAS) yang gedungnya di Kementerian Agama.

Aneh, tokoh liberal ini jelas-jelas telah menyuarakan untuk diubahnya syariat tentang waktu ibadah haji. Dia katakan, ayat Al-Qur’an jangan dikorbankan oleh hadits. Maksudnya, ayat al-hajju asyhurun ma’lumat, ibadah haji itu pada bulan-bulan tertentu (dari syawal sampai dengan Dzulhijjah) jangan dikorbankan oleh hadits al-hajju ‘arafah (haji itu wuquf di Arafah –pada hari Arafah/ 9 Dzulhijjah). Sehingga Masdar melontarkan ide agar waktunya diubah.

Astaghfirulah, kalau diubah sekemauan dia, maka wuquf tidak mesti  tanggal 9 Dzulhijjah. Pendapat aneh itu pun dibantah banyak orang, walau dia ketika menulisnya di media massa mengatasnamakan dirinya sebagai anggota MUI. (Belakangan dia tidak jadi lagi di MUI).

Anehnya, kemudian Masdar yang pentolan liberal dari jajaran pengurus NU ini justru diangkat oleh kementerian agama sebagai anggota Amirul Hajj Indonesia  pada Musim Haji 1434 H//2013 M.

Lebih dari itu, Masdar juga menyamakan pajak dengan zakat, sehingga kalau sudah bayar pajak maka tidak usah bayar zakat, begitu kurang lebihnya. Maka ada yang menyebutnya sebagai tokoh liberal anti syariat zakat. Namun anehnya pula, kini dia Masuk Daftar Calon Anggota BAZNAS.

Ini sangat mengkhawatirkan umat Islam. Karena jauh-jauh hari sejak awal Islam, Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam telah wanti-wanti.

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84  ).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianati, dan saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh namun dia membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036, Ahmad No. 7912, Al-Bazzar No. 2740 , Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin No. 47, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 8439, dengan lafaz: “Ar Rajulut Taafih yatakallamu fi Amril ‘aammah – Seorang laki-laki bodoh yang membicarakan urusan orang banyak.” Imam Al-Hakim mengatakan: “Isnadnya shahih tapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Imam Adz-Dzahabi juga menshahihkan dalam At-Talkhis-nya, sebagaimana dikutip situs dakwatuna)

Keanehan tokoh liberal anti zakat tapi Masuk Daftar Calon Anggota BAZNAS ini menjadi berita ramai, bahkan ada ajakan menolak Masdar.

Inilah beritanya.

***

 Tokoh Liberal Anti Zakat Masuk Daftar Calon Anggota BAZNAS

(Arrahmah.com) – Seleksi terbuka calon anggota Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Masa Kerja 2015-2020 diikuti oleh para ahli dan kaum profesional yang memiliki latar belakang berbagai disiplin keilmuan dan bidang pekerjaan. Seleksi awal dilaksanakan di hotel Jayakarta, Jakarta, Senin (17/11/2014).

Seleksi dilakukan beberapa tahap dan saat ini sudah sampai pada seleksi Kapabilitas dan Kompetensi Tahap II. Beberapa nama yang cukup dikenal lolos dalam proses seleksi ini. Di antara mereka adalah Bambang Sudibyo (mantan Menteri Keuangan), Zainul Bahar Noor (mantan Dirut Bank Muamalat Indonesia), Amirsyah Tambunan (tokoh MUI), Ahmad Satori Islamil (tokoh mubaligh nasional) serta beberapa profesional di bidang perzakatan, seperti Ahmad Juwaini, Emmy Hamidiyah dan Teten Kustiawan.

Melihat nama-nama tokoh senior dan berpengalaman tersebut, umat Islam tentu optimis akan perkembangan dan kemajuan dari BAZNAZ. Selama ini BAZNAS sudah memainkan peran dan fungsi yang cukup signifikan di tengah-tengah umat. Namun ternyata di antara 22 nama calon anggota yang lolos seleksi, ada nama Masdar Farid Mas’udi (salah satu Rais Syuriyah PBNU). Masdar Mas’udi adalah Direktur P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) yang pernah melontarkan ide tentang peninjauan ulang waktu ibadah haji.

Ingin Mengganti Zakat

Salah satu ide nyeleneh Masdar terkait dengan zakat adalah anggapannya bahwa zakat pada zaman Nabi adalah pajak. Dalam bukunya yang berjudul “Zakat itu Pajak” Masdar menegaskan perlunya melakukan “integrasi” antara konsep zakat dengan pajak. Akan tetapi, dengan penyatuan pajak dan zakat tersebut, Masdar menyarankan agar masyarakat dalam membayar pajak dengan niat sebagai zakat sehingga kedua konsep tersebut menyatu. Dan pada akhirnya Masdar lebih memilih untuk menguatkan pajak dan menyarankan umat Islam untuk menunaikan ‘ibadah’ pajak dengan niat berzakat. Secara implisit Masdar ingin menegaskan bahwa secara esensial kewajiban zakat bisa ditunaikan dengan membayar pajak.

Meskipun dasar pemikiran integrasi pajak dan zakat adalah wacana umum yang ada di dunia perzakatan, ide mengganti zakat dengan pajak adalah ide berbahaya yang menyelisihi syariat. Skema integrasi Pajak-Zakat pun sudah dimaklumi oleh para aktivis perzakatan. Mulai dari (1) zakat pengurang pendapatan kena pajak, (2) zakat sebagai pengurang langsung pajak, sampai (3) zakat sebagai pengganti pajak. Dalam perspektif zakat, pengoptimalan zakat dan instrument fiskal halal lainnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan menguatkan perekonomian. Tulisan terbaru Irfan Syauqi Beik (Staf Ahli BAZNAS) dalam jurnal Iqtishadia di harian Republika pada Kamis (27/11) menunjukan bahwa kementrian sosial negara Arab Saudi bahkan bisa mengentaskan kemiskinan dengan dana zakat.

Menurut Muchamad Ridho, pada Kamis (27/11), zakat memang diakui sebagai instrument fiskal dalam konsep negara Islam. “Akan tetapi ada perbedaan epistemologis antara syariat ibadah zakat dengan teori perpajakan,” jelas Ridho yang merupakan Sekjen Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia). Bagi Ridho yang telah menulis Tesis S2-nya tentang mustahik zakat, melebur zakat ke dalam pajak adalah penyimpangan berpikir yang harus diluruskan.

Ajakan Menolak Masdar

Kontroversi keberadaan Masdar F. Mas’udi pada posisi calon Anggota BAZNAS rupanya telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Paling tidak hal ini nampak dari beredarnya pesan berantai/broadcast melalui sosial media tentang hal ini. Redaksi telah menerima pesan berupa ajakan untuk menanggapi persoalan ini. Berikut ini adalah pesan yang sudah beredar di Facebook maupun Whatsapp dan Telegram.

[MENDESAK] #SaveZakat

KH Masdar F. Mas’udi adalah Tokoh Senior Nahdatul Ulama kontroversial yang pernah mengeluarkan gagasan tentang perubahan waktu wukuf di Arafah. Tidak heran memang jika Masdar pernah aktif di Jaringan Islam Liberal. Herannya, tidak lama setelah itu, beliau menjadi anggota Amirul Hajj pada tahun 2013.

KH Masdar juga menulis buku kontroversial yang menyamakan antara zakat dan pajak. Menurut beliau, zakat adalah pajak pada zaman Rasulullah. Sampai-sampai ada tokoh nasional yang menyatakan bahwa dirinya selalu berniat menunaikan zakat ketika membayar pajak. Tentu saja Dirjen Pajak sumringah dan menggadang-gadang pendapat sangat PRO-PAJAK ini. Tapi herannya, saat ini Masdar malah masuk dalam CALON ANGGOTA (dan juga berpeluang jadi Ketua Umum) BAZNAS.

Oleh karena itu, luangkanlah waktu 5 menit untuk mengirimkan komentar dan tanggapan terkait calon-calon ANGGOTA BAZNAS ke Panitia Seleksi BAZNAS KEMENAG.

Kepada masyarakat dipersilahkan untuk memberikan tangapan secara tertulis dengan menyertakan identitas diri lengkap mulai tanggal 24-28 November 2014, ditujukan kepada Ketua Tim Seleksi d/a Kementerian Agama RI, Lantai 9, Jl. M.H. Thamrin No. 6, Jakarta 10340, Fax: (+6221) 3920516, e-mail: timselbaznas@kemenag.go.id

#SaveZakat

*Bantu sebar ya…

Meskipun pesan tersebut hanya ajakan untuk menanggapi, tetapi ada nuansa penolakan dan kekhawatiran masyarakat. Apakah Anda termasuk yang khawatir? Silahkan kirim tanggapan tertulis melalui e-mail resmi panitia seleksi anggota BAZNAS: timselbaznas@kemenag.go.id sebelum (besok) tanggal 28 November 2014.

(banan/arrahmah.comBanan Kamis, 5 Safar 1436 H / 27 November 2014 18:40

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.381 kali, 1 untuk hari ini)