ILUSTRASI. Kondisi pasca tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan/ foto antara/kontan


Bila masih adakan pesta perayaan tahun baru berarti mata hati kita telah tumpul

Malam tahun baru 2005 tidak diadakan perayaan. Kala itu baru saja terjadi tsunami di Aceh, 26 Desember 2004.

Saat ini baru saja terjadi pula tsunami di Banten, dan selanjutnya dalam kondisi siaga atas bahaya anak gunung Krakatau.

Bencana tsunami telah menghancurkan pertunjukan music hura-hura di pantai Tanjung Lesung Anyer Banten. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 21.27 WIB. Ratusan korban meninggal dan banyak pula yang luka-luka. Bangunan Gedung, rumah dan lainnya ambruk atau rusak parah.

Gunung anak Krakatau pun dikabarkan dalam kondisi siaga. Radius satu kilometer dari pantai, penduduknya sudah diungsikan ke bukit-bukit, menyusul 28.000 pengungsi akibat tsunami.

Bencana-bencana telah terjadi dan masih mengintai di berbagai tempat.

Hendaknya kita menyadari dosa-dosa yang telah diperbuat, hingga bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Karena ketahuilah dan sadarilah, bencana itu tidak Allah timpakan kecuali karena kezaliman manusia, dosa-dosa, maksiat, dan merajalelanya music.

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah. Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka’.”

Orang ini bertanya lagi, “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”

Beliau menjawab,

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir.”  (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87–88)

Hal yang semisal juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau bersabda,

إِذَا اتُّخِذَ الفَيْءُ دُوَلاً، وَالأَمَانَةُ مَغْنَمًا، وَالزَّكَاةُ مَغْرَمًا، وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الدِّينِ، وَأَطَاعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ، وَعَقَّ أُمَّهُ، وَأَدْنَى صَدِيقَهُ، وَأَقْصَى أَبَاهُ، وَظَهَرَتِ الأَصْوَاتُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَسَادَ القَبِيلَةَ فَاسِقُهُمْ، وَكَانَ زَعِيمُ القَوْمِ أَرْذَلَهُمْ، وَأُكْرِمَ الرَّجُلُ مَخَافَةَ شَرِّهِ، وَظَهَرَتِ القَيْنَاتُ وَالمَعَازِفُ، وَشُرِبَتِ الخُمُورُ، وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلَهَا، فَلْيَرْتَقِبُوا عِنْدَ ذَلِكَ رِيحًا حَمْرَاءَ، وَزَلْزَلَةً وَخَسْفًا وَمَسْخًا وَقَذْفًا وَآيَاتٍ تَتَابَعُ كَنِظَامٍ بَالٍ قُطِعَ سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ.

وَفِي البَابِ عَنْ عَلِيٍّ,.

وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الوَجْهِ.

 “Jika harta rampasan perang dijadikan kas negara (tidak lagi diberikan kepada orang yang ikut perang), amanah dijadikan rebutan, jatah zakat dikurangi, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki taat kepada wanita dan memperbudak ibunya, orang lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, banyak teriakan di masjid, yang memimpin kabilah adalah orang yang bejat (fasik), yang memimpin masyarakat orang yang rendah (agamanya), orang dimuliakan karena ditakuti pengaruh buruknya, para penyanyi wanita tampil di permukaan, khamr diminum, dan generasi terakhir melaknat generasi pertama (sahabat), maka bersiaplah ketika itu dengan adanya angin merah, gempa bumi, manusia ditenggelamkan, manusia diganti wajahnya, dilempari batu dari atas, dan berbagai tanda kekuasaan Allah (musibah) yang terus-menerus, seperti ikatan biji manik-manik yang putus talinya, maka biji ini akan lepas satu-persatu.” (HR. Turmudzi, beliau mengatakan: Terdapat hadis semisal dari Ali, hadis ini gharib, tidak kami jumpai kecuali dari jalur ini)

Bukan Hanya Fenomena Alam!!

Sebagian orang tidak menerima pernyataan gempa sebagai peringatan dari Allah. Mereka beranggapan bahwa gempa sama sekali tidak memiliki kaitan dengan perbuatan dan maksiat manusia. Kejadian gempa itu murni fenomena alam, bukan hukuman tuhan. Beristigfar, bukanlah solusi yang tepat dalam hal ini.

Jawaban pernyataan ini, sesungguhnya Allah menjelaskan bahwa gempa bumi, statusnya sama dengan fenomena alam yang lain. Allah ciptakan fenomena semacam ini untuk menakut-nakuti hamba-Nya, agar mereka meninggalkan dosa dan kembali kepada Penciptanya.

Pengetahuan kita tentang sebab gempa tidaklah menihilkan bahwa itu merupakan bagian takdir Allah untuk hamba-Nya disebabkan dosa mereka. Sehingga maksiat inilah yang menjadi pemicu sebab. Ketika Allah menghendaki sesuatu, Allah ciptakan sebabnya dan Allah wujudkan akibatnya. Sebagaimana yang Allah nyatakan,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16)

***

Bila masih adakan pesta perayaan tahun baru berarti mata hatinya telah tumpul

Dalam kondisi dan situasi yang telah diperingatkan oleh Allah Ta’ala seperti itu, kemudian Umat Islam bahkan tokoh dan pemimpin masih tega hura-hura, nanggap pentas music, hamburkan harta untuk pesta penyambutan dan perayaan dewa kemusyrikan yang disebut perayaan tahun baru; maka dapat dinilai bahwa itu mata hatinya telah tumpul. (Kemusyrikan! Merayakan Tahun Baru Itu untuk Dewa Janus). Menirukan perayaan kemusyrikan, menghamburkn harta, hura-hura, menjauhkan diri dan melupakan sang pencipta yakni Allah Sbahanahu wa Ta’ala.

Mari kita renungkan kembali, ancaman dahsyat lewat ayat tersebut  yakni:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16), ditambah dengan kenyataan terjadinya bencana-bencana, bila masih belum-blum juga menyadarkan hati kita, maka betapa kita ini sungguh ‘tidak tahu diri’.

Kemungkinan masih agak mending tahun baru 2005 yang lalu, sejenak manusia sadar, hingga tidak diselenggarakan perayaan malam tahun baru 2005. Karena baru saja saat itu terjadi peristiwa Gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh 26 Desember 2004.

Bila tahun baru  2019 ini kita bahkan para pemimpin justru memimpin perayaan tahun baru (dikabarkan Jokowi mau merayakan malam tahun baru di Bogor?), padahal baru saja juga terjadi tsunami, dan para pengungsinya masih mengungsi bahkan bertambah karena ancaman bencana anak gunung Krakatau di Selat Sunda; maka itu benar-benar merupakan bentuk ketidak pedulian terhadap nasib para penderita bencana, sekaligus ‘budeg buta’ (maaf) terhadap ayat suci maupun ayat kauni (bukti yang ada dalam alam nyata).

Semoga kita jadi manusia-manusia yang menyadari kelemahan dan banyak dosa, hingga mau bertobat, dan tidak jadi orang yang menentang ayat suci dan ayat kauni yang sudah jelas-jelas dapat dirasakan secara nyata di dunia ini. Belum pula balasan di akherat kelak yang sifatnya pasti, dan kita sama sekali tidak dapat mengelak.

Hartono Ahmad Jaiz

 (nahimunkar.org)

(Dibaca 155 kali, 1 untuk hari ini)