Raja Saudi Arabia, Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dikabarkan telah melakukan intervensi secara pribadi terhadap pejabat tinggi AS untuk memastikan pembukaan kembali Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Menurut sebuah laporan di portal online Elaph, Raja Salman berbicara dengan pejabat tinggi AS dan meminta Masjid tersebut dibuka kembali.

Laporan tersebut dikutip dari seorang sumber terpercaya, yang mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji kepada pejabat AS bahwa dia telah memutuskan untuk mengembalikan status quo pada masjid tersebut, dimana umat Muslim diseluruh dunia dan penduduk Yerusalem menuntut Al-Aqsa kembali dibuka.

Kabinet Saudi menyampaikan keprihatinan mendalam atas penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Otoritas Penjajah Israel. “Ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap sentimen Muslim di seluruh dunia,” kata Kabinet Saudi.

Kabinet Saudi mengatakan tindakan tersebut sangat berbahaya, yang akan menyulitkan situasi di wilayah Palestina. Raja Salman memimpin sidang kabinet pada hari Senin (17/07) di Istana Al-Salaam di Jeddah.

Kabinet meminta masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawabnya dan mengakhiri praktik semacam itu dari Israel. Warga Muslim melakukan demonstrasi di luar setelah pihak berwenang Israel memasang detektor logam di pintu masuk ke kompleks tersebut. Warga Palestina melihat langkah-langkah keamanan baru saat Israel menegaskan penguasaan lebih lanjut atas tempat suci tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengambil keputusan untuk memasang detektor logam dan kamera pemantau, serta petugas keamanan pada Sabtu (15/07), setelah terjadi penyerangan oleh orang yang tidak dikenal terhadap polisi Israel.

Lembaga Otoritas Islam, Waqf dari Yordania yang mengelola urusan keagamaan di lokasi tersebut sangat marah atas penggunaan detektor logam. Waqf bersama dengan kelompok Islam lainnya, mengeluarkan sebuah pernyataan pada Senin (17/07) yang meminta umat Islam untuk menolak dan memboikot semua tindakan agresi Israel, termasuk mengubah status quo historis termasuk menjatuhkan detektor logam.

Lembaga tersebut meminta umat Islam untuk tidak masuk ke dalam masjid melalui detektor. Lembaga tersebut juga mengatakan bahwa jika detektor logam terus diberlakukan, lembaga tersebut meminta orang-orang untuk berdoa di depan gerbang masjid dan di jalan-jalan Yerusalem.

Sebagian besar Kompleks Haram Al-Sharif terlihat kosong pada hari Senin. Disisi lain, wisatawan dan pengunjung Yahudi, bersama Warga Muslim berdoa serta memprotes kebijakan tersebut di luar lokasi, ketimbang memasuki komplek tersebut melalui detektor logam. Ratusan orang terlihat berdoa di luar dua pintu masuk yang berbeda ke lokasi sekitar tengah kompleks.

Beberapa orang melakukan protes usai sholat dan berteriak: “Masjid Aqsa, kami (akan) mengorbankan jiwa dan darah kami. (untukmu)”. Polisi Israel terlihat berusaha memindahkan kerumunan massa.

“Kami tidak akan menghancurkan solidaritas rakyat,” ujar Jamal Abdallah, seorang Warga Palestina yang sekarang tinggal di negara bagian Arizona, Amerika Serikat dan berencana untuk mengunjungi Al-Aqsa, namun berubah pikiran saat diberitahu mengenai situasi tersebut.

Raja Salman mengutuk tindakan tersebut dan meminta Netanyahu untuk membuka kembali kompleks Al-Aqsha dan menekankan perlunya menghindari peningkatan keamanan di lokasi tersebut. Presiden Palestina, Mahmud Abbas, menyampaikan pesan serupa kepada Netanyahu saat keduanya berbicara melalui telepon pada hari Jumat (15/07) usai serangan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal tersebut. (LIY/MTD)

Sumber : ARABNEWS / moslemtoday.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.623 kali, 1 untuk hari ini)