Pemerintah terkesan mengaburkan kasus kekerasan yang dilakukan jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap umat Islam di Tolikara, Papua.

Pengaburan fakta itu terjadi seputar penyerangan, pembakaran rumah, kios, hingga masjid umat Islam di Tolikara, Papua.

“Jelas-jelas terjadi pemaksaan dan kesewenang-wenangan yang berkaitan dengan agama dan peribadahan muslim yang sejatinya bebas menjalankan dan dilindungi undang-undang.”

Inilah Beritanya

 

***

 

Pemerintah Kaburkan Fakta Insiden Tolikara, Inilah Fakta Sebenarnya

Selasa, 21 Juli 2015 18:32 WIB

Tolikora

Foto-foto pembakaran rumah, kios, dan masjid saat Idul Fitri di Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (17/6/2015).

 

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pemerintah dituding mengaburkan fakta insiden Tolikara Papua. Penyerangan terhadap umat Islam saat melaksanakan shalat Idul Fitri di Tolikara terkesan dipandang sebagai masalah sepele.

Hal itu tergambar dari pernyataan beberapa pejabat pemerintah yang menyebutkan bahwa insiden Tolikara hanya dipicu masalah speaker. Bahkan, Kepala Staf Presiden Luhut Panjaitan menyebut, tidak ada masjid yang dibakar. Yang dibakar hanya kios-kios milik warga pendatang.

Padahal, 70 kios yang dibakar massa merupakan milik warga yang sudah belasan tahun tinggal di Tolikara. Kios-kios tersebut merupakan milik warga asal Sulawesi Selatan, Madura dan Jawa.

BACA: Ini Pengakuan Mengejutkan Keluarga Korban Kerusuhan Tolikara Papua

Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Athian Ali mengatakan, pemerintah terkesan mengaburkan kasus kekerasan yang dilakukan jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap umat Islam di Tolikara, Papua.

Athian Ali menambahkan, pengaburan fakta itu terjadi seputar penyerangan, pembakaran rumah, kios, hingga masjid umat Islam. Pembakaran itu, kata dia, seolah-seolah hanya perseteruan antar warga Tolikara.

“Pemerintah terkesan mengaburkan pokok persoalan yang terjadi, seolah-olah hal ini hanya merupakan persoalan perseteruan antar warga dengan mengabaikan fakta yang sebenarnya,” ujar Athian Ali, Selasa (21/7).

BACA: Selain di Bantul, Usaha Bakar Gereja Juga Terjadi di Purworejo

Fakta sebenarnya, kata Athian Ali adalah masalah sikap intoleransi yang ditunjukkan jemaat GIDI kepada umat Islam.

“Jelas-jelas terjadi pemaksaan dan kesewenang-wenangan yang berkaitan dengan agama dan peribadahan muslim yang sejatinya bebas menjalankan dan dilindungi undang-undang,” imbuhnya.

Athian Ali mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas insiden Tolikara Papua dengan objektif dan transparan, sesuai dengan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kata dia, pelaku yang menjadi aktor intelektual aksi ini harus segera diproses hukum.

BACA: Duh.. Bantul dan Maluku Mencekam, Brimob Tewas Dilempari Bom

Hal senada dikatakan Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPW KKSS) Papua, Mansur. Ia menyebutkan bahwa ada satu organisasi atau aliran yang seolah menjadi penguasa di daerah tersebut. Tidak ada tempat ibadah selain dari aliran organisasi tersebut, yakni Badan Gereja Injili di Indonesia (GIDI).

“Tiap Kamis, umat muslim dan nasrani yang beda dengan aliran itu eksodus ke Wamena. Di Wamena umat Islam tinggal sampai hari Jumat untuk shalat Jumat dan yang lain (agama lain)sampai hari Minggu karena mau kebaktian,” ujar Mansur seraya menambahkan, mayoritas korban insiden Tolikara Papua merupakan perantau asal Sulsel yang sudah belasan tahun tinggal di Tolikara Papua.

(one)

***

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.842 kali, 1 untuk hari ini)