Previous Post
Tweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on Facebook
Read on Mobile

Masjid Mahad Abu Darda, Masjid Yang Gak Ada Kotak Amalnya

.Oleh Siswo Kusyudhanto

Dalam sebuah kajian Ustadz Ali Ahmad berkisah soal berlomba-lomba meraih surga, beliau memberi contoh tentang Masjid Abu Darda Pekanbaru, beliau mengatakan,

” antum tau di Pekanbaru ada namanya Masjid Abu Darda, masjid ini sangat indah, semua bahan bangunannya dari bahan yang terbaik saat ini, hampir semua bagian bangunannya ditutupi marmer terbaik. Ruang dalam masjid sangat nyaman untuk beramal ibadah karena dilengkapi dengan karpet yang tebal juga full AC. Untuk naik dari lantai satu ke lantai dua difasilitasi dengan tangga berjalan, pokoknya mewah ini masjid. Antum tau berapa biaya membangun masjid ini?, totalnya adalah 40 miliar rupiah, dan itu dibiayai oleh satu orang saja. Di masjid ini juga gak ada kotak amal, bahkan dilarang ada kotak amal di masjid ini, karena orang yang membangun masjid ini hanya ingin cuma dia yang memenuhi segala kebutuhan masjid. Inilah yang dimaksud dengan berlomba-lomba meraih surga, tidak mau kalah dengan orang lain soal pahala beramal ibadah, waallahua’lam. Seharusnya kita juga jangan mau kalah dengan orang lain soal meraih pahala dan kebaikan. “

Dalam masalah akhirat seharusnya seseorang berlomba untuk menjadi yang terdepan. Inilah yang diisyaratkan dalam sebuah ayat,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26).

Artinya, untuk meraih berbagai nikmat di surga, seharusnya setiap orang berlomba-lomba meraihnya.

——–
Satu catatan penting, pendonor utama masjid ini tinggal dirumah yang kecil ukurannya, mungkin type rumah 45, dan jarang tampil menonjol dipublik, semoga menjadi teladan kita semua dalam perkara tawadhu’, aamiin.

via Sunnah Diaries

Via Fb Pustaka Sunnah

***

Aqidah Ulama Syafi’iyyah dari Zaman ke Zaman (Syaikh Abdurrazzaq Daurah di Pekanbaru 2017)

Cuplikan Faedah Daurah Syaikh ‘Abdurazzaq Bin Abdul Muhsin Hafidzahullah Bag Ke-2

Kitab Syarah Sunnah karya Al Imam Abu Ibrahim, Isma’il bin Yahya Al Muzani rahimahullah.
Edisi Sabtu 21 Jumadil Awwal 1438 H/18 Februari 2017 M.

Masih melanjutkan muqadimah kitab syarhus Sunnah

[1] Aqidah Imam syafi’I rahimahullah dan para ulama lainnya adalah aqidah salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian juga yang dianut oleh murid murid beliau langsung atau murid dari murid beliau setelahnya dari setiap generasi ke generasi.

[2] Syaikh Abdurazzaq hafidzahullah menyebutkan beberapa nama para ulama Syafi’iyyah dari zaman ke zaman sebagi contoh bukan sebagai pembatasan, yang mereka semua adalah beraqidah sesuai dengan aqidahnya guru guru mereka secara sambung menyambung sampai kepada Imam As Syafi’I rahimahumullah.

[3] Nama nama murid As Syafi’I dan ulama Syafi’iyyah (yang bermadzhab Syafi’i) setelahnya yang dengan gigih menyebarkan aqidah ahlus sunnah waljama’ah, diantaranya :

[1] Al Imam Abu bakar Abdullah bin Az Zubair Al Humaidi (w 219 H), beliau seorang murid As Syafi’I yang terus bermulazamah dengannya sampai wafat, beliau menulis kitab aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dengan judul USHULUS SUNNAH.

[2] Al Imam Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al Qurasyi Al Buwaithi (w 231), beliau murid khusus Imam As Syafi’I, sampai sampai beliau mengatakan, “ Tidak ada seorangpun yang lebih berhak (duduk) di Majlisku dari Yusuf bin Yahya, dan tidak ada seorangpun diantara muridku yang lebih ‘alim darinya” (Manaqib As Syafi’I, karya Al Baihaqi 2/338), Imam Abu Ya’qub ini dikenal seorang yang bersih aqidahnya (dari penyimpangan) dan snagat menjauhi kebid’ahan dan ahlil bid’ah. Beliau disiksa dan wafat di penjara demi mempertahankan aqidah bahwa Al Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluq.

[3] Al Imam Isma’il bin Yahya Al Muzani (w 264) penulis kitab Syarhus Sunnah yang sedang kita kaji ini. Beliau murid terbaik Imam As Syafi’I sampai sampai sang Imam berkata, “Al Muzani adalah pembela Madzhabku”.

Sebuah tauladan dalam membaca kitab dari imam Al Muzani, beliau mengatakan, “Aku telah membaca kitab Ar Risalah karya As Syafi’I sebanyak 500 kali, dan tidaklah setiap kali aku membacanya kecuali akau mendapatkan faedah darinya dengan faedah yang baru yang tidak aku dapati sebelumnya” (Ta’liqah ‘ala Syarhis Sunnah, Syaikh Abdurazaaq hal. 29)

[4] Al Imam Ahmad bin ‘Umar bin Suraij (w 306 H), beliau punya rislah yang bagus dalam masalah aqidah sebagaimana di jelaskan oleh Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah didalam kitab Ijtima’ul Juyusy.

[5] Al Imam Muhammd bin Ishaq Ibnu Khuzaimah (w 312 H), penulis kitab At Tauhid, beliau berguru dan mengambil ilmu fiqih kepada Imam Al Muzani, akan tetapi walaupun demikian dengan ketawdhu’annya Imam Al Muzani mengatakan , Ibnu Khuzaimah lebih ‘alim dalam hadits daripada aku” (Thabaqat Al Fuqaha, As Syairozi hal. 106)

[6] Al Imam Abu Manshur Muhammad bin Ahmad Al Azhari (w 370 H), penulis kitab Tahdzibul Lughah.

[7] Al Imam Abu Bakar Ahmad Al Isma’ili Al Fqih As Syafi’I (w 371H), penulis kitab I’tiqad Aimmatul Hadits.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentangnya, “beliau (Al Isma’ili) seorang yang faqih, termasuk pembesar ulama syafi’I dalam fiqih, hadits dan mengarang kitab” (Thabaqatus Syafi’iyyin 1/305)

[8] Al Imam Ahmad bin Abi Thahir Al Isfaroini (w 406 H).

[9] Al Imam Abul Qasim Hibatullah Ar Razi Al Lalikai (w 418) kitab yang masyhur tentang aqidah karya beliau adalah Syarhu Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, dianggap sebagai kitab ensiklopedi dalam akidah.

[10] Al Imam Abul Qasim Sa’ad bin ‘Ali Az Zunjani (w 471) dll dari para ulama ulama syafi’iyyah yang dikenal lurusnya manhaj dan aqidah mereka seperti Imam Abul Mudzafar As Sam’ani, Imam Al Baghowi, Al Imam Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, Al maqrizi rahimahumullah Ajma’in.

[4] Dengan melihat bagaimana Imam As Syafi’I dan para murid muridnya serta penerusnya dari kalangan para ulama setiap zamannya, mereka diatas aqidah dan manhaj salafus shalih ahlus sunnah waljam’ah, kelirulah orang yang menisbatkan dirinya bermadzhab kepada Imam As Syafi’I dalam masalah fiqih sementara masalah aqidah dan prinsip agama kepada aqidah yang lain yang menyimpang dari ilmul kalam atau filsafat.

[5] Ada beberapa ulama besar dari kalangan ulama syafi’iyyah yang terpengaruh dengan aqidah yang menyimpang akan tetapi kemudian ruju’ kepada aqidah salaf ahlus sunnah, misalnya Imam Abu Hamid Al Ghozali, Abul Ma’ali Al Juwaini dan yang lainnya.

[6] Kelirunya pemahaman sesorang yang mengatakan saya madzhab fiqihnya syafi’I, beraqidah asy’ari (Dinisbatkan kepada Abul Hasan Al Asy’ari sebelum taubatnya) dan thariqatnya qadari (dinisbatkan kepada Abdul Qadir Jailani), maka yang benar adalah saya beraqidah dan berfikih serta bertahriqat ahlus sunnahwal jama’ah sebagimana yang dianut oleh Syafi’I dan yang lainnya.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ulama Syafi’iyyah sendiri, dianatarnya : Al Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdul Malik Al karji (w 532 H) berkata :

“Barang siapa (mengaku madzhab syafi’i) yang mengatakan aku bermadhab syafi’I dalam syari’at dan asy’ari dalam aqidah, kita katakan ini adalah kontradiksi bahkan kedustaan karena Syafi’I tidaklah beraqidah Asy’ari sama sekali, dan barang siapa yang mengatakan aku madzhab hanbali dalam masalah furu’ sementara dalam ushul berfaham mu’taziliy, kita katakan ini adalah kesesatan dari jalan yang lurus, karena imam Ahmad tidaklah berfaham mu’tazilah sama sekali..” (Naqdul Manthiq, hal. 143).

Jami’ Abud Darda, Pekanbaru
Abu Ghozie As Sundawie

Sumber Dari: kumpulankonsultasi.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.142 kali, 1 untuk hari ini)
Next Post

Related Post

Aqidah Ulama Syafi’iyyah dari Zaman ke Zaman (Syaikh Abdurrazzaq Daurah di Pekanbaru 2017)
Cuplikan Faedah Daurah Syaikh ‘Abdurazzaq Bin Abdul Muhsin Hafidzahullah Bag Ke-2 Kitab Syarah Sunnah karya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *